Banjir yang melanda Kabupaten Subang hingga Senin (26/01/2026) malam belum kunjung surut, warga terdampak banjir terpaksa bertahan di sejumlah tempat pengungsian, salah satunya di bawah jembatan Layang Jalur Pantura Subang.
Ratusan korban banjir memenuhi area bawah jembatan layang dengan penuh sesak, tikar berjejer dengan tumpukkam baju yang dibawa. Selain orang dewasa, anak-anak dan lansia pun turut tidur di bawah jembatan layang itu.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Dodi salah satu pengungsi, ia menyebutkan belum bisa kembali ke rumah lantaran rumahnya masih terendam dengan ketinggian air mencapai 1 meter. Ia dan keluarga sudah berada di bawah jembatan untuk mengungsi sejak pagi.
“Enggak bisa pulang karena airnya (banjir) belum surut, jadi bertahan di sini sejak pagi,” ujar Dodi diteumi di bawah jembatan bersama warga lain, Senin (26/01/20206).
Dodi hanya membawa pakaian seadanya karena belum sempat membawa harta bendanya, jangankan bantal, kasur pun ia tidak membawa, ia dan keluarga tidar hanya beralaskan tikar tipis tanpa selimut.
“Ya ini aja buat tidur tikar, enggak bawa kasur susah. Paling pake baju apa aja bantal atau selimutnya,” pungkasnya.
Sementara itu, Kapolres AKBP Dony Eko Wicaksono dan forkopimda Kabupaten Subang turun langsung memantau kondisi para pengungsi di bawah jembatan layang, ia juga memberikan bantuan 1.000 kantong beras SPHP, dan 1.000 dus mi instan kepada masyarakat Pamanukan dan sekitarnya yang terdampak bencana banjir.
“Bantuan disalurkan langsung kepada warga yang mengungsi di bawah fly over Pamanukan serta di Masjid Jami Hidayatul Jariyah, Dusun Kedung Gede, Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan,” ujar Dony.
Dony menegaskan Polri akan terus hadir di tengah masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan bencana alam, sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. “Kegiatan peninjauan dan pemberian bantuan berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif, serta mendapat apresiasi dari masyarakat terdampak,” imbuhnya.
