Kematian Massal Ikan di Waduk Jatiluhur Meluas hingga Tiga Kecamatan | Giok4D

Posted on

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Fenomena kematian massal ikan di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kian meluas. Selain di wilayah Kecamatan Jatiluhur, kondisi serupa kini melanda perairan di Kecamatan Sukatani dan Kecamatan Sukasari. Peristiwa ini dipicu cuaca buruk dan hujan terus-menerus yang membuat ikan mabuk lalu mati massal.

Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya Disnakan Kabupaten Purwakarta Anton Kushartono menjelaskan jumlah ikan yang mati terus bertambah seiring meluasnya titik terdampak di area Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur.

“Kalau jumlah kematian ikan belum bisa dipastikan karena potensi penambahan masih ada. Periode curah hujan tinggi ini diprediksi berlangsung dari November hingga Maret, jadi kami belum bisa memastikan angka pastinya,” ujar Anton, Senin (26/01/2026).

Disnakan Kabupaten Purwakarta mencatat total KJA di Waduk Jatiluhur mencapai sekitar 43 ribu petak. Fenomena ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi para pembudi daya ikan air tawar di wilayah tersebut.

“Hasil penelusuran tim di lapangan, wilayah terdampak meliputi Jatiluhur, Ubrug, Tanggul, Sukasari, hingga Sukatani. Kami belum bisa merinci jumlah KJA yang terdampak karena populasi eceng gondok juga berpengaruh. Bukan hanya di KJA, ikan liar di waduk juga ikut mati,” katanya.

Sementara itu, pantauan di Dermaga Serpis Desa Kembangkuning, Kecamatan Jatiluhur menunjukkan warga mulai berkerumun di tepi waduk. Mereka sengaja datang untuk membeli ikan-ikan yang mabuk dan dikumpulkan dari KJA.

Ina (36), warga Cinangka, mengaku datang ke Waduk Jatiluhur setelah mendengar kabar ikan mabuk dijual murah. Ikan yang biasanya dibanderol puluhan ribu rupiah, kini bisa ditebus hanya dengan harga Rp10.000 per kilogram.

“Sengaja ke sini karena dengar kabar ikan mabuk di Jatiluhur. Saya beli dua kilogram. Di sini cuma Rp10 ribu per kilo, jauh lebih murah dari pasar yang harganya Rp30 ribu,” ucap Ina.

Meski ikan tersebut terdampak fenomena kematian massal, Ina menilai kondisinya masih layak dikonsumsi. Ia berencana mengolah ikan-ikan tersebut menjadi masakan pesmol.

“Masih layak, masih bisa dibersihkan, warnanya juga masih merah. Tidak busuk,” pungkasnya.