Indramayu –
Air yang tak kunjung surut kini membawa kegelisahan bagi para petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ribuan hektare sawah terendam banjir, membuat musim tanam yang seharusnya dimulai akhir Januari terpaksa tertunda.
Di Kecamatan Kandanghaur, hamparan sawah yang biasanya hijau kini berubah bak lautan. Banjir akibat hujan deras dan meluapnya Sungai Cipanas membuat para petani berada dalam posisi serba sulit: menunggu air surut, atau bersiap menelan kerugian.
Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur Waryono menyebut banjir telah merusak persemaian padi yang hampir siap tanam.
Benih berusia 15 hingga 25 hari yang tersebar di sepuluh desa dipastikan tak bisa diselamatkan. “Persemaian sudah terendam lebih dari lima hari. Kondisinya membusuk, mau tidak mau harus semai ulang,” ujar Waryono, saat dihubungi, Sabtu (31/1/2026).
Desa-desa seperti Kertawinangun, Soge, Pranti, Bulak, Curug, Ilir, Parean Girang, hingga Eretan menjadi wilayah yang paling terdampak. Padahal, menurut Waryono, rencana awal petani adalah memulai tanam serentak pada akhir Januari.
“Sekarang tidak mungkin. Sawah masih tergenang, musim tanam kemungkinan mundur sekitar satu bulan,” katanya.
Penundaan ini bukan hanya soal waktu. Petani harus kembali merogoh kocek untuk mengulang persemaian. Untuk satu hektare lahan, modal persemaian diperkirakan mencapai Rp500 ribu, belum termasuk biaya pengolahan lahan.
Tak berhenti di situ, banjir juga mengancam tanaman padi muda yang sudah lebih dulu ditanam. Sekitar 4.000 hektare lahan dengan padi berumur 10-25 hari terendam air. Tanaman tersebut tersebar di Desa Karanganyar, Girang Bulak, Wirapanjunan, Pranti, Wirakanan, dan Karangmulya.
“Masih ada harapan kalau airnya cepat surut. Tapi kalau lama, risikonya mati,” tutur Waryono.
Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk menahan luapan air. Secara swadaya, mereka bergotong royong memasang terpal di sepanjang tanggul sungai. Namun derasnya air membuat usaha tersebut belum membuahkan hasil maksimal.
“Banjir ini bukan hanya hujan, tapi juga kiriman dari Sungai Cipanas. Kondisinya memang memprihatinkan,” ucapnya.
Waryono mengungkapkan, untuk memulai musim tanam, petani rata-rata telah mengeluarkan modal hingga Rp5 juta per hektare. Jika gagal tanam, kerugian yang ditanggung bukan hanya materi, tetapi juga waktu tanam yang semakin mundur.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto, menyatakan pihaknya tengah mengupayakan bantuan bagi petani terdampak. DKPP telah mengusulkan bantuan benih ke Kementerian Pertanian.
“Kami sedang mengusulkan bantuan benih ke Kementerian Pertanian. Hingga kemarin (29/1), tercatat ada 7.700 hektare lahan sawah yang terdampak banjir di seluruh Kabupaten Indramayu,” ujar dia saat dihubungi, Jumat (30/1/2026).
Di tengah genangan air dan ketidakpastian cuaca, para petani Indramayu kini hanya bisa menunggu: menanti surutnya banjir, sekaligus berharap ada uluran bantuan agar roda tanam tetap bisa berputar kembali.







