Asal-usul Nama Tasikmalaya, ‘Keusik Ngalayah’ Muntahan Galunggung | Giok4D

Posted on

Tasikmalaya

Tasikmalaya tak bisa dilepaskan dari bayang-bayang besar Gunung Galunggung. Gunung api aktif di Jawa Barat itu bukan hanya mencatat sejarah letusan dahsyat, tetapi juga diyakini menjadi latar lahirnya nama ‘Tasikmalaya’ yang dikenal hari ini.

Wilayah yang kini terbagi menjadi Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya tersebut memiliki jejak historis panjang, mulai dari kawasan suci pada masa Kerajaan Sunda, berdirinya Kerajaan Galunggung, hingga berubah menjadi Kabupaten Sukapura sebelum akhirnya dikenal sebagai Tasikmalaya.

Simak yuk, penelusuran asal-usul nama Tasikmalaya berdasarkan sejarah, naskah kuna, hingga catatan ilmiah modern.

Dari ‘Keusik Ngalayah’ ke Tasikmalaya

Salah satu versi paling populer menyebutkan bahwa nama Tasikmalaya berasal dari bahasa Sunda, yakni ‘keusik’ yang berarti pasir dan ‘ngalayah’ yang berarti bertebaran atau terhampar luas. Hamparan pasir ini diduga kuat adalah muntahan dari Galunggung pada letusan tahun 1822 M.

Letusan itu mengubah Sukapura (nama Tasimkalaya sebelumnya) menjadi telaga/hamparan pasir. Frasa ‘keusik ngalayah’ kemudian mengalami pergeseran pelafalan menjadi ‘Tasikmalaya’.

Mengutip artikel berjudul “Menelisik Asal-usul Nama Tasikmalaya”, pengamat vulkanologi Heri Supartono menjelaskan dampak erupsi tersebut menggapai radius puluhan kilometer.

“Berdasarkan catatan sejarah letusan Galunggung di tahun 1882 memakan korban jiwa hingga 4.000 orang. Itu bencana yang sangat dahsyat, pada saat itu tentu belum banyak warga di kaki Galunggung. Sehingga dapat dipastikan jika korbannya mencapai ribuan maka letusannya dahsyat hingga radius puluhan kilometer,” kata Heri.

Apa dampak geologis dari letusan itu? Diduga, terbentuknya bukit-bukit pasir di wilayah ini. Hamparan pasir yang membentuk bukit-bukit kecil itu sejalan dengan julukan Tasikmalaya sebagai Kota Seribu Bukit.

Banyak wilayah di Tasikmalaya yang diawali kata ‘Gunung’, seperti Gunung Sabeulah, Gunung Pereng, Gunung Singa, Gunung Cihcir, Gunung Tandala, hingga Gunung Gadog.

Perubahan nama dari Sukapura menjadi Tasikmalaya diperkirakan terjadi sekitar 1913-1914, sementara sebagian sumber lain menyebut peresmian pada 1933. Yang jelas, perubahan itu berlangsung pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Wiratanuningrat (1908-1937). Bupati ini pula yang membuat terobosan membuka lahan gambut basah Rawa Lakbok menjadi lahan pertanian sawah.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Sukapura di Silam Masa

Jauh sebelum menjadi kabupaten, wilayah ini telah memiliki posisi penting dalam tata ruang Kerajaan Sunda. Prof. Agus Aris Munandar dalam “Penataan Wilayah pada Masa Kerajaan Sunda”, Jurnal Berkala Arkeologi, Vol. 14 No. 2, 1994, menyebutkan di dalam tata ruang Kerajaan Sunda terdapat wilayah khusus bernama Dewasasana, yang berarti tempat bersemayam para dewa.

Gunung Galunggung yang menjadi bagian sejarah tak terpisahkan dari Tasikmalaya.Gunung Galunggung yang menjadi bagian sejarah tak terpisahkan dari Tasikmalaya. Foto: Faizal Amiruddin

Di dalamnya terdapat dua bagian: Pertama, Kabuyutan, tempat suci dan dikeramatkan untuk doa dan persembahan. Kedua, Kawikuan, permukiman para wiku atau agamawan.

“Ada juga kabuyutan yang berdiri sendiri sebagai tempat yang dikeramatkan, misalnya Kabuyutan Galunggung yang disebutkan dalam naskah Amanat Galunggung (Danasasmita dkk., 1987:125) dan Kabuyutan Pakuan seperti yang disebut dalam naskah Bujangga Manik (Noorduyn, 1982: 419),” tulisnya.

Kabuyutan Galunggung diduga berada di wilayah Leuwisari, sekitar Gunung Galunggung. Tempat ini diyakini menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Galunggung.

Kerajaan Galunggung

Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di Desa Linggamulya, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi informasi pernah berdirinya Kerajaan Galunggung.

Prasasti tersebut mencatat penobatan Batari Hyang Janapati sebagai ratu pada 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 Masehi. Tanggal tersebut diyakini sebagai hari jadi Kerajaan Galunggung.

Namun, meski berdiri sebagai kerajaan, Galunggung tetap berada dalam struktur besar Kerajaan Sunda. Agus Aris Munandar dalam jurnal yang sama menyebut bahwa Kerajaan Sunda memiliki penataan wilayah teratur.

“Kota lain yang merupakan ‘ibu kota’ bagi wilayah tertentu, di tempat tersebut terdapat seorang ‘raja daerah’ dengan sebutan berbeda-beda (Tohaan, Prabu, Panji, Mas). Negara daerah tersebut terbagi lagi dalam desa-desa (lurah) yang merupakan kesatuan wilayah terkecil dalam kerajaan.”

Struktur ini menunjukkan sistem pemerintahan yang menyerupai federal: kerajaan-kerajaan daerah tetap tunduk kepada Raja Sunda.

Dari Kerajaan ke Kabupaten Sukapura

Memasuki era Mataram Islam, wilayah ini berubah status menjadi Kabupaten Sukapura. Mengutip AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 40 No. 2, Desember 2022 (hlm. 179-192), disebutkan bahwa Piyagĕm Sukapura (1641 M) menjadi acuan pendirian tiga kabupaten di Jawa Barat: Bandung, Parakan Muncang, dan Sukapura.

Isi Piyagĕm Sukapura menurut catatan K.F. Holle, sebagaimana dikutip dari jurnal tersebut mengungkapkan:

“Surat Piyagĕm (dari) Sultan Mataram dianugrahkan kepada Ki Ngabehi Wirawangsa yang setia kepadaku. Aku lantik Tumenggung Wiradadaha (di) Sukapura, saya lantik Mantri Agung Wiraangun-angun (di) Bandung, (dan) Tumenggung Tanubaya (di) Parakanmuncang, yang sama-sama setia kepadaku… Waktu penulisan (piyagĕm) pada Sabtu, tanggal 9, bulan Muharam, tahun Alip (20 April 1641). Yang menulis adalah abdi raja. Juru tulis.”

Sejak saat itu, Sukapura resmi menjadi entitas administratif dalam struktur kekuasaan Mataram sebagai Kabupatian/Kabupaten. Namanya di kemudian hari berubah menjadi Tasikmalaya, seiring perubahan zaman, geologi, dan perpindahan ibu kota. Hari jadi Tasikmalaya dikaitkan pada piyagem dari Mataram itu, bukan pada berdirinya Kerajaan Galunggung.

Halaman 2 dari 2