Asal-usul Nama Majalengka, Dari Legenda Daun Maja yang Tiba-tiba Hilang (via Giok4D)

Posted on

Bandung

Nama Kabupaten Majalengka di Jawa Barat ternyata terbentuk dari kisah legenda yang menarik. Cerita yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat ini terus dipelihara hingga saat ini. Dari namanya, pendengar akan terasosiasi pada pohon maja. Nama yang juga dipakai oleh Kerajaan Majapahit di silam masa.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Namun, antara Majalengka dan Majapahit tidak ada hubungan langsung. Hanya kesesuaian nama semata. Di Majalengka, nama ini berkaitan dengan hilangnya pohon maja pada masa lampau.

Legenda tersebut berkaitan dengan tokoh Sunan Gunung Jati yang meminta putranya Pangeran Muhammad untuk mencari daun maja ke wilayah yang dikuasai ratu Kerajaan Sindangkasih, yang dikenal dengan nama Nyi Rambut Kasih.

Bagaimana kisah ini terjadi? Simak artikel ini sampai tuntas yuk!

Misi Pangeran Muhammad Mencari Daun Maja

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati di Kesultanan Cirebon, wilayah tersebut pernah dilanda penyakit misterius yang menyerang banyak warga.

Kocap tercerita, untuk mengobati rakyatnya, Sunan Gunung Jati mendapat petunjuk bahwa penyakit tersebut dapat diatasi dengan ramuan dari daun pohon maja. Ia kemudian meminta putranya, Pangeran Muhammad, untuk mencari daun tersebut di wilayah barat kerajaan.

Sunan Gunung Jati pun memberi pesan agar putranya meminta izin kepada penguasa wilayah tempat pohon maja tersebut berada. Ini berarti, etika diterapkan. Sang Pangeran tidak sembarangan mengambil tanpa izin.

Menurut khobar, pohon maja itu tumbuh di wilayah Kerajaan Sindangkasih, sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang ratu cantik dan sakti bernama Nyi Rambut Kasih. Pangeran Muhammad lantas beranjak pergi ke kerajaan itu.

Di Perjalanan Menuju Sindangkasih

Dalam perjalanan menuju kerajaan tersebut, Pangeran Muhammad sempat kebingungan mencari arah istana Sindangkasih. Di tengah perjalanan ia bertemu seorang kakek tua yang hendak pergi ke sawah.

“Sampurasun aki, maaf mau bertanya,” sapa Pangeran Muhammad.

Kakek tersebut kemudian menjelaskan bahwa wilayah yang dilalui sang pangeran memang sudah termasuk kawasan Sindangkasih. Ia pun menunjukkan jalan menuju istana kerajaan.

Setelah melanjutkan perjalanan, Pangeran Muhammad akhirnya tiba di istana dan bertemu langsung dengan Ratu Nyi Rambut Kasih untuk menyampaikan maksud kedatangannya.

Syarat Sang Ratu yang Berujung Perselisihan

Nyi Rambut Kasih Majalengka Foto: Erick Disy Darmawan/

Ratu Sindangkasih atau Nyi Rambut Kasih kocap tercerita memiliki wajah yang cantik. Kecantikannya diperkuat dengan rambutnya yang terkenal panjang, dan dengan itu pula dia mendapatkan nama Nyi Rambut Kasih.

Dia, yang terkenal cantik itu, nyatanya terkesiap ketika melihat ketampanan orang yang ada di hadapannya. Yaitu, Pangeran Muhammad. Bukan saja tampan, Pangeran Muhammad keturunan kesultanan besar.

Pangeran Muhammad pun menceritakan apa yang menjadi maksud kedatangannya ke wilayah sang ratu. Ketika mengetahui tujuan Pangeran Muhammad mencari daun maja untuk mengobati rakyat Cirebon, Nyi Rambut Kasih sebenarnya bersedia memberikan daun tersebut.

Namun sang ratu mengajukan sebuah syarat. Bagian dari rasa ‘kesengsrem’ kepada sang pangeran. Syaratnya, Pangeran Muhammad harus bersedia menjadi pendamping hidupnya.

Permintaan tersebut membuat Pangeran Muhammad berada dalam dilema. Ia menghormati sang ratu, tetapi di sisi lain ia sudah memiliki seorang istri. Setelah mempertimbangkan dengan hati-hati, sang pangeran akhirnya menolak dengan halus dan jujur.

“Ampun seribu ampun sang baginda ratu… takdir Tuhan tidak bisa mempersatukan kita dalam sebuah persandingan, karena hamba sudah memiliki istri,” ucap Pangeran Muhammad dalam legenda tersebut.

Penolakan itu membuat Nyi Rambut Kasih marah besar dan merasa dipermalukan. Dari sini, dia memutuskan untuk melebur semua apa yang bisa dileburnya, termasuk dirinya memutuskan untuk menghilang atau mokswa.

Langkanya Pohon Maja

Kemarahan Nyi Rambut Kasih memicu bencana besar. Dia bertapa dan mengerahkan kekuatannya untuk membuat langit mendadak gelap, hujan deras turun disertai angin kencang dan petir.

Banjir melanda wilayah kerajaan hingga pepohonan tumbang dan istana pun dikisahkan menghilang bersama hutan tempat tumbuhnya pohon maja.

Melihat peristiwa tersebut, Pangeran Muhammad hanya bisa menyaksikan dengan sedih karena pohon maja yang ia cari kini telah hilang. Dalam dialek Cirebon, Pangeran bergumam:

Celaka… Maja-ne Lengka!” katanya. Yang artinya, pohon maja tiba-tiba langka.

Ucapan itulah yang kemudian dipercaya masyarakat sebagai asal usul nama Majalengka, dari gabungan kata ‘Maja’ dan ‘Lengka’.

Nyi Rambut Kasih Mokswa di Batu Karancang

Kisah tentang Nyi Rambut Kasih juga tercatat dalam berbagai cerita lokal di Majalengka. Dikutip dari artikel berjudul “Asal-usul Batu Karancang: Titik Mokswa Nyi Rambut Kasih yang Dikeramatkan”, ratu Sindangkasih tersebut diyakini hidup sekitar abad ke-15.

Dalam legenda lain disebutkan bahwa setelah perselisihan dengan Pangeran Muhammad, Nyi Rambut Kasih menghilang atau mokswa. Tempat menghilangnya sang ratu dipercaya berada di Batu Karancang, sebuah situs yang terletak di kawasan patilasan Nyi Rambut Kasih di Blok Leuwileunggik, Kelurahan Sindangkasih, Kabupaten Majalengka.

Penikmat sejarah sekaligus Ketua Yayasan Galur Rumpaka Majalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana (Naro), mengatakan lokasi tersebut masih dipercaya masyarakat sebagai tempat menghilangnya sang ratu.

“Dalam kepercayaan masyarakat sekitar, bahwa di situ tempat ngahiangnya Nyi Rambut Kasih. Ngahiang itu artinya menghilang atau mokswa. Betul, dikeramatkan dan ada kuncennya,” kata Naro saat diwawancarai , Senin (3/2/2025).

Khasiat Daun Maja dalam Pengobatan Tradisional

Dalam kisah legenda tersebut, daun maja digambarkan sebagai bahan penting untuk pengobatan. Secara ilmiah, memang pohon maja (Aegle marmelos) dikenal dalam pengobatan tradisional.

Daunnya sering digunakan sebagai ramuan herbal untuk mengatasi berbagai penyakit seperti gangguan kulit seperti gatal, eksim, dan bisul, juga untuk obat diare dan disentri, serta obat demam dan radang tenggorokan.

Halaman 2 dari 2