Garut –
Kabupaten Garut didirikan pada 16 Februari 1813. Berdirinya Kabupaten Garut tidak lepas dari eksistensi Kabupaten Limbangan, dan sebuah mata air bernama Ci Garut.
Dikutip dari sebuah buku berjudul Tatar Garut: Historiografi Tradisional karya M. Ziaulhaq dan Asep Lukman (2007), terbentuknya Kabupaten Garut bermula saat pemerintah kolonial yang dipimpin Daendels, membubarkan Kabupaten Limbangan pada tahun 1811.
Kala itu, Limbangan dibubarkan dengan alasan produksi kopi yang menurun hingga ke titik nol. Di sisi lain, Bupati Limbangan kala itu, menolak perintah Belanda untuk menanam nila atau indigo.
Ada tiga kabupaten yang dibubarkan, berdasarkan besluit tanggal 2 Maret 1811 oleh Daendels kala itu. Yakni Kabupaten Sukapura, Kabupaten Limbangan dan Kabupaten Galuh yang disatukan dengan Kabupaten Sumedang, dengan ibu kota di Kawasem, Banjarsari.
“Bekas daerah kabupaten yang dibubarkan tersebut, dimasukkan ke dalam pembentukan Kabupaten yang baru. Yaitu Kabupaten Priangan Jakarta, Kabupaten Priangan Cirebon, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Parakan Muncang,” katanya.
Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 1813, di bawah kepemimpinan Raffles, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan untuk membentuk kembali Kabupaten Limbangan. Namun, ibukotanya saat itu direncanakan untuk berada di Suci, sebuah kawasan di perkotaan Garut, yang saat ini secara administrasi masuk ke wilayah Kecamatan Karangpawitan.
Dibentuklah panitia pembentukan kembali Kabupaten Limbangan kala itu. Dalam perjalanannya, panitia memutuskan Suci yang sedari awal dicalonkan sebagai ibu kota kabupaten, dinilai tidak memenuhi syarat karena terlalu sempit.
Panitia kemudian menemukan sebuah kawasan bernama Cimurah, sekitar 3 kilometer sebelah timur Suci untuk dijadikan ibu kota. Tapi, di tempat tersebut, sulit untuk memperoleh air bersih.
Kemudian, sekitar 5 kilometer arah barat Suci, panitia kemudian menemukan sebuah tempat yang cocok, untuk dijadikan ibu kota. Selain tanahnya yang subur, tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk.
Selain itu, daerah yang kini menjadi Kecamatan Garut Kota itu juga dipilih, karena dikelilingi pemandangan yang indah dengan latar Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas serta Gunung Karacak.
SEJARAH NAMA GARUT
Singkat cerita, saat itu panitia kemudian menemukan sebuah mata air berupa telaga kecil, yang tertutup semak belukar berduri. Seorang panitia diketahui tergores, atau kakarut hingga berdarah di bagian lengan.
Dalam rombongan tersebut, seorang Belanda yang ikut ngabaladah, melihat lengan panitia tersebut berdarah dan bertanya, “Kenapa berdarah?,” kata sang meneer dalam buku tersebut.
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab pribumi dengan kata kakarut. Namun, orang Eropa tersebut kemudian menirukan jawaban sang pribumi dengan kata gagarut. Sejak saat itu, duri yang melukai tangan panitia disebut ‘Ki Garut’.
“Lambat laun ‘Ki-nya’ hilang sehingga tinggal Garut. Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan ‘Ki Garut’ dan telaganya dinamai ‘Ci Garut’,” kata Ziaulhaq.
Jl Letjen Ibrahim di Kabupaten Garut yang memiliki pemandangan indah deretan gunung Cikuray, Papandayan dan Guntur Foto: Hakim Ghani/ |
Ci Garut saat ini diketahui masih eksis dan dibuat sumur di SMPN 1 Garut. Sebab itu, Ci Garut hingga kini tak pernah luput dari sambangan para pejabat Garut tatkala Hari Jadi Garut (HJG) datang setiap tahunnya.
“Ci Garut lokasinya di SMPN 1 Garut sekarang tinggal berupa sumur. Dulu lokasi SMPN 1 dan 2 Garut itu berupa telaga yang banyak tumbuh kayu Garut ‘Ki Garut’,” kata Sejarawan Garut, Warjita.
Kembali lagi ke momen dahulu, dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar lokasi telaga dinamai Garut. Cetusan nama Garut itu kemudian direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan RAA Adiwijaya, untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.
Pada 7 Mei 1813, berdasarkan keputusan pemerintah kolonial, nama Kabupaten Limbangan kemudian diganti menjadi Kabupaten Garut, dengan ibu kota Garut, mulai 1 Juli 1813.
Kemudian pada tanggal 15 September 1813, dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibu kota. Seperti Pendopo, Alun-alun, Masjid Agung, hingga penjara. Di antara bangunan Alun-alun dan Pendopo, terdapat sebuah bangunan ikonik bernama Babancong.
Babancong sedari dulu hingga kini dijadikan tempat yang sakral. Biasanya digunakan pejabat untuk berpidato dan menyampaikan orasi. Selain Bupati, sosok yang tercatat dalam sejarah pernah menginjakkan kaki di Babancong adalah Presiden RI pertama, Sukarno.
Menurut Warjita, Sukarno datang ke Garut pada tahun 1960-an untuk menyampaikan piagam Adipura, yakni penghargaan bagi Kabupaten Garut sebagai kota terbersih.
“Sukarno berkunjung secara khusus ke Garut untuk memberikan penghargaan Garut sebagai kota terbersih saat itu. Adipura. Di Babancong itu lah, Bung Karno berpidato di depan masyarakat Garut, serta menyerahkan plakat Garut sebagai kota terbersih kepada Bupati Garut saat itu, Raden Gahara Widjaja Suria,” katanya.
DITETAPKAN MENJADI KABUPATEN GARUT
Pada tanggal 14 Agustus 1925, Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri, atau otonom. Kala itu, Kabupaten Garut dipimpin Bupati RAA Soeria Kartalegawa (1915-1929).
Kemudian pada masa kepemimpinan Bupati Garut keempat, RAA Wiratanudatar VII (1871-1915), Kota Garut meliputi tiga desa. Yakni Desa Kota Kulon, Kota Wetan dan Margawati. Sementara Kabupaten Garut meliputi distrik-distrik yakni Garut, Bayongbong, Cibatu, Leles, Tarogong, Balubur Limbangan, Cikajang, Pameungpeuk dan Bungbulang.
Sejak dulu, Kabupaten Garut dikenal akan keindahan alamnya. Sebab itu, Garut menjadi daerah destinasi wisata yang banyak disambangi para pelancong, bahkan hingga para wisatawan mancanegara sejak tahun 1800-an.
Beberapa nama beken pada zamannya yang pernah melancong ke Garut di antaranya artis kenamaan Charlie Chaplin, hingga putra mahkota Austria-Hongaria, Archduke Franz Ferdinand.
Selama 213 tahun berdiri, Kabupaten Garut telah dipimpin oleh lebih dari 27 orang bupati. Mulai dari RAA Adiwijaya, RAA Muh. Musa Suria Kartalegawa, Letkol Kavaleri Taufik Hidayat, Agus Supriadi, Aceng Fikri, Rudy Gunawan hingga yang terbaru Abdusy Syakur Amin.
Bupati Garut saat ini, Syakur Amin, adalah cucu dari ulama terkenal yang sangat dihormati di Kabupaten Garut, KH. Anwar Musaddad. Syakur memenangkan Pilkada Garut 2024 bersama wakilnya, Luthfianisa Putri Karlina yang tercatat dalam sejarah sebagai Wakil Bupati Garut perempuan pertama sepanjang sejarah.
HARI JADI GARUT
Ada beberapa versi terkait hari jadi Garut. Ada versi yang mengatakan 16 Februari berdasarkan pembentukan kembali Kabupaten Balubur Limbangan. Kemudian versi 7 Mei berdasarkan perubahan nama Limbangan menjadi Garut.
Namun, belakangan Pemerintah Daerah kemudian mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Garut Nomor 30 Tahun 2011, tentang Hari Jadi Garut. Dalam Perda tersebut, dinyatakan bahwa Hari Jadi Garut diperingati setiap tanggal 16 Februari.
Setiap tahunnya, Hari Jadi Garut diperingati dengan rangkaian kegiatan seremoni yang dipimpin bupati. Mulai dari ziarah ke makam para bupati terdahulu, menyambangi mata air Ci Garut, hingga upacara bendera dan pesta rakyat.








