Bekasi –
Bekasi dikenal sebagai salah satu kota penyangga Jakarta yang tumbuh pesat dalam beberapa dekade terakhir. Namun di balik citranya sebagai kota industri dan kawasan urban di Jabodetabek, tersimpan asal usul Bekasi yang panjang dan kaya nilai sejarah.
Dalam kajian toponimi Bekasi dan sejarah Bekasi, nama wilayah ini diduga sudah muncul sejak masa Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 hingga ke-7 Masehi. Lalu, bagaimana perjalanan nama Bekasi dari masa kuno hingga menjadi kota modern seperti sekarang?
Bekasi dalam Sejarah Kerajaan Tarumanagara
Dalam sejarahnya, Bekasi tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Kerajaan Tarumanagara, salah satu kerajaan tertua di Jawa Barat. Salah satu bukti pentingnya adalah keberadaan Prasasti Tugu yang ditemukan di wilayah Tugu, Jakarta Utara. Prasasti ini menceritakan tentang penggalian Sungai Chandrabaga oleh Raja Purnawarman.
Dalam teks prasasti disebutkan bahwa sungai tersebut digali dan airnya dialirkan hingga ke laut. Para ahli meyakini bahwa Sungai Chandrabaga yang dimaksud adalah sungai yang kini dikenal sebagai Kali Bekasi.
Sungai ini berhulu dari Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi di wilayah Bogor, kemudian mengalir melewati Bekasi hingga bermuara di Laut Jawa. Fakta ini menjadi fondasi penting dalam menelusuri asal usul Bekasi secara historis.
Asal Usul Bekasi, dari Bhagasasi ke Bekasi
Kajian toponimi Bekasi menunjukkan bahwa nama Bekasi diyakini berasal dari kata Chandrabhaga. Secara etimologis, Chandra berarti bulan yang dalam bahasa Jawa Kuno dikenal sebagai ‘Sasi’. Dalam bahasa Sunda dikenal ‘Sasih’ dengan akhiran ‘h’. Sementara ‘Bhaga’ berarti bagian. Diduga, Chandrabhaga dapat diartikan sebagai ‘bagian dari bulan’.
Menurut ahli bahasa Poerbatjaraka, perubahan bunyi terjadi secara bertahap, yakni dari Chandrabhaga, menjadi Bhagasasi, lalu menjadi Bhagasi, lalu menjadi Bacassie sesuai penulisan Belanda, terakhir menjadi Bekasi.
Transformasi fonetik inilah yang kemudian melahirkan nama Bekasi seperti dikenal sekarang. Dalam literatur Sunda, kata ‘bhaga’ juga memiliki makna lain. Namun dalam konteks sejarah dan toponimi, para ahli lebih condong pada makna etimologis Sansekerta yang berkaitan dengan Chandrabhaga.
Bekasi di Masa Kolonial
Dalam perkembangan sejarah Bekasi, wilayah ini pernah menjadi bagian administratif Hindia Belanda. Berdasarkan Staatsblad 1925 No. 383, Bekasi merupakan salah satu distrik di bawah Regentschap Meester Cornelis. Saat itu, Bekasi terbagi menjadi beberapa onderdistrik dan kampung-kampung administratif.
Ketika masa pendudukan Jepang (1942-1945), terjadi perubahan struktur pemerintahan. Regentschap Meester Cornelis berubah menjadi Jatinegara Ken, lalu Bekasi disebut sebagai Bekasi Gun. Bekasi Gun membawahi tiga Son (setingkat kecamatan).
Bekasi Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, Bekasi berkembang menjadi sebuah kabupaten. Di dalamnya terdapat Kecamatan Bekasi yang kemudian mengalami peningkatan status.
Tahun 1982, Kecamatan Bekasi berubah menjadi Kota Administratif Bekasi. Wilayah ini membawahi: Bekasi Selatan, Bekasi Barat, Bekasi Timur, dan Bekasi Utara.
Pada tahun 1996, statusnya kembali meningkat menjadi Kotamadya yang kini dikenal sebagai Kota Bekasi. Saat ini, terdapat dua entitas pemerintahan: Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi. Keduanya menjadi bagian penting dari kawasan megapolitan Jabodetabek.
Jika melihat perkembangan sekarang, mungkin banyak orang hanya mengenal Bekasi sebagai kota industri, perumahan, dan pusat pertumbuhan ekonomi. Namun di balik modernitasnya, asal usul Bekasi menyimpan cerita panjang dari masa Tarumanagara.







