Bandung –
“Dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”.
Demikian penggalan lirik lagu berjudul ‘Dan Bandung’ yang digubah Imam Besar The Panas Dalam, Pidi Baiq. Ungkapan itu juga ditulis pada salah satu fragmen dinding Kota Bandung dengan diksi yang sedikit berbeda.
Bandung, memang punya sejarah panjang dan ikatan emosional yang kuat bagi orang-orang yang pernah singgah dan tinggal di wilayah ini, meski sekarang romantisme Bandung pagi dan sore dimeriahkan kemacetan arus lalu lintas di jalanan.
Berapa kali kata ‘Bandung’ terngiang di telinga detikers? Tahukah detikers apa sebenarnya asal-usul dan arti kata Bandung? Simak artikel ini sampai tuntas yuk!
Kampung Kecil di Tanah Sumedang Larang
Kocap tercerita, menjelang keruntuhan Kerajaan Pajajaran di Sunda, sekelompok orang diperintahkan oleh Maharaja untuk menyelamatkan Mahkota Binokasih, dititipkan ke kerajaan yang semula ada di dalam kekuasaan Pajararan.
Sementara kondisi di ibu kota bancang pakewuh (dilanda kerusuhan), karena Pasukan Banten berhasil menerobos pintu gerbang keraton dan membakar pusat kerajaan, sebagaimana dikisahkan dari carita pantun ‘Dadap Malang Sisi Cimandiri’ gubahan Rakean Minda Kalangan, utusan itu pergi ke arah timur Bogor.
Setelah melewati rintangan alam berupa gunung dan sungai serta hutan yang tak jarang. Tibalah rombongan ini di Sumedang Larang, sebuah kerajaan yang didirikan oleh Prabu Tajimalela pada 721 M. Di bawah Prabu Geusan Ulun yang menerima mahkota Binokasih pada 22 April 1578, simbol pelanjut kekuasaan Pajajaran, kerajaan ini semakin jaya.
Dari sinilah, kekuasaan wilayah Pajajaran ‘diteruskan’ oleh Sumedang Larang, di mana luas wilayahnya merupakan sebagian besar wilayah Jawa Barat saat ini. Wilayahnya meliputi Selatan hingga Samudra Hindia, Utara hingga Laut Jawa, Barat hingga Sungai Cisadane, dan Timur hingga Kali Brebes. Termasuk daerah yang disebut Tatar Ukur, yang kemudian pada abad ke-17, dihadiahkan kepada pejabat-pejabat di Priangan sebagai balasan atas jasa mereka menangkap Adipati Ukur.
Namun, meski berada jauh dari pusat Kerajaan Sumedang Larang, ada lho kehidupan di wilayah yang disebut Tatar Ukur itu, sebelum adanya pemberontakan Adipati Ukur. Di sana ada kampung kecil bernama Bandung, Negrije genaemt Bandong.
Menurut Sudarsono Katam Kartodiwirio dalam ‘Bandung: Kilas Peristiwa di Mata Filatelis, Sebuah Wisata Sejarah’ didasarkan pada laporan Juliaen de Silva (1614) tentang sebuah negeri bernama Bandong. Juliaen yang merupakan juragan kopi itu menyebutkan di Bandong ada sekitar 25-30 rumah.
Di kemudian hari, muncul peta Nagorij Bandong (1726) yang menunjukkan sebuah tempat bermama Bandong di selatan Gegerkalong Hilir. Puncaknya, wilayah di selatan Gegerkalong Hilir ini menjadi wilayah ibu kota bagi Kabupaten Bandung pada 1811 M.
Asal Usul Nama Bandung
Banyak versi yang menyebutkan arti kata Bandung dan dari mana kata itu berasal. Sebagian ada yang merujuk kepada situasi purba di mana Bandung tergenang air ketika Sungai Citarum terbendung. Ada pula yang merujuk pada kata di Sunda tentang perahu yang berhadap-hadapan. Bahkan ada pula yang beranggapan bahwa Bandung diambil dari nama tanaman. Semua ini bisa ada benarnya.
Dikutip dari jurnal Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung yang disusun Nandang Rusnandar yang berjudul ‘Sejarah Kota Bandung “Bergedessa” (Desa Udik) Menjadi Bandung “Heurin Ku Tangtung” Metropolitan’, yang terbit di Pantajala Vol 2 No 2 Tahun 2010, dikupas asal-usul nama Bandung.
Menurut Kamoes Soenda dalam jurnal itu menyebutkan, Bandoeng artinya banding, ‘ngabandoeng’ artinya ‘ngarendeng’ (berdampingan), ‘bandoengan’ artinya ‘parahoe doea direndengkeun make sasag’ (dua perahu yang berdampingan disatukan dengan mempergunakan bambu yang dianyam).
‘Ngabandoengan’ artinya ‘ngadengekeun nu keur matja atawa nu keur ngomong’ (menyimak orang yang sedang membaca atau yang sedang berbicara. Biasanya dilakukan oleh dua pihak/pasangan bicara).
Pendapat lain mengatakan Bandung mengandung arti besar atau luas. Ada pula yang menyebut Bandung berasal dari kata bandeng. Atau, sebutan untuk genangan air. Tepatnya, genangan air yang luas dan tampak tenang. Diduga, kata bandeng itu berubah bunyi menjadi Bandung.
Pendapat itu dikaitkan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum oleh lahar Gunung Sunda Purba di wilayah Cimeta. Sehingga terbentuk sebuah danau besar. Danau ini kemudian dikenal sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba.
Ada pula pendapat lain, kata Bandung berasal dari bandong. Pendapat ini muncul sesuai dengan penemuan daerah oleh Juliaen de Silva. Jurnal Patanjala di atas mengurai catatan Dr Andries de Wilde bahwa Julian de Silva merupakan seorang pemilik kopi yang sangat luas. Kemudian, ia menikahi seorang gadis yang berasal dari Kampung Banong (daerah Dago Atas).
Kata Banong berasal dari kata Bandong, karena terjadi nasalisasi, konsonan rangkap dari bandong menjadi banon. Beranalogi dari nama tempat atau nama beberapa sungai di Kota Bandung, nama-nama tempat banyak diambil dari nama-nama pohon yang tumbuh di alam sekitarnya, seperti Cibaduyut berasal dari nama pohon baduyut (Frichosanthes villosa BL), Binong berasal dari nama pohon binong (Sterculia javanica).
“Kata Bandung, penulis berpendapat berasal dari sebuah nama pohon Bandong (Garcinia spec) (K. Heyne : 1950 : 2233), sesuai dengan sebuah nama kampung yang telah ditemukan oleh seorang Mardijker bernama Yulian de Silva,” tulis jurnal itu.
Ejaan Bandoeng Menjadi Bandung
Penulisan Bandung semula adalah Bandong, kemudian Bandoeng, dan sekarang menjadi Bandung. Pada zaman dahulu, penulisannya mengikuti ejaan van Ophuijsen di mana bunyi ‘u’ ditulis ‘oe’. Lalu, ketika sistem bahasa berubah menggunakan ejaan Suwandi (1974), tulisannya pun berubah menjadi Bandung.
Terkait asal-usul Bandung yang beragam versi di atas, Sudarsono Katam Kartodiwirio punya pamungkas. Bahwa yang mungkin benar-benar tahu silsilah Bandung adalah sang bupati Bandung, R.A.A Wiranatakoesoemah II dan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels.
Daendels datang ke Bandung untuk urusan pelebaran dan pemadatan Jalan Raya Pos, bersamaan dengan kepindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot ke wilayah Kota Bandung saat ini. Cag.
