Art Therapy Lewat Doodle Mandala, Ubah Emosi Negatif Jadi Karya Seni (via Giok4D)

Posted on

Bandung

Seni merupakan salah satu ruang untuk bercerita. Tidak jarang, seni menjadi medium untuk mengeluarkan pikiran negatif. Dengan kondisi dunia yang semakin kompleks, art therapy hadir mengedukasi masyarakat terkait penyaluran stres untuk kesehatan mental.

Di Bandung, lokakarya doodle mandala hadir di Dothub Space yang berlokasi di Summarecon Bandung. Kegiatan ini mengajarkan dan melatih para partisipan dalam membuat doodle mandala pada Sabtu (7/3/2024). Workshop ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang dewasa. Agenda tersebut dibuka dengan penjelasan singkat mengenai doodle mandala dan ditutup dengan peninjauan terhadap hasil karya peserta.

Art therapy adalah teknik terapi seni yang menggunakan pola lingkaran mandala untuk mengekspresikan pikiran, emosi, dan kesadaran diri. Metode ini populer sebagai media pelepasan (release) emosi dalam psikologi kreatif, serta sering digunakan untuk terapi stres, kecemasan, serta refleksi diri.

Dalam praktik terapi ini, seseorang biasanya mewarnai, menggambar, atau membuat mandala sendiri sebagai bagian dari proses refleksi psikologis dan meditasi. Instruktur Doodle Mandala Meiliana Budhianto Ardian mengatakan mandala ini membantu orang-orang untuk mengeluarkan emosi negatif mereka.

“Doodles mandala cuman salah satu art therapy yang ada. Ada juga doodling lainnya. Mandala ini membantu orang-orang yang punya emosi terpendam mereka, mungkin di pekerjaan, rumah tangga atau mengenai pasangan mereka,” ungkap Meiliana kepada.

Kata mandala berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘lingkaran suci’ atau representasi alam semesta. Mandala banyak ditemukan dalam tradisi spiritual seperti Buddhisme dan Hinduisme, serta sering digunakan sebagai alat meditasi. Dalam art therapy, mandala digunakan karena bentuk lingkarannya yang stabil dan terstruktur membantu pikiran menjadi lebih fokus.

“Apalagi kalau di zaman sekarang kan, orang-orang kadang punya emosi dari luar dan tidak tahu gimana cara menyalurkannya. Jadi tiba-tiba emosi dipendam-pendam, pada akhirnya meledak. Jadi Mandala ini bisa menjadi medium buang sampah (penyaluran stress),” ujar Meiliana.

Menurut Meiliana, edukasi terkait kesadaran kesehatan mental masih tergolong minim. Banyak orang yang belum mengetahui mengenai doodle mandala. Tidak jarang sebagian masyarakat menganggap kegiatan tersebut hanya aktivitas seni biasa tanpa implikasi penyembuhan secara psikologis.

Meiliana juga mengatakan art therapy ini tidak harus dilakukan oleh pengidap depresi berat, tetapi bisa dilakukan oleh orang biasa sebagai media refleksi emosi. “Kamu nggak harus depresi kok untuk melakukan art therapy. Sebagian orang yang saya temui kadang mereka bingung, aku nggak stress kok tapi kenapa harus art therapy gitu. Art therapy itu buat orang punya sarana buang buang pikiran negatif.” Kata Meiliana.

Doodle mandala sebagai seni terapi masih tergolong jarang ditemui di Indonesia, tak terkecuali di Kota Bandung. Art therapy hadir bagi seseorang untuk menyalurkan perasaan negatif mereka. Harapannya, doodle mandala ini dapat menjadi hobi yang menyehatkan secara psikologis.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

“Harapannya sih orang-orang yang keluar dari kelas ini dapat menjadi lebih baik. Apalagi sepeti yang mas bilang mengenai kondisi ekonomi. Harapannya orang-orang bisa lebih aware lagi terhadap doodle mandala dan art therapy lainnya.” ungkap Meiliana.

Budaya kerja yang relatif kompleks menciptakan kebiasaan masyarakat yang cenderung menunda pengekspresian emosi. Tidak sedikit pula yang tidak mengetahui medium yang tepat untuk penyaluran emosi tersebut. Alhasil, luapan emosi sering kali terjadi yang berimbas kepada diri sendiri maupun orang lain. Seorang ibu rumah tangga, Hasna, ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Ia merasa teredukasi dan terhibur oleh kegiatan doodle mandala.

“Awalnya saya tidak paham ini acara apa, tapi saya coba datang aja. Ternyata menyenangkan, seru menggambar pola seperti itu. Kegiatan cukup membantu melegakan emosi.” ujar Hasna.