Aroma Khas Bubur Harisah yang Lahir dari Tradisi Keluarga di Cirebon baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Cirebon

Sebuah rumah besar bergaya lama berdiri di Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon. Dari luar, tampilannya menyerupai rumah mewah zaman dulu, dindingnya kokoh, dengan pintu dan jendela kayu berukuran besar.

Di bagian dalam rumah itulah, tepatnya di dapur yang luas dan sederhana, Bubur Harisah dimasak setiap bulan Ramadan.

Siang itu, proses memasak baru saja selesai. Panci besar berisi bubur masih mengepul setelah dimasak sejak pukul 10.00 WIB. Aroma rempah bercampur daging kambing memenuhi ruangan.

Fatimah saat itu tengah bersiap mengemas bubur yang sudah matang. Ia menata bungkus di atas meja panjang, lalu menyendok bubur satu per satu ke dalamnya setelah suhunya cukup hangat untuk dikemas.

Di tengah kesibukannya, Fatimah bercerita tradisi pembuatan bubur Harisah sudah dilakukan keluarganya sejak lama. Bubur itu dibuat untuk dibagikan selama bulan Ramadan.

Ia tak ingat pasti sejak kapan bubur itu pertama kali dibuat. Namun yang jelas, kebiasaan tersebut terus dijaga turun-temurun. Kini, ia melanjutkannya bersama sang kakak, Abdullah.

“Sekarang sudah generasi ketiga, saya bersama Pak Abdullah. Pak Abdullah itu kakak saya,” katanya, baru-baru ini.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Bubur Harisah berbeda dari bubur kebanyakan. Teksturnya lebih padat dan kaya rasa. Sentuhan rempah khas Timur Tengah menjadi ciri utama. “Bedanya karena dikasih bumbu-bumbu khas Timur Tengah,” tutur Fatimah.

Kayu manis, cengkeh, kapulaga, lada, dan berbagai macam bumbu lainnya diracik bersama potongan daging kambing. Semua dimasak perlahan agar bumbu meresap sempurna.

Proses memasak dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Api dijaga stabil, sementara bubur terus diaduk selama dua hingga tiga jam.

“Masaknya mulai jam 10 pagi, lalu sekitar jam 12 atau jam 1 siang sudah matang. Setelah matang, nunggu dingin dulu baru di-packing,” jelasnya.

Tradisi pembuatan Bubur Harisah di Kota Cirebon setiap bulan RamadanTradisi pembuatan Bubur Harisah di Kota Cirebon setiap bulan Ramadan Foto: Ony Syahroni/

Setelah cukup dingin, bubur lalu dimasukkan ke dalam bungkus-bungkus sederhana dan siap untuk dibagikan. “Dibagikan ke masjid, keluarga, dan tetangga-tetangga,” ucapnya.

Awal Mula Tradisi Pembuatan Bubur Harisah

Tradisi membagikan bubur harisah ini bukan kebiasaan baru. Abdullah, kakak Fatimah, menuturkan tradisi itu sudah dimulai sejak masa kakeknya, sekitar tahun 1924.

“Pembuatan bubur harisah ini sejak zamannya kakek saya. Kemungkinan sejak tahun 1924,” kata Abdullah.

Ia bercerita, sang kakek, Syech Mohammad Islam Bayasut, dikenal sebagai pengusaha kuda pada masanya.

“Kakek saya alhamdulillah orang mampu. Dia pengusaha. Usahanya jual beli kuda, karena kalau zaman dulu kan belum banyak kendaraan,” ujarnya.

Di tengah kondisi ekonomi yang mapan, kakeknya rutin memasak dan membagikan bubur harisah kepada masyarakat saat Ramadan. Tradisi berbagi itu terus dijaga oleh keluarga hingga kini.

Setiap hari selama bulan puasa, Abdullah bersama Fatimah kembali menyalakan kompor di dapur rumah itu. Bubur dimasak, dikemas, lalu dibagikan menjelang waktu berbuka puasa.

“Dibagikannya setiap menjelang waktu berbuka puasa,” kata Abdullah.