Bandung –
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan sementara aktivitas perdagangan efek (trading halt) pada Rabu (29/01). Langkah ini diambil menyusul merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 8%.
Kebijakan trading halt berlandaskan Surat Perintah Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal II-A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor S-274/PM.21/2020 tanggal 10 Maret 2020.
Bagi detikers yang sudah lama terjun di dunia investasi, fenomena ini mungkin pernah dialami. Namun, bagi pemula, trading halt merupakan istilah yang masih jarang diketahui. Lantas, apa sebenarnya trading halt yang kerap menyita perhatian investor?
Berikut ulasan lengkap mengenai trading halt, mulai dari definisi, mekanisme, penyebab, hingga dampaknya.
Apa Itu Trading Halt?
Trading halt adalah pembekuan sementara perdagangan saham di bursa. Kebijakan ini diterapkan dalam kondisi darurat, terutama saat pasar saham mengalami tekanan hebat dalam waktu singkat.
Saat trading halt berlaku, seluruh transaksi dijeda sesuai durasi yang ditetapkan peraturan. Meskipun demikian, sistem tetap menyimpan antrean pesanan yang belum teralokasi (open order) yang masuk sebelum penghentian terjadi.
Artinya, investor masih memiliki kontrol terbatas. Selama masa jeda, mereka dapat menarik kembali (withdraw), mengubah (amend), atau membatalkan pesanan. Namun, transaksi jual-beli baru akan diproses setelah pasar dibuka kembali.
Kebijakan ini bertujuan menjaga keteraturan dan efisiensi pasar. Saat IHSG anjlok, kondisi pasar sering kali terganggu akibat aksi jual masif yang dipicu kepanikan berlebihan (panic selling).
Langkah ini memastikan aktivitas pasar tetap berjalan wajar. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan dipertegas melalui Surat Keputusan Direksi BEI.
Penyebab Terjadinya Trading Halt
Trading halt tidak terjadi tanpa alasan kuat. Berikut adalah beberapa faktor utama pemicunya:
1. Ketegangan Politik dan Ekonomi
Trading halt dapat dipicu ketegangan politik dan ekonomi makro yang mengguncang stabilitas, seperti perang dagang, krisis nilai tukar, hingga konflik geopolitik. Sentimen negatif ini membuat investor global maupun domestik menarik dana secara masif.
2. Penurunan Indeks secara Signifikan
Ini adalah penyebab paling umum. BEI memiliki protokol circuit breaker. Trading halt otomatis aktif jika IHSG turun 5% dalam satu hari perdagangan, yang memicu penghentian selama 30 menit. Jika merosot hingga 10% atau 15%, penghentian lanjutan atau penutupan bursa seharian (*trading suspend) dapat diberlakukan.
3. Peristiwa Luar Biasa
Faktor eksternal non-ekonomi juga bisa menjadi pemicu, seperti bencana alam besar, kerusakan infrastruktur bursa, atau kerusuhan sipil. Hal ini pernah terjadi pada 2020 saat pandemi COVID-19 memicu circuit breaker di berbagai bursa dunia.
4. Volatilitas Ekstrem
Pergerakan harga yang fluktuatif secara tidak wajar dalam waktu singkat dapat memicu trading halt. Tujuannya untuk “mendinginkan” pasar dan memberi waktu bagi investor untuk mencerna informasi.
5. Gangguan Teknis Sistem Bursa
Kendala teknis seperti gangguan pusat data, mati listrik, atau serangan siber yang mengancam integritas data juga bisa menjadi penyebab. BEI akan melakukan trading halt demi keamanan aset investor dan stabilitas pasar.
Dampak Trading Halt
Kebijakan ini memiliki dua sisi dampak yang perlu dipahami investor:
Dampak Positif
– Mencegah Kejatuhan IHSG: Menahan indeks agar tidak merosot ke level yang lebih parah dengan memutus momentum penurunan drastis.
– Menanggulangi Panic Selling: Menahan aksi jual massal yang hanya didasari kepanikan tanpa analisis fundamental.
– Memberikan Ruang Berpikir: Memberi waktu bagi investor untuk menenangkan diri, mencari informasi valid, dan mengevaluasi keputusan agar tidak gegabah.
Dampak Negatif
– Likuiditas Menghilang: Kemudahan mencairkan aset hilang seketika karena posisi investor terkunci. Investor tidak bisa melakukan take profit atau cut loss saat pasar berhenti.
– Ketegangan Psikologis: Bagi scalper atau trader harian, hal ini meningkatkan kecemasan akan adanya gap down (harga dibuka jauh lebih rendah) saat pasar kembali beroperasi.
– Terhentinya Momentum: Transaksi yang berhenti di tengah volatilitas tinggi dapat menahan minat beli investor baru yang seharusnya bisa menopang harga.
Tips bagi Investor Saat Trading Halt
Jika detikers menghadapi situasi ini, tetaplah tenang. Jangan terburu-buru memasukkan order jual di harga rendah. Manfaatkan waktu jeda untuk memantau berita terpercaya dan mengecek kembali fundamental saham Anda. Pastikan apakah penurunan terjadi karena kepanikan pasar atau murni karena kinerja perusahaan yang memburuk.







