Bandung –
Martabak telur puyuh, itulah namanya. Inovasi kuliner unik berbahan terigu, irisan daun bawang, dan telur puyuh yang dicetak menggunakan loyang takoyaki ini menjadi salah satu ragam kuliner di Kota Bandung. Camilan gurih ini laris manis meski dijual di pinggir jalan hanya dengan gerobak kecil.
berkesempatan mengunjungi penjual martabak telur puyuh yang kerap mangkal di Jalan Pasteur. Lokasinya tidak jauh dari persimpangan lampu merah arah Jalan Layang Pasupati atau ke arah pusat kota.
Bagi Anda yang ingin mencicipi kuliner satu ini, Anda harus bersabar. Pasalnya, pembeli harus rela mengantre karena penjual hanya menggunakan dua buah cetakan untuk memproses pesanan.
Sebelum dimasak, penjual martabak telur puyuh itu mengocok adonan tepung terigu yang sudah dibumbui, seraya menuangkan minyak ke atas cetakan. Jika sudah panas, adonan itu dimasukkan ke lubang di cetakan satu per satu.
Setelah adonan sedikit matang, masukkan telur puyuh. Jika Anda penyuka daun bawang, tambahkan lagi secukupnya. Tunggu hingga benar-benar kering, lalu balik martabak telur puyuh tersebut. Apabila sudah matang sempurna, martabak siap disajikan.
Tak berhenti di sana, Anda bisa menambahkan bubuk penyedap rasa, bubuk cabai, atau saus bawang sebagai cocolan lezat untuk martabak telur puyuh ini.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
juga berkesempatan mencicipi martabak telur puyuh ini. Dari segi tampilan, makanan ini sangat menggugah selera dengan adonan renyah dan topping yang menggiurkan. Saat dicicipi, rasanya gurih, lembut, dan lezat tak terlupakan. “Saya jualan sudah lama, sejak tahun 2002. Kalau mangkal di sini tahun 2017,” kata Kasman penjual martabak telur puyuh kepada, Senin (16/2/2024).
Kasman menyebutkan, ia berjualan dari pagi hingga siang di titik tersebut. Jika sudah siang, ia pindah lokasi jualan ke kawasan Cibogo atas sekaligus pulang ke rumahnya. “Setengah hari di sini, sisanya keliling sambil pulang ke daerah Cibogo,” sebutnya.
Kasman menyebutkan, martabak telur puyuh yang dia buat bentuknya tidak seperti martabak telur pada umumnya. Namun menurut pria berusia 52 tahun itu, makanan buatannya disukai para pembeli karena unik dan membangkitkan nostalgia masa kecil. “Banyak yang menyebutnya makanan untuk bernostalgia ke masa kecil,” ucapnya.
Menurut Kasman, pembeli yang menginginkan martabak telur puyuh buatannya harus membeli per loyang atau satu porsi penuh. “Satu loyangnya Rp12 ribu, isi tujuh biji,” ujarnya.
Di hari biasa, dia bisa menjual 4-5 kilogram telur puyuh. Namun jika di hari libur, penjualannya bisa melonjak dua kali lipat. “Hari biasa 4-5 kilogram telur puyuh, kalau libur bisa sampai 14 kilogram,” tuturnya.
Salah satu pembeli, Dina (24) mengatakan bahwa ia sudah lama menjadi pelanggan setia martabak telur puyuh yang dijual Kasman. “Sering beli, kadang pesan via WA lalu kalau sudah jadi nanti dibawa ke sini sambil lewat atau beli langsung,” ujar Dina.
Dina menyebutkan, martabak telur puyuh yang dijual Kasman rasanya sangat memuaskan. “Kalau menurut saya enak sih, worth it seporsi Rp12 ribu mah,” tambah Dina.
Menurut Dina, ia sudah berlangganan cukup lama. Bahkan, ia kerap membelikan camilan tersebut untuk rekan kerjanya di kantor. “Biasanya kalau ke kantor bisa beli 3-5 porsi, berhubung sekarang balik lagi ke rumah, jadi hanya beli 2 porsi saja,” pungkas Dina.
