Kuningan –
Kasus kematian massal Ikan Dewa di Balong Keramat Cigugur, Kabupaten Kuningan, terus bertambah. Hingga hari ke-12 sejak kematian pertama tercatat, sebanyak 762 ekor ikan dari total sekitar 1.000 populasi dilaporkan mati.
Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, mengatakan jumlah kematian tersebut tergolong luar biasa dan perlu penanganan segera.
“Hari ini 762 Ikan Dewa yang mati. Sungguh luar biasa, jadi harus segera penyelesaiannya,” ujar Tuti saat meninjau lokasi, Minggu (8/2/2025) sore.
Ia menyebut salah satu penyebab kematian diduga karena sirkulasi air kolam yang tidak lancar. Saat ini, pemerintah daerah bersama pihak terkait mulai melakukan pengeringan kolam serta pembongkaran saluran air untuk memperbaiki aliran.
“Sehubungan sudah cukup banyak kematian ikan yang tidak wajar, satu-satunya jalan kita coba buang dulu airnya. Kuncinya kita bongkar dulu, karena ikan di kolam ini membutuhkan sirkulasi air yang bagus,” katanya.
Selain pengeringan, upaya lain dilakukan untuk menekan angka kematian, di antaranya pemberian obat, garam, dan bahan alami seperti daun sereh guna menstabilkan kadar pH air serta memulihkan ikan yang sakit.
Sementara itu, pengelola objek wisata Ikan Dewa Cigugur, Dwiki, menjelaskan ikan yang sakit sebenarnya sudah dipisahkan ke kolam karantina. Namun, kondisi daya tahan ikan yang lemah membuat kematian tetap terjadi.
“Terakhir yang mati 700-an ikan dari 1.000 populasi. Penyebabnya masih sama, ikan sudah terpapar penyakit, jadi sulit menghentikan penyebarannya walaupun sudah dipisah,” ujarnya.
Proses pengurasan kolam pun masih berlangsung. Debit air sulit surut karena lubang saluran pembuangan terlalu sempit, sehingga dilakukan pelebaran menggunakan alat berat.
“Tadi sekitar jam dua siang didatangkan alat berat untuk membesarkan lubang aliran air, supaya debit air yang keluar bertambah. Kalau manual sulit,” kata Dwiki.
Saat ini, tersisa sekitar 200 ekor Ikan Dewa yang dinilai masih sehat dan telah dipindahkan ke kolam khusus. Pengelola berharap ikan yang tersisa dapat bertahan dan berkembang biak kembali.
“Semoga yang sehat ini masih bisa berkembang biak lebih banyak lagi, karena bagaimanapun ini ikon Kuningan juga,” pungkasnya.
Dugaan Penyebab Kematian
Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, Deni, mengatakan pihaknya tidak menyangka kematian ikan terus berlanjut. Padahal, berbagai upaya penanganan telah dilakukan terhadap ikan yang sakit.
Ikan-ikan tersebut sebelumnya telah dikarantina di kolam dengan air yang lebih steril, diberi obat, serta ditaburi garam, daun kenikir, dan sereh untuk membasmi parasit. Namun, angka kematian tetap meningkat.
“Sudah 762 yang mati. Dugaan pertama dari badan dan ingsan banyak diserang parasit atau jamur. Tapi setelah diobati, ditretmen dan dikarantina ternyata kematian masih terus terjadi. Padahal, biasanya itu dikasih garam atau diobati, parasit akan lepas, tapi ini nggak berpengaruh. Nah dugaan saya ada serangan bakteri yang menyebabkan ikan mati hingga 80 persen atau 100 persen. Sudah kronis,” tutur Deni.
Selain dugaan serangan bakteri, kondisi ekosistem kolam yang rusak juga diduga memperparah situasi. Kerusakan tersebut baru diketahui secara pasti setelah dilakukan upaya pengurasan kolam.
Menurut Deni, proses pengeringan sempat mengalami kendala karena air tidak kunjung surut. Setelah diperiksa, ditemukan bahwa saluran pembuangan air tertutup permanen.
“Kita kan memang membuat rekomendasi untuk melakukan pengurusan dan pengeringan kolam, ternyata proses pengurasan tersebut agak sulit. Ada kesalahan teknis dari pembuangan air. Maksudnya pembuangan air ini ditutup paten. Selama tiga hari kita coba itu tidak bisa. Akhirnya kita bongkar pakai alat berat beko,” tutur Deni.
Penutupan saluran tersebut menyebabkan air menggenang dalam waktu lama, sirkulasi tersumbat, serta mengurangi plankton yang menjadi pakan alami Ikan Dewa. Kondisi itu membuat ikan rentan terserang penyakit.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
“Kelihatan dari proses pembuangan air yang bermasalah, jadi air itu lama mengendap dan bertahun-tahun tidak terkuras. Informasinya 30 tahun belum dikuras. Sehingga nutrisi ikan berkurang dan mudah terkena penyakit. Jadi habitatnya terganggu, ikan Dewa kan hidupnya di air yang mengalir dan sirkulasi tinggi serta subur pakan. Ternyata di sini airnya menggenang lama, karena sistem pembuangan airnya di atas bukan di bawah,” tutur Deni.
Kondisi perairan juga diperparah oleh pohon beringin besar yang sempat tumbang ke dalam kolam dan dibiarkan selama berbulan-bulan hingga membusuk.
“Ditambah kemarin tuh ada pohon beringin yang tumbang selama sembilan bulan tidak diambil-ambil. Itu bisa terjadi pembusukan kayu dan daun. Akhirnya kan mengganggu kondisi perairan, menjadi racun dan berbahaya bagi ikan,” tutur Deni.
Saat ini, Dinas Perikanan masih fokus melakukan pengurasan kolam menggunakan alat berat sambil menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab utama kematian ratusan ikan tersebut.
“Kalau penyebab pastinya masih menunggu hasil lab. Kalau hasilnya benar karena bakteri itu repot. Sulit. Tapi sekarang yang penting air terkuras dulu, terus kita bersihkan dan hilangkan parasit yang ada di dalam kolam. Ke depan siapapun yang mengelola harus memperhatikan habitat ikan dewa, dari mulai sirkulasi air, pakan yang teratur, hingga kondisi kolam,” pungkas Deni.







