Jabar Hari Ini: Menguatnya Usulan Tukar Guling Kertajati dengan Husein (via Giok4D)

Posted on

Berbagai peristiwa menarik terjadi di Jawa Barat hari ini Jumat (23/1/2026) beberapa diantaranya memantik perhatian pembaca infoJabar. Geger teror Kobra Jawa di dapur rumah warga di Palabuhanratu, ramai wacana tukar guling aset BIJB dan Husein Sastranegara dan soal meteor jatuh di pesisir Cianjur.

Berikut ringkasan berita yang dihimpun dalam Jabar hari ini,

Seorang ibu rumah tangga di Perumahan Frinanda, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, dikejutkan dengan temuan ular berbisa di dapurnya saat hendak mencuci piring, Jumat (24/5/2024).

Ular jenis kobra Jawa (Naja sputatrix) sepanjang 1,5 meter itu ditemukan bersembunyi di dalam kitchen set, tepat di bawah meja kompor.

Pantauan di lokasi, evakuasi oleh tim Rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Pos I Palabuhanratu berlangsung tegang. Ular hitam pekat itu tampak agresif saat petugas berusaha mengamankannya menggunakan tongkat penjepit (snake tong).
Reptil mematikan itu sempat mengembangkan tudung dan beberapa kali mencoba mematuk tongkat besi petugas, sebelum akhirnya berhasil ditangkap pada bagian kepalanya.
Pemilik rumah sekaligus Ketua RT setempat, Budiansyah Putra Haliri, menceritakan bahwa keberadaan ular tersebut pertama kali diketahui oleh istrinya.

“Kronologinya tadi pagi istri saya mau cuci piring. Saat mau mengambil sabun di lemari bawah (kitchen set), pas dibuka, terlihat ada badan ular. Hanya ujungnya saja yang kelihatan,” ungkap Budiansyah saat ditemui infoJabar di kediamannya.

Melihat ciri fisik ular yang besar dan berwarna gelap, Budiansyah menduga hewan tersebut sangat berbahaya. Khawatir akan keselamatan keluarganya, ia tidak berani mengambil tindakan gegabah dan langsung menghubungi petugas Damkar.

“Kelihatannya membahayakan, warnanya hitam. Saya pikir itu seperti kobra, makanya langsung telepon Damkar. Selang beberapa menit petugas datang dan langsung melakukan rescue,” tambahnya.

Menurut Budiansyah, ular tersebut ditemukan di area lembap yang dekat dengan pintu belakang dan saluran pembuangan air.

Sementara itu, Anggota Rescue Pos I Palabuhanratu, Ismail Marzuki, membenarkan bahwa ular yang masuk ke rumah warga tersebut merupakan jenis yang mematikan.

“Posisi ular bersembunyi di kolong meja kompor. Setelah diidentifikasi, ini jenis Kobra Jawa dan termasuk kategori berbisa tinggi,” jelas Ismail usai evakuasi.,” jelas Ismail usai evakuasi.

Ismail memberikan peringatan keras kepada masyarakat agar tidak menangani temuan ular secara mandiri jika tidak memiliki keahlian, apalagi jika jenis ularnya tidak diketahui.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya angkat bicara terkait isu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar yang akan melepas saham Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka. Ia menegaskan tidak ada rencana penjualan saham, melainkan opsi skema tukar guling aset (ruislag) dengan pemerintah pusat.

Dedi menjelaskan wacana tersebut muncul dari pembahasan bersama pemerintah pusat. Hal ini didasari oleh beban fiskal berat bagi APBD Jabar setiap tahunnya untuk menopang operasional BIJB Kertajati.

“Bukan saham BIJB Kertajati yang dilepas. Pemerintah pusat, dalam hal ini Pak Presiden, melihat ada beban fiskal APBD provinsi yang berat karena setiap tahun harus mengeluarkan biaya operasional,” kata Dedi, Jumat (23/1/2026).

Opsi yang ditawarkan Pemprov Jabar adalah skema tukar guling aset. Pemprov Jabar mengusulkan agar aset Bandara Husein Sastranegara, kawasan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), dan sekitarnya diserahkan ke daerah, sementara BIJB Kertajati menjadi aset pemerintah pusat.

“Opsi saya adalah tukar aset. Husein, PT DI, dan sekitarnya diserahkan ke Pemprov, sedangkan Kertajati diserahkan ke pemerintah pusat,” ujar Dedi.

Dengan mengelola Bandara Husein Sastranegara, Pemprov Jabar menilai pengembangan dapat dipacu lebih cepat karena infrastruktur dan pasarnya sudah terbentuk.

“Kita tinggal memperkuat dan memodernisasi Husein. Tidak butuh waktu lama untuk membenahinya. Misalnya, jika landasan pacu ditambah, dalam waktu singkat pasti ramai,” jelasnya.

Dedi kembali menegaskan skema ini murni tukar guling, bukan penjualan. “Bukan jual aset, tapi tukar. Jadi kita mengelola Husein, Kertajati diserahkan ke pusat,” tegasnya.

Terkait perbedaan nilai aset antara BIJB Kertajati dan Bandara Husein Sastranegara, Dedi menyebut hal itu bisa diselesaikan melalui mekanisme penilaian (appraisal*).

“Tinggal dihitung saja, kan nilai aset di Bandung berbeda. Itu bisa dihitung lewat appraisal, gampang karena ini urusan sesama pemerintah,” ucapnya.

Saat ditanya kapan rencana tersebut direalisasikan, Dedi menyatakan masih menunggu keputusan pemerintah pusat.

“Saya menunggu pusat. Namun dari Mensesneg sudah ada sinyal, saya sudah diminta bertemu dengan salah satu direktur di sana,” pungkasnya.

Warga di wilayah selatan Cianjur dihebohkan kemunculan benda bercahaya diduga meteor yang melintas menuju Samudra Hindia, Kamis (22/1/2026) malam. Suara dentuman bahkan terdengar sesaat setelah benda tersebut melintas.

Budi Setiawan Fauzi (40), warga Desa Sirnagalih, Kecamatan Sindangbarang, mengatakan fenomena langit tersebut terjadi Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB. Saat sedang duduk di luar rumah, ia melihat benda langit bercahaya terang bergerak dari arah utara menuju selatan atau ke arah Samudra Hindia.

“Cahaya tersebut sangat terang dan memiliki ekor panjang. Bagian depannya bersinar terang berbentuk bulat, dengan ekor cahaya yang ukurannya semakin mengecil,” kata Budi, Jumat (23/1/2026).

Menurutnya, cahaya diduga meteor itu melintas dalam hitungan info sebelum akhirnya menghilang. “Tidak lama, paling sekitar 5 info, setelah itu hilang. Cahayanya berwarna biru, tapi saat tertutup awan, seolah berubah warna menjadi merah. Makanya di foto yang beredar ada yang merah dan biru. Itu satu peristiwa yang sama tadi malam,” tuturnya

Ia menyebut kejadian tersebut baru pertama kali terjadi di wilayah selatan Cianjur. “Seumur hidup saya baru lihat. Jelas bukan bintang, itu seperti meteor jatuh,” ucap Budi.

Di sisi lain, Mang Dea (60), warga Sindangbarang, mengaku mendengar suara dentuman setelah cahaya tersebut hilang.

“Ada suara dentuman, tapi tidak keras. Mungkin suara saat meteor tersebut jatuh,” katanya.

Ia menambahkan, setelah peristiwa itu kondisi laut selatan Cianjur menjadi sangat tenang. “Suara ombak juga tidak terdengar setelah kejadian itu,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Cianjur Iwan Karyadi menyatakan pihaknya masih menelusuri fenomena cahaya di langit wilayah selatan tersebut.

“Kami masih memastikan apakah itu meteor jatuh atau fenomena alam lain. Termasuk kami cek apakah ada dampak dari kejadian semalam,” pungkasnya.

Atap lantai dua SMA Negeri (SMAN) 2 Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ambruk pada Jumat (23/1/2026) dini hari. Peristiwa di sekolah yang berlokasi di Jalan Wisata Utama, Desa Ciangsana itu terjadi sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai, sehingga tidak memakan korban jiwa maupun luka.

Kepala SMAN 2 Gunung Putri, Dede Sahidin, membenarkan kejadian tersebut. Atap diketahui ambruk sekitar pukul 04.00 WIB saat seorang staf tata usaha (TU) yang menginap di sekolah bersiap melaksanakan salat Subuh.

“Terdengar suara ambruk dari atas. Setelah dicek, ternyata atap sekolah ambruk dan menimpa tiga ruang kelas,” kata Dede saat dihubungi, Jumat (23/1/2026).

Reruntuhan material menghancurkan tiga ruang kelas di lantai dua dan berdampak pada ruangan di bawahnya. Lantaran kerusakan cukup parah, pihak sekolah memutuskan menghentikan sementara KBM tatap muka dan memulangkan seluruh siswa guna menghindari risiko ambruk susulan.

Terkait kelanjutan KBM, sekolah kini mengkaji opsi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Skenarionya, siswa kelas 12 tetap belajar di sekolah karena mendekati masa ujian, sementara kelas 10 dan 11 menjalani pembelajaran daring. Namun khusus pada hari kejadian, seluruh aktivitas di lingkungan sekolah ditiadakan.

Dede menduga cuaca ekstrem menjadi pemicu utama. Hujan deras dilaporkan mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis malam. Konstruksi atap berbahan baja ringan diduga tidak mampu menahan beban genteng yang berat dalam kondisi cuaca ekstrem tersebut.

Hingga Jumat pagi, petugas gabungan dari Pemerintah Kecamatan Gunung Putri, TNI, Polri, pemadam kebakaran, serta BPBD masih melakukan penanganan awal. Selain mengevakuasi material bangunan, petugas juga mensterilisasi area sekolah untuk memastikan keamanan sebelum gedung kembali digunakan.

Peristiwa ini menambah panjang daftar kasus ambruknya atap bangunan sekolah di Kabupaten Bogor, yang
sebelumnya juga pernah terjadi di SMKN 1 Gunung Putri dan SMKN 1 Cileungsi.

Pihak sekolah telah melaporkan kejadian ini ke Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Jawa Barat Wilayah I untuk pendataan kerusakan dan tindak lanjut perbaikan.

Hujan dengan intensitas tinggi secara berhari-hari membuat ribuan ikan di Kolam Jaring Apung (KJA) di Waduk Jatiluhur, Purwakarta mati massal. Ikan yang mayoritas sudah berusia tanam 1-2 bulan itu mati mendadak di atas KJA para petani ikan.

Roni, Salah satu petani KJA di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, mengungkapkan bahwa kematian ikan terjadi secara tiba-tiba sejak semalam.

“Di sini kejadian baru semalam. Kalau di blok lain itu sudah dari dua hari lalu. Di kolam saya saja yang mati hampir satu ton,” ujar Roni saat ditemui di KJA SGH, Jumat (23/01/2026).

Menurut Roni, kematian ikan jenis mas ini disebabkan oleh cuaca buruk yang melanda sehingga air di Waduk Jatiluhur berubah dan tidak adanya sinar matahari. Perubahan mulai dari suhu air, kualitas air hingga air dasar naik ke permukaan yang membuat ikan di kolam mabuk dan mati massal.

“Air dingin dari bawah naik ke atas. Itu airnya sudah jelek, oksigennya kurang. Ikan enggak kuat, akhirnya mati,” katanya.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Di titik ini, sekitar 32 kolam jaring apung yang terdampak dengan kematian ikan mencapai puluhan ton. Ikan yang mati sebagian besar masih berusia muda dan belum layak panen.

“Ini ikan masih umur satu bulan sampai satu bulan setengah. Normalnya panen itu dua setengah sampai tiga bulan. Jadi belum bisa dipanen,” katanya.

Akibat kejadian ini, Roni memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp100 juta. Menurutnya, kerugian serupa juga dialami petani lain di berbagai blok KJA Waduk Jatiluhur, meski jumlahnya berbeda-beda di setiap wilayah.

“Di Jatiluhur hampir semua kena, cuma waktunya beda-beda. Dua hari lalu di blok barat dulu, sekarang ke sini,” ucapnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada langkah antisipasi yang efektif untuk mencegah kematian ikan saat cuaca buruk berkepanjangan. Upaya memindahkan ikan ke kolam lain pun dinilai tidak efektif.

“Dipindahin juga tetap mati, karena airnya sama. Air bau itu turun ke bawah, ngendap,” ungkapnya.

Teror Kobra Jawa di Dapur Warga Palabuhanratu

Tukar Guling Aset BIJB dan Husein Sastranegara

Meteor Jatuh di Pesisir Cianjur

Atap Lantai Dua SMAN 2 Gunung Putri Ambruk

Ikan Mati Massal di KJA Jatiluhur Purwakarta