Ibu-Ibu di Panyileukan Bandung Sulap Sampah Jadi Cuan

Posted on

Hujan ringan mengguyur kawasan Panyileukan, Kota Bandung. Meski tak deras, warga yang beraktivitas di luar rumah tetap harus bersiaga dengan jas hujan atau payung agar tidak basah kuyup.

Meski pagi terasa dingin, sejumlah ibu tampak sibuk memilah sampah anorganik dari warga sekitar. Mereka mengelola sampah di Bank Sampah KB Soka, Jalan Panutan Raya, Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung.

Saat infoJabar mengunjungi lokasi, empat perempuan dan seorang pria tengah sibuk memilah sampah anorganik. Para perempuan bertugas menyortir jenis sampah seperti kantong kresek, botol plastik, hingga kardus. Khusus botol plastik, mereka harus mencopot label merek dan tutupnya untuk mempermudah penjualan.

Sementara itu, seorang pria bertugas mengangkut sampah, baik yang belum maupun sudah disortir. Ia juga berkeliling mengambil sampah langsung dari rumah-rumah warga di kelurahan tersebut.

Wakil Direktur Bank Sampah KB Soka, Elis Diliawati mengatakan, saat ini terdapat 170 nasabah yang seluruhnya merupakan warga Kelurahan Cipadung Kulon.

“Nasabah kami ada 170 orang yang berasal dari tiap RW. Mereka semua memiliki tabungan sampah masing-masing,” kata Elis kepada infoJabar, Kamis (22/1/2025).

Elis mengungkapkan, sampah tersebut dikirim oleh warga seminggu sekali. Hal ini dilakukan untuk membiasakan warga memilah dan menyimpan sampah secara mandiri.

“Sampah organik dikirim ke Buruan Sae, sampah anorganik ke sini, dan residunya baru ke TPA. Warga mengumpulkan sendiri; selain ke bank sampah, ada juga yang menjualnya langsung ke pengepul,” ungkapnya.

Di tengah penghentian operasional 15 insinerator di Kota Bandung oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol, Elis menilai keberadaan bank sampah sangat efektif menekan volume sampah di Kota Bandung.

“Sangat efektif, karena sampah anorganik sulit terurai jika dibuang ke TPA. Setiap minggu, kami bisa mengelola 500 kilogram sampah anorganik seperti kardus, duplex, dan botol plastik. Ini sangat membantu mengurangi beban pembuangan ke Sarimukti,” jelasnya.

Elis menyebut ada 10 warga yang menjadi relawan di bank sampah tersebut dengan sistem sukarela. Di tengah banyaknya bank sampah yang “mati suri”, ia menekankan bahwa konsistensi adalah kunci yang berakar dari kepedulian terhadap lingkungan.

“Kembali ke diri sendiri. Kalau bukan kita yang peduli lingkungan, siapa lagi? Kadang ada pikiran untuk berhenti, tapi kalau berhenti, siapa yang mau mengurus sampah? Nanti sampah malah menumpuk di mana-mana,” terangnya.

Elis mengisahkan, Bank Sampah KB Soka digagas oleh Pemkot Bandung dan berdiri sejak setahun yang lalu. Saat ini, operasional mereka didukung oleh bantuan CSR BRI Peduli.

“Kami menerima bantuan renovasi bangunan dari BRI, sekarang kondisinya jauh lebih baik. Kami juga mendapat bantuan motor roda tiga untuk menjemput sampah di rumah warga yang tidak terjangkau gerobak,” ujarnya.

“Bantuan transportasi ini sangat membantu. Sebelumnya, untuk menjemput sampah yang jaraknya jauh, kami harus menggunakan motor pribadi,” tambahnya.

Bantuan ini merupakan bagian dari program CSR ‘BRI Yok Kita GAS’ (Gerakan Kelola Sampah) oleh BRI Region 9 Bandung. Program ini tidak hanya menghadirkan fasilitas fisik, tetapi juga mendorong kesadaran baru di masyarakat.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan bahwa program ini mendorong masyarakat untuk memahami pentingnya pemilahan sampah dari rumah dan pengelolaan limbah secara mandiri.

“Inovasi ini tidak hanya memberikan insentif langsung untuk mendaur ulang, tetapi juga mengubah paradigma publik. Botol plastik yang dulu dianggap sampah kini bernilai ekonomi. Setiap individu berkesempatan menjaga lingkungan sekaligus mendapat manfaat ekonomi,” ujar Dhanny sebagaimana dikutip dari infoFinance.

Elis mengungkapkan, sampah tersebut dikirim oleh warga seminggu sekali. Hal ini dilakukan untuk membiasakan warga memilah dan menyimpan sampah secara mandiri.

“Sampah organik dikirim ke Buruan Sae, sampah anorganik ke sini, dan residunya baru ke TPA. Warga mengumpulkan sendiri; selain ke bank sampah, ada juga yang menjualnya langsung ke pengepul,” ungkapnya.

Di tengah penghentian operasional 15 insinerator di Kota Bandung oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol, Elis menilai keberadaan bank sampah sangat efektif menekan volume sampah di Kota Bandung.

“Sangat efektif, karena sampah anorganik sulit terurai jika dibuang ke TPA. Setiap minggu, kami bisa mengelola 500 kilogram sampah anorganik seperti kardus, duplex, dan botol plastik. Ini sangat membantu mengurangi beban pembuangan ke Sarimukti,” jelasnya.

Elis menyebut ada 10 warga yang menjadi relawan di bank sampah tersebut dengan sistem sukarela. Di tengah banyaknya bank sampah yang “mati suri”, ia menekankan bahwa konsistensi adalah kunci yang berakar dari kepedulian terhadap lingkungan.

“Kembali ke diri sendiri. Kalau bukan kita yang peduli lingkungan, siapa lagi? Kadang ada pikiran untuk berhenti, tapi kalau berhenti, siapa yang mau mengurus sampah? Nanti sampah malah menumpuk di mana-mana,” terangnya.

Elis mengisahkan, Bank Sampah KB Soka digagas oleh Pemkot Bandung dan berdiri sejak setahun yang lalu. Saat ini, operasional mereka didukung oleh bantuan CSR BRI Peduli.

“Kami menerima bantuan renovasi bangunan dari BRI, sekarang kondisinya jauh lebih baik. Kami juga mendapat bantuan motor roda tiga untuk menjemput sampah di rumah warga yang tidak terjangkau gerobak,” ujarnya.

“Bantuan transportasi ini sangat membantu. Sebelumnya, untuk menjemput sampah yang jaraknya jauh, kami harus menggunakan motor pribadi,” tambahnya.

Bantuan ini merupakan bagian dari program CSR ‘BRI Yok Kita GAS’ (Gerakan Kelola Sampah) oleh BRI Region 9 Bandung. Program ini tidak hanya menghadirkan fasilitas fisik, tetapi juga mendorong kesadaran baru di masyarakat.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan bahwa program ini mendorong masyarakat untuk memahami pentingnya pemilahan sampah dari rumah dan pengelolaan limbah secara mandiri.

“Inovasi ini tidak hanya memberikan insentif langsung untuk mendaur ulang, tetapi juga mengubah paradigma publik. Botol plastik yang dulu dianggap sampah kini bernilai ekonomi. Setiap individu berkesempatan menjaga lingkungan sekaligus mendapat manfaat ekonomi,” ujar Dhanny sebagaimana dikutip dari infoFinance.