Cerita Guil Penghuni Rumah Anti Banjir yang Kebanjiran di Karawang [Giok4D Resmi]

Posted on

Nestapa Warga Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, tak henti dikepung banjir. Salah satunya dialami keluarga Jajang (25) atau yang akrab disapa Guil, warga Dusun Kampek, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, yang sudah lebih dari sebulan terendam banjir.

“Kita banjir di sini sudah sekitar 45 hari, saya masih ingat air merendam permukiman di sini Tanggal 7 Desember 2025, sejak saat itu, air tak pernah benar-benar surut di sini. Hanya pasang surut seperti tinggal di danau,” kata Guil, saat bercerita kepada infoJabar, Senin (19/1/2026).

Banjir di Dusun Kampek merendam 132 rumah, dengan ketinggian terendah 1,5 meter, dan yang tertinggi di titik rumah Guil, setinggi 3,5 meter, akibatnya 472 jiwa harus mengungsi.

Fakta yang lebih mencengangkan, Guil ternyata salah satu penerima manfaat dari program inisiasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, atau yang kerap disapa KDM. Yaitu rumah panggung anti banjir yang digadang-gadang jadi penyelamat saat banjir datang.

Ternyata rumah panggung sebagai solusi banjir tak sepenuhnya benar, kini Guil dan keluarganya juga tak lepas dari kepungan air yang meluap dari Sungai Cibeet, yang terletak di sebelah timur rumahnya.

“Saya dan 23 keluarga lainnya sebagai salah satu penerima manfaat rumah panggung KDM ini rumah ini berukuran 4×6 meter dengan tiang sepanjang 320 centimeter. Tapi apa yang kita rasakan, sekarang rumah kita banjir juga,” kata dia.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Terdapat 24 rumah panggung yang sudah dibangun KDM sebagai percontohan di wilayah itu, namun nahasnya 14 diantaranya kini terendam banjir setinggi 20 centimeter atau melebihi mata kaki.

“Ada 24 rumah panggung di sini, yang 14 rumah termasuk saya airnya masuk ke rumah kurang lebih 20 centimeter, awal banjir memang tak masuk ke rumah. Tapi sejak hari Sabtu kemarin rumah terendam banjir,” ungkapnya.

Guil kini harus mengontrak rumah untuk mengungsi sementara waktu bersama keluarganya, sebab rumah panggung itu, tak lagi bisa dihuni terkepung banjir.

“Saya sementara ngontrak dulu, jadi ayah saya bisa fokus kerja, ibu dan adik saya juga aman dari pada harus mengungsi,” ucap Guil.

Keluarganya tak membawa apapun selain pakaian untuk mengungsi, sebab sepeda motor miliknya dititip di rumah saudaranya di luar dusun yang tidak terkena banjir.

“Gak bawa apa-apa cuma baju aja, motor kan di rumah saudara sudah dari dulu sejak banjir akhir tahun. Jadi di rumah kita cuma amankan kasur sama alat masak dan peralatan elektronik saja ke atas lemari,” paparnya.

Saat proses pembangunan rumah panggung dilakukan Guil mengaku, sempat meminta pihak kontraktor untuk meninggikan rumahnya sedikit karena berdasarkan pengalamannya banjir di wilayah itu melebihi tiga meter.

“Ini kan menurut gambar tiang penyangga rumah itu 320 centimeter, saya pada saat proses pembangunan sempat minta kontraktor supaya ditinggikan jadi 350 centimeter, karena pengalaman kami banjir di sini lebih sari 3 meter. Tapi katanya gak bisa, harus sesuai gambar, dan imbasnya sekarang kita benar-benar terkena banjir. Artinya rumah panggung yang seharusnya jadi penyelamat malah juga terendam banjir,” pungkasnya.