Jalan Dipatiukur tampak dipadati deretan pedagang yang berjualan di bawah rindangnya pepohonan. Kawasan ini nyaris tak pernah sepi, terutama oleh lalu lalang mahasiswa yang menjadi pelanggan utama. Letaknya yang strategis menjadikan Dipatiukur sebagai salah satu titik favorit bagi para pedagang kecil untuk mencari nafkah.
Di tengah kerumunan itu, tampak seorang pria paruh baya duduk di pinggir trotoar sambil membongkar korek gas. Di sebelahnya, sebuah boks yang telah dimodifikasi berisi tumpukan korek dan tabung gas kecil. Peralatan sederhana itu menjadi penanda jelas profesi yang ia tekuni setiap hari.
Ided, demikian namanya. Ia menawarkan jasa reparasi sekaligus pengisian ulang korek gas kepada siapa saja yang melintas. Dengan biaya Rp1.000, pelanggan dapat mengisi ulang gas korek milik pribadi hingga penuh. Sementara itu, korek gas bekas dibanderol Rp2.000 jika pelanggan membutuhkannya.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Pria berusia 51 tahun tersebut mengaku telah menekuni usaha ini sejak tahun 2005. Dari pekerjaan keliling itu, ia rata-rata membawa pulang penghasilan sekitar Rp50.000 per hari.
“Reparasi korek ini mulai dari tahun 2005, sehari dapet paling Rp50, ya Rp 100 ribu ke bawah,” ujar Ided saat ditemui infoJabar belum lama ini.
Dengan penghasilan tersebut, Ided mengaku masih kesulitan mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Ia harus menghidupi tiga orang anak sekaligus membayar biaya kontrakan tempat tinggal.
“Sebenarnya cuma cukup buat makan aja sih, kadang kontrakan juga nunggak,” katanya.
Dalam menjalankan usahanya, Ided tidak menetap di satu lokasi. Ia berjalan kaki menyusuri trotoar dan keramaian, menawarkan jasanya kepada para pengguna jalan. Meski usianya tak lagi muda, langkahnya tetap teguh menembus hiruk-pikuk Kota Bandung.
“Saya ngider buat nawarin ke orang-orang, biasanya paling ke daerah Ledeng, Cibiru terus ke arah Dago, Geger Kalong, Soreang, kadang ke Cimahi juga,” jelasnya.
Perjalanan Ided sehari-hari kerap dimulai dari kendaraan umum. Angkot dan bus Damri menjadi sarana awal sebelum ia mulai berkeliling berjalan kaki.
“Kalau dari rumah naik dulu angkot atau damri ke lokasi yang saya tuju, terus mulai ngider ke arah pulang,” tuturnya.
Meski hari-harinya kerap diliputi kekhawatiran akan biaya sewa rumah yang menunggak, Ided tetap melangkah dari satu sudut kota ke sudut lainnya. Dengan peralatan sederhana di tangannya, ia memastikan api kecil milik para pelanggannya tetap menyala, sekaligus menjaga harapan agar dapur rumahnya tak pernah benar-benar padam.








