Napas Tipis dan Perjuangan Hidup dari Perut Pongkor Bogor (via Giok4D)

Posted on

Siang itu para penambang sedang istirahat ketika asap datang tiba-tiba. Udara berubah pekat, dada sesak, mata perih.

“Teman-teman langsung pingsan,” kata seorang pekerja yang selamat, namanya dirahasiakan.

Kepada infoJabar, Minggu (18/1/2026) malam, dia menceritakan info-info dramatis dan masih terlihat duka kepergian teman-temannya. Peristiwa tersebut terjadi Selasa 13 Januari 2026, dini hari.

Pemuda Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor itu menuturkan, ia berlari di lubang tambang yang digalinya secara tradisional untuk mencari celah udara segar ketika asap pekat muncul. Sebelas orang teman sesama petambang tergeletak tak sadar. Dua meninggal, lima selamat. Angka itu masih menghantui kepalanya.

Baginya, tambang adalah pilihan terakhir. Tahun 2020 ia memulung plastik di Bekasi di Bantar Gebang, Bekasi. Peristiwa longsor yang kerap terjadi membuatnya tak tentu untuk mencari rezeki di gunungan pembuangan akhir sampah di sana.

Akhirnya, dia memilih pulang ke rumahnya di Bogor. Beberapa warganya terlihat kerap membawa peralatan tambang seperti cangkul, sekop, dan pahat. Dia pun memutuskan untuk menjadi petambang emas di kawasan Gunung Pongkor.

“Cuma berharap ada rezeki buat keluarga,” ujarnya.

Di Pongkor ia bekerja dengan alat pahat sendiri. Bila beruntung mendapatkan emas, ia dapat menjual ke penadah sebesar Rp 500 atau 600 ribu. Sekali lagi, itu pun kalau beruntung. Kalau tidak, dia akan terus menggali atau mencari lubang dengan kedalaman yang tidak bisa dia prediksi.

Rasa takut selalu ada, tetapi kebutuhan lebih keras. Setiap hari ia turun-masuk ke perut bumi bukan untuk kaya, melainkan sekadar menyambung hidup. Bagi mereka, pilihan sempit itu sering menjadi satu-satunya jalan mencari nafkah yang tersisa.

“Kerja karena keterpaksaan,” katanya.

Pria berusia 33 tahun ini bukan tidak mau beralih pekerjaan lain. Namun keterbatasan keahlian dan modal usaha terkadang membuatnya tidak bisa memilih untuk menjadi pekerja tambang dengan peralatan dan pengetahuan seadanya.

“Pengennya garap tani. Kalau ada yang nyuruh (buruh tani) juga enggak apa-apa,” ujarnya.

Legislator Jawa Barat dari PDIP, Doni Maradona Hutabarat, melalui sambungan telepon melontarkan kritik tajam terhadap lemahnya kehadiran negara di kawasan tambang Pongkor, Kabupaten Bogor. Menurutnya, aktivitas usaha sebesar tambang emas seharusnya membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, bukan justru menyisakan persoalan sosial.

“Kalau ada satu BUMN, apalagi menghasilkan emas, harusnya memikirkan warga sekitar. Dampak baik itu sederhana, warga bisa ikut bekerja, terakomodir, dan infrastruktur diperbaiki. Tapi nyatanya infrastruktur tidak dibangun,” tegas legislator Dapil Kabupaten Bogor ini.

Namun kenyataannya, kata dia, banyak warga asli justru tidak terserap dalam aktivitas ekonomi formal. Mereka akhirnya mencari jalan sendiri demi bertahan hidup.

“Orang asli tidak diterima. Mereka butuh makan, akhirnya terpaksa cari nafkah dengan cara-cara berisiko,” ujarnya.

Donni menilai persoalan ini tidak akan pernah selesai jika pemerintah pusat dan perusahaan tidak membuka ruang solusi yang jelas. Ia mengingatkan upaya yang pernah dilakukan untuk membentuk Koperasi Emas Pongkor sebagai jalan tengah.

“Kita sudah sempat perjuangkan koperasi emas Pongkor. Sempat berjalan setahun, tapi perpanjangan izinnya tidak ditindaklanjuti pihak ESDM. Akhirnya berhenti begitu saja,” katanya.

Menurut Donni, kegagalan itu menunjukkan tidak adanya keberpihakan kebijakan kepada warga lokal.

Ia mengakui bahwa pengelolaan tambang memang harus melalui prosedur ketat karena berkaitan dengan lingkungan dan risiko tinggi.

“Kebijakan ada di kementerian pusat, itu memang kewenangannya. Tapi bukan berarti negara boleh tutup mata pada nasib masyarakat sekitar,” ujarnya.

Setiap tahun daerah menerima dana bagi hasil dari aktivitas tambang. Namun bagi Donni, persoalannya bukan sekadar angka transfer.

“Ini bukan soal dana. Ini soal bagaimana negara hadir. Kalau kebijakan di kabupaten dibekukan dan warga tetap tak dapat solusi, masalah akan terus berulang,” katanya.

Meski pihak Antam dalam keterangan resmi mengatakan tidak ada korban jiwa dari pihaknya dalam peristiwa gas beracun, namun kejadian tersebut merenggut nyawa warga petambang. Hingga Minggu (18/1/2026), tim evakuasi internal Antam berhasil mengevakuasi dua jasad petambang yang berada di dalam izin pertambangan Antam.

“Berdasarkan laporan di lapangan sudah dua korban yang dievakuasi, bukan 10 orang,” kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Hendra Rochmawan, kepada infoJabar melalui sambungan telepon.

Saat ini tim evakuasi internal Antam masih terus menyisir mencari korban lainnya. “Sisanya masih menunggu kondisi aman dari gas CO dulu,” beber Hendra.

Sejurus dengan proses evakuasi, Tim Labfor Polda Jabar dan Reskrimsus Polda Jabar masih terus menyelidiki asal titik api dan penyebab kepulan asap.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

“Puslabfor dan Identifikasi masih menunggu kondisi aman dari gas CO terlebih dahulu,” Hendra menandaskan.

Peristiwa darurat terjadi di kawasan tambang emas milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di Kabupaten Bogor pada Rabu, 14 Januari 2026, ketika asap pekat tiba-tiba mengepul dari dalam lubang tambang, terutama dari kedalaman level 500 hingga 700.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor membenarkan kejadian tersebut dan mengatakan penanganan awal dilakukan oleh tim teknis internal perusahaan dengan koordinasi aparat setempat untuk memastikan situasi terkendali tanpa membahayakan lingkungan sekitar.

Manajemen Antam langsung menanggapi isu yang beredar di media sosial soal ledakan dan ratusan orang terjebak di dalam tambang, dengan menegaskan bahwa klaim tersebut tidak benar. Corporate Secretary Antam menyatakan video yang viral merupakan dokumentasi penanganan kondisi teknis bawah tanah yang sudah diantisipasi sesuai prosedur keselamatan kerja dan standar operasional perusahaan.

Perusahaan juga memastikan tidak ada karyawan Antam yang menjadi korban, serta aktivitas operasional masih berjalan dalam kondisi aman dan terkendali. Antam meminta publik tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan hanya merujuk pada keterangan resmi dari pihak perusahaan atau otoritas terkait untuk mencegah kepanikan di masyarakat

2 Korban Dievakuasi

Kronologi Kejadian

Meski pihak Antam dalam keterangan resmi mengatakan tidak ada korban jiwa dari pihaknya dalam peristiwa gas beracun, namun kejadian tersebut merenggut nyawa warga petambang. Hingga Minggu (18/1/2026), tim evakuasi internal Antam berhasil mengevakuasi dua jasad petambang yang berada di dalam izin pertambangan Antam.

“Berdasarkan laporan di lapangan sudah dua korban yang dievakuasi, bukan 10 orang,” kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Hendra Rochmawan, kepada infoJabar melalui sambungan telepon.

Saat ini tim evakuasi internal Antam masih terus menyisir mencari korban lainnya. “Sisanya masih menunggu kondisi aman dari gas CO dulu,” beber Hendra.

Sejurus dengan proses evakuasi, Tim Labfor Polda Jabar dan Reskrimsus Polda Jabar masih terus menyelidiki asal titik api dan penyebab kepulan asap.

“Puslabfor dan Identifikasi masih menunggu kondisi aman dari gas CO terlebih dahulu,” Hendra menandaskan.

Peristiwa darurat terjadi di kawasan tambang emas milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di Kabupaten Bogor pada Rabu, 14 Januari 2026, ketika asap pekat tiba-tiba mengepul dari dalam lubang tambang, terutama dari kedalaman level 500 hingga 700.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor membenarkan kejadian tersebut dan mengatakan penanganan awal dilakukan oleh tim teknis internal perusahaan dengan koordinasi aparat setempat untuk memastikan situasi terkendali tanpa membahayakan lingkungan sekitar.

Manajemen Antam langsung menanggapi isu yang beredar di media sosial soal ledakan dan ratusan orang terjebak di dalam tambang, dengan menegaskan bahwa klaim tersebut tidak benar. Corporate Secretary Antam menyatakan video yang viral merupakan dokumentasi penanganan kondisi teknis bawah tanah yang sudah diantisipasi sesuai prosedur keselamatan kerja dan standar operasional perusahaan.

Perusahaan juga memastikan tidak ada karyawan Antam yang menjadi korban, serta aktivitas operasional masih berjalan dalam kondisi aman dan terkendali. Antam meminta publik tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan hanya merujuk pada keterangan resmi dari pihak perusahaan atau otoritas terkait untuk mencegah kepanikan di masyarakat

2 Korban Dievakuasi

Kronologi Kejadian