Kisah Hadi, Nelayan Pangandaran yang Kuliahkan Anak dari Hasil Melaut

Posted on

Siang itu, suasana Pantai Timur Pangandaran cukup terik. Sinar matahari terasa menyengat kulit. Di pesisir Cikidang, riuh aktivitas nelayan yang menjual hasil tangkapan ke pelelangan menciptakan suasana sibuk.

Beragam jenis ikan memenuhi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cikidang. Lokasi ini menjadi tumpuan banyak nelayan yang menggantungkan hidup dari setiap ekor ikan yang mereka daratkan. Salah satu nelayan, Hadi (42), menjadikan profesi ini sebagai tumpuan utama untuk menafkahi keluarganya.

Sejak kecil, Hadi terbiasa mengikuti ayahnya melaut. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya akrab dengan gempuran ombak dan cuaca yang tak menentu di tengah lautan.

“Sejak kecil saya ikut orang tua melaut. Alhamdulillah, sampai sekarang bisa meneruskan profesi ini sebagai mata pencaharian utama,” ucap Hadi kepada infoJabar, Kamis (15/1/2026).

Hadi menuturkan, laut Pangandaran telah menghidupi keluarganya selama puluhan tahun. “Bahkan, biaya kuliah anak saya pun alhamdulillah terpenuhi dari hasil menjual ikan,” katanya.

Ia mengenang masa ketika anak pertamanya menyampaikan keinginan untuk kuliah. “Dulu sempat pesimistis. Namun, berkat doa dan kegigihan (nu keyeung) anak saya, saya jadi semangat bekerja. Sekarang pendidikannya sudah hampir selesai,” ujarnya.

Dalam sehari, Hadi mengaku bisa meraup penghasilan kotor hingga Rp1 juta. “Namun itu belum dipotong biaya BBM dan kebutuhan lainnya. Bersihnya mungkin sekitar Rp500 ribu per hari,” jelasnya.

Meski demikian, kondisi laut tak selalu bersahabat. “Kalau musim paceklik, saya harus memutar otak agar tetap bisa bertahan,” ucapnya.

Pada 2025 lalu, Hadi harus menerapkan berbagai cara untuk menangkap ikan, salah satunya dengan memancing manual. “Kalau pakai jaring sedang susah, saya biasanya beralih memancing. Kadang-kadang hasilnya justru lebih banyak,” tambahnya.

Ia menceritakan, pendapatan tahun lalu cukup sulit karena paceklik parah. Saat itu, ikan yang paling banyak didapat hanya jenis layur dan dadawa.

“Kami tetap melaut tapi beralih memancing layur dan tenggiri,” katanya.

Dalam kondisi apa pun, Hadi tetap mengandalkan teknik jaring tanam dan sirang. “Dua cara ini dinilai paling efektif dalam berbagai kondisi,” ungkapnya.

Hadi bersyukur, bermodalkan satu perahu miliknya, ia tetap bisa menafkahi keluarga dengan lancar. “Alhamdulillah, selalu disyukuri sekecil apa pun penghasilannya. Dapat ikan banyak atau sedikit, tetap dinikmati,” pungkasnya.