Makna Isra Miraj bagi Umat Islam, dari Salat hingga Semangat Dakwah

Posted on

Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu momen paling bersejarah bagi umat Islam yang sarat dengan hikmah dan makna spiritual. Perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan naik ke langit ini tidak hanya menunjukkan kebesaran Allah SWT, tetapi juga menegaskan kedudukan Rasulullah SAW sebagai utusan-Nya yang mulia.

Hingga kini, Isra Mi’raj terus diperingati sebagai peristiwa penting yang mengandung berbagai hikmah bagi kehidupan beragama. Berbagai hikmah dapat dipetik dari peristiwa Isra Mi’raj, mulai dari perintah shalat lima waktu, penguatan spiritual, hingga dorongan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan bagi umat Muslim.

Berikut adalah poin-poin hikmah peristiwa Isra Mi’raj lengkap beserta dalilnya, sebagaimana disarikan dari laman web resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan NU Online.

Peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi pada masa ketika Nabi Muhammad SAW berada dalam kondisi duka yang sangat mendalam. Kesedihan itu muncul setelah wafatnya dua sosok terdekat sekaligus pendukung utama dakwah beliau, yakni istri tercinta Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib.

Allah SWT menciptakan manusia dengan perasaan dan rasa cinta, sehingga ketika mengalami musibah besar, wajar apabila kesedihan menyelimuti hati dan bahkan berlangsung cukup lama. Nabi Muhammad SAW pun merasakan kesedihan yang luar biasa sebelum peristiwa Isra Mi’raj, karena Siti Khadijah dan Abu Thalib selama ini menjadi sandaran utama dalam perjuangan dakwah Islam.

Sebagai bentuk kasih sayang dan penghiburan, Allah SWT memanggil Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa Isra Mi’raj, mempertemukannya secara langsung dengan-Nya. Peristiwa agung ini menjadi penghapus duka yang mendalam.

Allah berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرةٌۙ. اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ

”Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, (karena) memandang Tuhannya.” (QS Al-Qiyamah: 22-23)

Salah satu hikmah paling utama dari peristiwa Isra Mi’raj adalah diturunkannya perintah shalat lima waktu secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan bahwa shalat memiliki posisi yang sangat sentral dalam ajaran Islam dan menjadi inti dari peristiwa Isra Mi’raj itu sendiri.

Rasulullah SAW menegaskan pentingnya shalat sebagaimana sabdanya:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ، وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ.

“Salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, berarti ia telah menegakkan agama. Dan, barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah merobohkan agama.” (HR Al-Baihaqi).

Dalam perjalanan spiritual ini, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit untuk menerima perintah shalat secara langsung dari Allah SWT. Oleh karenanya, shalat menjadi ibadah yang memiliki kedudukan istimewa karena perintahnya tidak disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril, melainkan langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Penerimaan perintah shalat dalam peristiwa Isra Mi’raj menegaskan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan ibadah yang sarat makna dan keutamaan. Selain itu, shalat juga berfungsi sebagai jalan penyelesaian berbagai persoalan hidup. Melalui shalat, seseorang memperoleh ketenangan jiwa, kekuatan spiritual, serta petunjuk Ilahi dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 45:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dengan memahami kemuliaan dan keistimewaan shalat, diharapkan setiap Muslim dapat melaksanakan ibadah ini dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan kekhusyukan. Peristiwa Isra Mi’raj menjadi pengingat kuat agar umat Islam tidak meremehkan kewajiban shalat.

Hikmah lain dari peristiwa Isra dan Mi’raj adalah semakin kokohnya semangat dakwah Rasulullah SAW. Sepulang dari Isra Mi’raj, Nabi menunjukkan keteguhan dan semangat dakwah yang semakin kuat, meskipun penentangan dari kaum kafir kian keras dan penuh kekerasan.

Tekanan dan gangguan yang terus meningkat terhadap Rasulullah SAW dan para sahabat akhirnya mengarah pada kondisi yang berpotensi menimbulkan pertumpahan darah. Atas perintah Allah SWT, Nabi dan para sahabat pun melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah demi menjaga keberlangsungan dakwah Islam.

Kewajiban berdakwah secara sungguh-sungguh telah ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

Peristiwa Isra Mi’raj pada masa Nabi merupakan kejadian luar biasa yang sulit diterima oleh akal manusia pada zamannya. Namun demikian, umat Islam diwajibkan untuk mengimani peristiwa tersebut sebagai bagian dari keimanan kepada Allah SWT.

Keyakinan terhadap Isra Mi’raj kemudian mendorong manusia untuk menggunakan akal dan pikirannya dalam memahami serta meneliti berbagai fenomena alam. Kisah perjalanan Nabi ke langit menggerakkan sebagian orang untuk melakukan kajian ilmiah guna membuktikan kebenaran secara empiris dari apa yang disampaikan Rasulullah SAW.

Dengan demikian, peristiwa Isra Mi’raj menjadi pemicu lahirnya semangat keilmuan dan penelitian. Al-Qur’an sendiri telah mendorong manusia untuk berpikir dan merenung melalui ungkapan seperti afala ya’qilun, afala ya’lamun, dan afala yadzkurun.

Allah SWT berfirman:

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۗ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ

”Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyahkan kamu; dan mengembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (QS Lukman: 10)

Hikmah Isra dan Mi’raj lainnya adalah tumbuhnya izzah atau rasa percaya diri serta harga diri sebagai seorang Muslim. Hal ini tercermin dari sikap Nabi Muhammad SAW setelah peristiwa Isra Mi’raj, yang tetap teguh dan penuh keyakinan dalam menyampaikan risalah Islam.

Seorang Muslim seharusnya memiliki kepribadian yang kuat, tidak mudah merasa lemah, dan tidak larut dalam kesedihan. Sikap tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.” (QS Ali Imran: 139)

Demikian ulasan mengenai hikmah-hikmah di balik peristiwa Isra Mi’raj yang bersejarah, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dari peristiwa besar di masa lalu, khususnya yang berkaitan dengan sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Semoga membantu!

Hikmah Peristiwa Isra Mi’raj Beserta Dalilnya

1. Menghapus Kesedihan Nabi Muhammad SAW

2. Perintah Shalat Lima Waktu

3. Memperkuat Semangat Dakwah

4. Mendorong Berkembangnya Ilmu Pengetahuan

5. Menumbuhkan Izzah sebagai Muslim

Peristiwa Isra Mi’raj pada masa Nabi merupakan kejadian luar biasa yang sulit diterima oleh akal manusia pada zamannya. Namun demikian, umat Islam diwajibkan untuk mengimani peristiwa tersebut sebagai bagian dari keimanan kepada Allah SWT.

Keyakinan terhadap Isra Mi’raj kemudian mendorong manusia untuk menggunakan akal dan pikirannya dalam memahami serta meneliti berbagai fenomena alam. Kisah perjalanan Nabi ke langit menggerakkan sebagian orang untuk melakukan kajian ilmiah guna membuktikan kebenaran secara empiris dari apa yang disampaikan Rasulullah SAW.

Dengan demikian, peristiwa Isra Mi’raj menjadi pemicu lahirnya semangat keilmuan dan penelitian. Al-Qur’an sendiri telah mendorong manusia untuk berpikir dan merenung melalui ungkapan seperti afala ya’qilun, afala ya’lamun, dan afala yadzkurun.

Allah SWT berfirman:

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۗ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ

”Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyahkan kamu; dan mengembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (QS Lukman: 10)

Hikmah Isra dan Mi’raj lainnya adalah tumbuhnya izzah atau rasa percaya diri serta harga diri sebagai seorang Muslim. Hal ini tercermin dari sikap Nabi Muhammad SAW setelah peristiwa Isra Mi’raj, yang tetap teguh dan penuh keyakinan dalam menyampaikan risalah Islam.

Seorang Muslim seharusnya memiliki kepribadian yang kuat, tidak mudah merasa lemah, dan tidak larut dalam kesedihan. Sikap tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.” (QS Ali Imran: 139)

Demikian ulasan mengenai hikmah-hikmah di balik peristiwa Isra Mi’raj yang bersejarah, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dari peristiwa besar di masa lalu, khususnya yang berkaitan dengan sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Semoga membantu!

4. Mendorong Berkembangnya Ilmu Pengetahuan

5. Menumbuhkan Izzah sebagai Muslim