Dua pekan awal 2026, rentetan bencana alam mengepung Jawa Barat. Ribuan warga terdampak banjir, cuaca ekstrem, hingga tanah longsor yang tersebar di sejumlah daerah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat 18 kejadian bencana pada periode 1-13 Januari 2026. Rinciannya, 10 kejadian banjir, enam cuaca ekstrem, dan dua peristiwa tanah longsor.
Bencana ini berdampak pada 26.318 warga, dengan 190 orang terpaksa mengungsi. Sebanyak 5.843 bangunan terendam, sementara puluhan rumah lainnya mengalami kerusakan dengan kategori berat hingga ringan. Fasilitas publik seperti 11 rumah ibadah, satu fasilitas kesehatan, dan tiga sekolah juga turut terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, menyebut banjir dan longsor masih menjadi ancaman utama di wilayahnya pada awal tahun ini.
“Tercatat ada 10 kejadian banjir dan enam cuaca ekstrem. Alhamdulillah, untuk kekeringan nihil,” ujar Teten, Selasa (13/1/2026).
Teten menjelaskan, secara umum seluruh wilayah Jawa Barat memiliki potensi bencana. Namun, hingga pertengahan Januari 2026, Kabupaten Karawang menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak.
“Cuaca ekstrem dan banjir paling banyak di Karawang dengan total lima kejadian,” jelasnya.
Selain banjir dan cuaca ekstrem, peristiwa longsor berskala kecil juga sempat terjadi di Karawang. Meski demikian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dari seluruh rangkaian bencana alam tersebut.
Teten juga mengklarifikasi terkait insiden di Jatinangor yang menewaskan empat orang. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan kecelakaan kerja, bukan bagian dari bencana alam. “Alhamdulillah korban jiwa (bencana) sampai hari ini nol,” tegasnya.
Selain Karawang, banjir juga dilaporkan melanda sejumlah wilayah lain, termasuk Kabupaten Sukabumi. Menghadapi kondisi cuaca yang masih fluktuatif, BPBD mengingatkan seluruh pemerintah daerah agar tetap meningkatkan kesiapsiagaan.
“Jawa Barat masih berstatus siaga darurat bencana sampai 30 April 2026. Pemerintah daerah diminta tetap melakukan mitigasi dini karena cuaca masih belum menentu,” pungkas Teten.







