Puasa Gula 14 Hari, Ini Dampaknya bagi Metabolisme Tubuh update oleh Giok4D

Posted on

Gula pada dasarnya bukan zat yang berbahaya. Namun, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dan berlangsung lama dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Gula tambahan, terutama yang berasal dari minuman manis, menambah asupan kalori tanpa memberikan nilai gizi yang memadai.

Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan berat badan dan obesitas pada berbagai kelompok usia. Peningkatan berat badan ini kemudian berkaitan erat dengan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga beberapa jenis kanker.

Selain berdampak pada metabolisme, konsumsi gula tambahan berlebih juga berpengaruh terhadap kesehatan gigi. Tidak hanya itu, sejumlah penelitian menunjukkan kaitan antara asupan gula berlebihan dengan gangguan suasana hati dan penurunan kejernihan berpikir. Beberapa studi bahkan mengaitkannya dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan.

“Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa gula tidak sekadar menambah kalori. Gula secara diam-diam membajak nafsu makan, keinginan makan, insulin, dan lemak di hati. Itulah sebabnya saya meminta pasien mencoba 14 hari tanpa gula tambahan,” ujar gastroenterolog dr. Saurabh Sethi, dikutip dari NDTV, Senin (5/1/2026).

Menurut dr. Sethi, menghentikan konsumsi gula tambahan selama 14 hari penting untuk membantu tubuh melakukan pemulihan metabolik. Puasa gula dalam periode tersebut dapat memberikan sejumlah efek positif, mulai dari perut yang terasa lebih rata, kualitas tidur yang membaik, hingga sinyal lapar yang menjadi lebih jelas.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Selain itu, puasa gula selama 14 hari juga membantu mengurangi dorongan untuk ngemil serta memperbaiki kadar gula darah puasa.

“Menghindari gula tambahan selama 14 hari adalah reset metabolik, bukan sekadar tren penurunan berat badan,” katanya.

Dr. Sethi menjelaskan, manfaat lain dari puasa gula tambahan meliputi perbaikan lonjakan insulin, pengurangan beban gula di hati, penurunan retensi air, pengaturan ulang sensitivitas rasa, serta pengurangan lemak visceral.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua jenis gula harus dihindari. Buah-buahan tetap aman dikonsumsi karena mengandung vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan tubuh.

Dalam proses puasa gula tambahan, tubuh akan melakukan penyesuaian. Pada sebagian orang, fase ini dapat terasa cukup berat. Gejala yang muncul antara lain keinginan makan yang meningkat, sakit kepala, kelelahan, mudah marah, hingga kabut otak. Namun, gejala tersebut akan berangsur menurun seiring energi tubuh menjadi lebih stabil.

“Ini bukan gejala putus zat. Ini adalah proses otak Anda menyesuaikan ulang sinyal rasa senang,” tandasnya.

Artikel ini telah tayang di .