Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Di antara riuh pengunjung Babakan Siliwangi yang kini tampil dengan wajah baru dan warna-warni Kampung Pelangi yang mencuri perhatian wisatawan, Teras Cikapundung berdiri dalam suasana yang berbeda. Berada tepat di tengah dua destinasi populer tersebut, kawasan ini hidup dengan denyut yang tak seramai tetangganya.
Pagi hingga siang hari berlalu dengan langkah kaki yang bisa dihitung jari. Percakapan jarang terdengar, justru suara aliran sungai menjadi bunyi yang paling dominan. Kontras itu terasa jelas. Babakan Siliwangi kembali bergeliat pascarenovasi, Kampung Pelangi tetap menjadi magnet visual, sementara Teras Cikapundung seolah berjalan dengan ritme sendiri yang lebih sunyi, lebih lambat, dan lebih tenang.
Kondisi tersebut tak dibantah oleh Mumuh, petugas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum yang bertugas di kawasan itu.
“Kalau sekarang ya pengunjungnya sepi, paling ya bisa dihitung jari,” ujarnya belum lama ini.
Namun, sepinya pengunjung tidak serta-merta menandakan kawasan ini ditinggalkan. Di balik kesan lengang, perawatan Teras Cikapundung masih terus dilakukan, meski dengan keterbatasan. Mumuh menyebut upaya perbaikan tetap berjalan sesuai kemampuan pengelola.
“Kita juga nggak menutupi, memang sekarang kurang terawat. Tapi perawatan selalu ada tiap tahun,” kata Mumuh.
Beberapa perubahan fisik mulai terlihat di sejumlah titik. Fasilitas yang rusak diperbaiki secara bertahap, sementara sarana pendukung perlahan dilengkapi kembali.
“Kursi-kursi yang rusak kita betulin lagi. Air mancur juga lagi dibenahi, tong sampah yang dulu nggak disediakan juga sekarang ada,” ujar Mumuh.
Ia menjelaskan, meskipun pengelolaan kawasan berada di bawah pemerintah kota, nasib Teras Cikapundung tidak sepenuhnya sama dengan destinasi wisata lain di sekitarnya.
“Cuman ya kalau ke sini mah kayaknya jarang tersentuh sama pemerintah kota, pendanaannya dari BBWS Citarum, bahkan yang punya asetnya BBWS,” ucapnya.
Keterbatasan itu membuat Teras Cikapundung tak bergerak secepat destinasi lain dalam hal pengembangan. Namun kawasan ini belum kehilangan fungsinya sebagai ruang publik. Pada akhir pekan, denyut kehidupan masih terasa, terutama dari aktivitas warga sekitar.
“Setiap hari masih ada yang datang, tapi ramenya paling Sabtu sama Minggu. Ada senam rutin juga, yang datang dari warga sekitar, ada juga dari luar,” kata Mumuh.
Diapit dua destinasi wisata yang lebih mencolok, Teras Cikapundung kerap luput dari perhatian. Namun hingga kini, ruangnya tak pernah tertutup. Ia tetap ada, tetap terbuka, menjalani perannya dalam senyap, tidak mati, hanya menunggu kembali dilihat.








