Nasib pilu menimpa warga Kampung Babakan Cisarua, Kedusunan Kawung Luwuk, Desa Cidadap, Kabupaten Sukabumi. Dalam kurun waktu setahun, mereka dihantam tiga kali bencana berturut-turut-dua kali banjir bandang dan satu kali tanah longsor-namun hingga kini bantuan tak kunjung datang.
Harapan 48 Kepala Keluarga (KK) di wilayah ini untuk segera direlokasi kian menguat, meski dibalut rasa perih. Pasalnya, mereka harus menyaksikan warga kampung tetangga, Kampung Sawah Tengah yang berjarak hanya 1 kilometer, justru lebih dulu menerima bantuan uang kontrakan sebesar Rp 10 juta per KK dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun infoJabar, warga berharap bantuan tersebut juga menyentuh Kampung Babakan Cisarua. Mereka merasa seharusnya lebih diprioritaskan karena telah menjadi korban bencana lebih awal dengan dampak yang jauh lebih masif.
Kerusakan di Babakan Cisarua memang tergolong parah. Banyak rumah warga yang hilang tersapu arus hingga rata dengan tanah.
“Tolong Pak Gubernur, tinjau lokasi kami. Warga saya tidur di puing-puing rumah. Mengapa warga kampung sebelah diberi bantuan Rp 10 juta untuk mengontrak, sementara kami yang rumahnya hanyut belum ada bantuan? Saya minta keadilan,” ungkap Ketua RT 02 RW 15, Heri, dengan mata berkaca-kaca saat ditemui infoJabar, Kamis (8/1/2026).
Heri menceritakan kengerian rentetan bencana yang menimpa warganya. Peristiwa bermula pada 6 Maret 2025, tepat saat azan Magrib berkumandang. Saat warga hendak berbuka puasa, petaka mengepung dari dua arah.
“Di atas longsor, di bawah banjir bandang. Habis semua tergerus,” jelas Heri.
Wilayah ini total tiga kali diterjang bencana: dua kali banjir dan satu kali longsor. Akibatnya, 13 rumah rusak berat hingga lenyap tak berbekas, sementara puluhan lainnya rusak sedang. Warga juga kehilangan harta benda, ternak, hingga tiga unit sepeda motor yang hanyut terbawa arus.
Heri pun membantah keras tudingan yang menyebut warganya mendirikan bangunan di bantaran sungai secara ilegal.
“Dulu sungai itu jauh, puluhan meter dari rumah. Tapi bencana mengubah alur sungai hingga menghantam permukiman. Warga sudah puluhan tahun, mungkin lebih, tinggal di sini,” tegasnya.
Beban mental yang ditanggung Heri sebagai Ketua RT sangat berat. Ia mengaku nyaris depresi melihat warganya tidur di antara reruntuhan setiap malam selama hampir setahun, tanpa bantuan pemerintah yang nyata selain pembagian beras di awal kejadian.
“Hampir depresi saya, Pak. Pernah saya mau bawa warga yang sakit ke rumah sakit, tapi karena banyak pikiran, malah saya bawa ke pasar. Istri sampai menegur. Itu saking banyaknya pikiran,” kenang Heri getir.
Duka di kampung ini bukan hanya soal materi. Bencana tersebut juga merenggut nyawa seorang warga bernama Ibu Ooy yang tertimbun longsor.
Wulan, salah seorang warga setempat, mengungkapkan fakta memilukan mengenai nasib suami almarhumah Ibu Ooy. Karena rumahnya hancur total dan istrinya meninggal, sang suami kini terpaksa mengasingkan diri dan bertahan hidup di sebuah saung di area perbukitan karena tak ada lagi tempat pulang.
“Suami korban sampai sekarang tinggal di saung kebun di lereng gunung. Dia tidak punya lagi tempat bernaung,” tutur Wulan mempertegas kondisi pilu tersebut.
Kini, warga Babakan Cisarua sangat berharap Gubernur Dedi Mulyadi tidak tebang pilih dan segera memprioritaskan bantuan relokasi bagi mereka yang telah kehilangan segalanya.







