Di tengah masalah sampah yang tak kunjung usai di Bandung Raya, Kelurahan Sarijadi memiliki program Samber Ceu Pilah (Sampah Habis di Sumber, Cegah, Pilah, dan Olah). Warga setempat tidak hanya memilah, tetapi berhasil menciptakan ekosistem sirkular pengolahan sampah yang menghasilkan residu minimalis.
Program ini berhasil mengatasi tantangan signifikan dalam isu persampahan, yakni pengelolaan residu. Jika sampah organik dapat dikomposkan dan anorganik didaur ulang, residu seringkali berakhir di TPA. Namun, di Sarijadi, residu justru menjadi komoditas energi bagi industri.
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Sarijadi, Uu Sukmana menjelaskan kelurahan perlu melakukan sosialisasi awal kepada masyarakat terkait pengolahan sampah organik dan anorganik.
“Kami memberi contoh dulu, ini hasilnya, baru mereka tertarik. Proses ini tidak akan instan, masih ada kendala-kendala. Tapi alhamdulillah, 6 bulan berjalan, dulu hanya beberapa RW, sekarang hampir di setiap RW (menjalankan Samber Ceu Pilah), walaupun belum semua RT, sudah mulai berjalan,” jelas Uu.
Sampah sisa makanan seperti tulang, duri, nasi, dan sisa sayur diolah kembali. Warga mengolahnya menjadi MOL (Mikroorganisme Lokal) yang menjadi bahan dasar pupuk organik cair (POC) dan kompos. Produk ini berfungsi untuk menghilangkan bau sampah, mempercepat pembusukan, hingga menyuburkan tanaman. Kompos menjadi media tanam utama bagi program Buruan Sae (Urban Farming) dan tanaman obat keluarga (TOGA).
“Kita bikin bagaimana cara membuat MOL, MOL mikroorganisme lokal dari cucian beras. MOL ini digunakan untuk mempercepat proses pembusukan. Artinya kita menggunakan barang-barang yang memang dulu dianggap tidak bermanfaat,” jelas Uu.
Setiap dua hari, warga berhasil mengelola sekitar 240-300 kilogram sampah organik. Metode pengolahannya beragam sesuai kondisi warga, mulai dari Keranjang Takakura, Biopori, Bata Terawang, hingga budidaya Maggot BSF yang fasilitasnya kini tersedia di RW 01, RW 03, dan RW 10.
“Hasil panen (menggunakan media tanam dari kompos) mampu memenuhi kebutuhan pangan warga sekitar, sehingga warga tidak perlu lagi membeli sayuran,” jelas Uu Sukmana.
Untuk sampah bernilai ekonomi seperti kardus/kertas, kaleng, besi, dan kabel, Kelurahan Sarijadi mencatat pengelolaan sekitar 167 kilogram per dua hari. Warga memiliki keleluasaan menyetorkannya ke bank sampah sebagai tabungan (emas/uang), menjual langsung ke pengepul, atau menjadikannya ‘sedekah sampah’ bagi petugas kebersihan.
“Jadi ada beberapa lokasi yang langsung mereka kumpulkan dari warga, langsung ke pengepul. Hasilnya dikembalikan kepada masyarakat, misalnya untuk kas RT atau untuk membeli bibit tanaman. Kadang-kadang kalau yang jadi nasabah Bank Sampah, tiap tahun mereka minimal akan punya Logam Mulia,” ucap Uu.
Sampah residu yang biasanya menumpuk di TPA diolah dengan pendekatan teknologi tepat guna tanpa melalui proses pembakaran yang mencemari udara.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Lurah Sarijadi Evi Sjopiah Tusti mengatakan RW 07 sudah mengolah sampah anorganik residu menjadi biomassa. Produk ini dijual ke pabrik tekstil sebagai bahan bakar co-firing (pendamping) batubara.
“Manfaat bagi pabrik adalah mengurangi ketergantungan pada batubara. Volume pengelolaan sampah anorganik residu setiap dua hari mencapai 289-300 kilogram,” ungkap Evi.
Integrasi pengolahan sampah ini membawa dampak berganda. Secara lingkungan, volume sampah yang diangkut ke TPA berkurang drastis. Di RW 10, jumlah angkutan motor sampah turun dari 7 unit menjadi hanya 3 unit per hari.
Secara sosial-ekonomi, hasil panen yang didukung oleh pupuk organik didistribusikan ke posyandu. Posyandu memanfaatkannya untuk membantu pengentasan stunting melalui penyediaan makanan tambahan bergizi. Sementara itu, nasabah Bank Sampah menikmati ‘panen’ tabungan berupa logam mulia atau uang tunai setiap tahunnya.
“Kalau yang jadi nasabah bank sampah, tiap tahun mereka minimal akan punya logam mulia,” ucap Uu.
Organik Jadi Pangan, Anorganik Jadi Cuan
Residu Jadi Biomassa
Dampak Ekonomi dan Sosial









