Suara deru mesin jahit manual beradu dengan klakson kendaraan yang memadati Jalan Pasar Barat, kawasan Tamim, Kota Bandung.
Pak Awun, pria berusia 75 tahun itu duduk membungkuk. Matanya yang mulai rabun tetap awas memperhatikan jarum yang menari di atas kain.
Pak Awun menggelar lapaknya di atas trotoar. Hanya bermodalkan mesin jahit tua dan keahlian tangan yang ditempa puluhan tahun, ia menyaksikan perubahan wajah ekonomi di lingkungannya. Dari masa kejayaan pesanan konveksi hingga sunyinya orderan di era digital, Pak Awun tetap setia menginjak pedal mesinnya.
Pak Awun bukanlah pendatang baru di kawasan Tamim. Ia memulai profesinya sebagai penjahit jalanan sejak tahun 1991. Sebelumnya, pria asli Garut ini sempat berjualan di area depan pasar, namun desakan kebutuhan ekonomi dan melihat peluang di sentra kain Tamim membuatnya beralih profesi.
“Bukan hobi, ini murni karena ekonomi. Kakak saya dulu buka konveksi, jadi saya belajar menjahit. Awalnya coba-coba membetulkan pakaian, ternyata terpakai ilmunya sampai sekarang,” ujar Pak Awun mengenang masa lalunya.
Di era 1980-an hingga 1990-an, kawasan Tamim adalah primadona. Pak Awun menuturkan betapa ramainya orderan kala itu. Saking melimpahnya pesanan, ia dan rekan-rekan sesama penjahit sering kewalahan. Mereka bahkan harus mengalihkan orderan borongan ke rekan lain karena tenaga yang tidak memadai.
“Dulu tahun 89 sampai 90-an itu ramai sekali. Teman-teman sesama penjahit masih muda dan kuat. Kalau ada borongan jahitan, sering dialihkan ke teman karena saking banyaknya,” kenangnya.
Masa itu adalah masa keemasan di mana jasa jahit trotoar menjadi tumpuan utama masyarakat untuk membuat celana baru secara satuan, bukan sekadar permak.
Roda zaman berputar, dan bagi penjahit tradisional seperti Pak Awun, putarannya terasa kian berat. Perubahan perilaku konsumen yang beralih ke pakaian jadi dan maraknya belanja daring (online) menimbulkan dampak signifikan. Jika dulu ia rutin menerima pesanan pembuatan celana baru, kini kemampuan fisiknya yang menua membatasi orderan.
“Sekarang saya sudah tua, capek. Paling hanya menerima permak saja. Jarang sekali ada yang minta jahit baru,” tuturnya dengan nada pasrah.
Meski demikian, Pak Awun tetap bersyukur. Baginya, rezeki sudah ada yang mengatur. Ia tidak mematok target terlalu tinggi. “Tidak bisa ditentukan sehari dapat berapa. Itu rahasia Allah. Tiap hari pasti ada saja satu atau dua, tapi kalau diam di rumah pasti tidak akan dapat apa-apa,” ungkapnya bijak.
Di tengah himpitan ekonomi, Pak Awun menerapkan kebijakan harga yang fleksibel. Tarif jasanya sangat terjangkau dan diterapkan secara fleksibel. Untuk jasa memendekkan celana panjang, ia mematok harga sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000, tergantung tingkat kesulitan dan jenis kain.
Namun, angka tersebut bukan harga mati. Seringkali terjadi tawar-menawar yang unik antara ia dan pelanggan. Ada kalanya ia merasa iba melihat pelanggan yang tampaknya kekurangan.
“Bapak mah bebas. Kadang kalau saya kasih harga segitu, takutnya orangnya tidak punya ongkos. Ya sudah, ambil saja kembaliannya buat ongkos, silakan,” ujarnya, sembari menjelaskan alasannya sering memberikan potongan harga.
Sikap inilah yang membuat beberapa pelanggan setia tetap mencarinya, meski harus bersaing dengan layanan permak modern.
Salah satu kekhawatiran terbesar dalam industri jasa menjahit tradisional adalah regenerasi. Hal ini pun dirasakan oleh Pak Awun. Memiliki tujuh orang anak (satu telah meninggal), tak satu pun dari mereka yang berminat meneruskan profesi sang ayah sebagai penjahit.
“Anak-anak sekarang tidak mau atau enggan meneruskan. Entah kenapa. Padahal bapak sudah tua, inginnya ada yang menggantikan, tapi mereka menolak,” keluhnya pelan.
Di usia 75 tahun, kondisi fisik Pak Awun memang menunjukkan penuaan alami; tubuhnya kian menyusut. Dokter menyatakan ia sehat dan bebas dari penyakit serius seperti kolesterol, dan Pak Awun menyadari kondisi fisiknya adalah faktor alamiah penuaan.
Ia sebenarnya memiliki rumah di Garut yang kini ditinggali oleh anak bungsunya. Namun, ia memilih tetap tinggal di Bandung, kadang pulang ke Garut sesekali. Alasan utamanya sederhana: ia tidak ingin menjadi beban dan masih ingin mencari bekal sendiri selama tenaga masih tersisa.
“Saya sudah tua, mencari bekal saja. Bekal untuk hidup,” pungkasnya, seraya kembali menginjak pedal mesin jahitnya yang setia.
Penjahit Jalanan Saksi Kejayaan Era 90-an
Penjahit Jalanan di Tengah Tantangan Perubahan Konsumsi di Era Digital
Tarif Penjahit Jalanan
Regenerasi yang Terputus
Di tengah himpitan ekonomi, Pak Awun menerapkan kebijakan harga yang fleksibel. Tarif jasanya sangat terjangkau dan diterapkan secara fleksibel. Untuk jasa memendekkan celana panjang, ia mematok harga sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000, tergantung tingkat kesulitan dan jenis kain.
Namun, angka tersebut bukan harga mati. Seringkali terjadi tawar-menawar yang unik antara ia dan pelanggan. Ada kalanya ia merasa iba melihat pelanggan yang tampaknya kekurangan.
“Bapak mah bebas. Kadang kalau saya kasih harga segitu, takutnya orangnya tidak punya ongkos. Ya sudah, ambil saja kembaliannya buat ongkos, silakan,” ujarnya, sembari menjelaskan alasannya sering memberikan potongan harga.
Sikap inilah yang membuat beberapa pelanggan setia tetap mencarinya, meski harus bersaing dengan layanan permak modern.
Salah satu kekhawatiran terbesar dalam industri jasa menjahit tradisional adalah regenerasi. Hal ini pun dirasakan oleh Pak Awun. Memiliki tujuh orang anak (satu telah meninggal), tak satu pun dari mereka yang berminat meneruskan profesi sang ayah sebagai penjahit.
“Anak-anak sekarang tidak mau atau enggan meneruskan. Entah kenapa. Padahal bapak sudah tua, inginnya ada yang menggantikan, tapi mereka menolak,” keluhnya pelan.
Di usia 75 tahun, kondisi fisik Pak Awun memang menunjukkan penuaan alami; tubuhnya kian menyusut. Dokter menyatakan ia sehat dan bebas dari penyakit serius seperti kolesterol, dan Pak Awun menyadari kondisi fisiknya adalah faktor alamiah penuaan.
Ia sebenarnya memiliki rumah di Garut yang kini ditinggali oleh anak bungsunya. Namun, ia memilih tetap tinggal di Bandung, kadang pulang ke Garut sesekali. Alasan utamanya sederhana: ia tidak ingin menjadi beban dan masih ingin mencari bekal sendiri selama tenaga masih tersisa.
“Saya sudah tua, mencari bekal saja. Bekal untuk hidup,” pungkasnya, seraya kembali menginjak pedal mesin jahitnya yang setia.







