Gelak Tawa Warnai Balap Lari Malam Ramadan di Halte Unpar baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Bandung

Bulan Ramadan dimaknai dengan cara beragam orang berbagai kalangan. Kadang, ada yang menantikan momen ‘war takjil’ jelang berbuka puasa, lalu sebagian lagi ada yang mencoba berbagai inisiatif sembari menunggu waktu sahur tiba.

Dari bermacam aktivitas itu, sejumlah mahasiswa dan kelompok pemuda di sekitar kawasan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mencoba kegiatan yang sedikit berbeda. Mereka menggelar lomba balap lari yang bisa diikuti berbagai kalangan, dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

Balap lari digelar tiap Sabtu malam. Biasanya, perlombaan itu dimulai sekitar pukul 21.00 WIB dan akan berakhir tengah malam di pukul 00.00 WIB. Jaraknya pun tidak begitu jauh hanya berkisar 30 meteran.

Sejak hari pertama puasa dimulai, balap lari di depan halte Unpar sudah tiga kali digelar. Berbagai kalangan larut dalam euforia kegembiraan ketika para peserta jadi yang paling tercepat sampai di garis yang sudah ditentukan.

Balap lari di halte Unpar tidak punya aturan yang ditetapkan. Regulasinya, siapapun yang mau jadi peserta, hanya tinggal datang ke lokasi, lalu menantang orang lain yang ditemuinya dengan syarat berat badan keduanya sama, atau setidaknya tidak begitu jauh kejomplangan-nya.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Saat datang pada Sabtu (14/3) malam, balap lari di halte Unpar sedikit mengalami keterlambatan. Maklum, beberapa orang yang biasanya sudah meramaikan lokasi itu terlebih dahulu larut merayakan Hari Jadi Persib Bandung ke-93.

Balap lari di halte Unpar Bandung.Balap lari di halte Unpar Bandung. Foto: Rifat Alhamidi/

Alhasil, balap lari baru bisa dimulai sekitar pukul 22.30 WIB. Meski demikian, antusias beberapa orang nyaris tak padam untuk bisa bertarung gengsi demi titel yang paling tercepat sampai ke garis tujuan.

Bahkan dalam situasi dinginnya Bandung Utara karena baru saja diguyur gerimis hujan, suasana di halte Unpar justru nampak berbeda. Makin malam, situasinya makin panas dengan persaingan beberapa orang yang berambisi jadi yang tercepat dalam balap lari.

Lomba dibuka dengan aksi sejumlah anak-anak yang ingin jadi yang tercepat. Setelah beberapa kali partai digelar, giliran para remaja yang meramaikan persaingan.

Sorak sorai praktis terdengar makin kencang. Siapapun yang tiba di garis finish duluan, gelak tawa terkadang ikut terdengar karena orang yang kalah cepat akhirnya dapat guyonan karena gagal menuntaskan ambisinya.

“Ini yang ketiga kalinya, kang. Rutin tiap malam minggu. Kalau buat warga mah jadi hiburan, sekaligus biar yang muda-muda ini enggak ngelakuin hal yang negatif selama bulan puasa,” kata Dio warga yang ikut menonton balap lari saat berbincang dengan.

Makin malam, suasananya makin ramai. Anak-anak kecil yang diawal jadi pemenang balap lari, bahkan tak sungkan menantang para remaja hingga orang dewasa untuk membuktikan siapa yang tercepat di antara mereka.

Meski hasilnya bisa ditebak, tapi suasana hangat langsung menyelimuti pemenang balap lari. Kebetulan di malam itu, para pemenang mendapat hadiah berupa kupon diskon dari salah satu kedai kopi di kawasan Ciumbuleuit, Kota Bandung.

Sayangnya, pemandangan seperti ini jadi yang terakhir di bulan puasa. Balap lari di halte Unpar ini pun jadi yang terakhir dan rencananya akan kembali dilanjutkan pada tahun depan.

“Balap ini yang terakhir, kemungkinan tahun depan mau digelar lagi. Meskipun banyak tantangan, tapi bagi saya ini berkesan banget. Mudah-mudahan tahun depan bisa ada lagi biar jadi hiburan di bulan puasa,” ucap Dio mengakhiri perbincangannya.