Kala Lebaran di Kota Wali Sepi hingga Dihantui Kejahatan

Posted on

Cirebon

Kota Cirebon, salah satu daerah pesisir di Jawa Barat, sejak lama menjadi urat nadi aktivitas ekonomi pada masa Hindia Belanda. Sebagai kota pelabuhan yang sibuk, kehidupan masyarakatnya kerap dipengaruhi berbagai dinamika, mulai dari konflik, wabah penyakit, hingga guncangan ekonomi. Kondisi tersebut turut memengaruhi suasana perayaan Lebaran dari tahun ke tahun.

Pada era kolonial, daerah berjuluk Kota Wali ini pernah melewati masa perayaan Lebaran yang jauh dari hiruk-pikuk. Tak ada keriuhan warga yang biasanya memadati pusat perbelanjaan atau tempat wisata saat hari kemenangan tiba.

Kisah kelesuan Lebaran itu terekam dalam surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 9 Januari 1935. Laporan tersebut menyebutkan perayaan Lebaran di Cirebon berlangsung jauh lebih tenang dari biasanya. Bahkan, pesta kembang api yang lazimnya menyemarakkan suasana, nyaris tak terlihat.

Kelesuan itu merupakan dampak langsung dari kondisi ekonomi masyarakat yang tengah merosot tajam.

“Penghematan akibat kekurangan uang dirasakan baik di kota maupun di pedesaan,” tulis Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, seperti dikutip.

Dampak krisis ekonomi ini paling nyata terlihat di pasar-pasar. Aktivitas belanja menjelang Idulfitri sepi peminat lantaran daya beli masyarakat yang anjlok. Fenomena ini memicu keluhan para pedagang yang mendapati omzet mereka merosot drastis.

“Para pemilik toko mengeluh tentang penjualan yang buruk. Mereka yang masih memiliki uang tunai, kebanyakan berbelanja di toko-toko Jepang yang barang dagangannya dipajang dengan cara yang menarik perhatian,” tulis Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië.

Toko-toko milik warga Jepang justru kebanjiran pembeli karena menawarkan harga yang lebih miring. Sementara itu, jalanan di Kota Cirebon tampak lebih lengang dibandingkan perayaan Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya.

Namun di balik himpitan ekonomi tersebut, muncul sisi positif bagi industri lokal. Produk dalam negeri seperti sarung dan pakaian tradisional kembali dilirik masyarakat. Lonjakan penggunaan sarung ini memberi napas baru bagi industri rumahan saat itu.

“Ini juga merupakan tanda yang menyegarkan bahwa sarung, pakaian nasional, semakin banyak dipakai lagi, yang memberikan dukungan signifikan kepada industri sarung yang sedang berkembang,” tulis Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië.

Lebaran 1937 Kembali Meriah

Dua tahun berselang setelah krisis hebat, wajah Lebaran di Cirebon kembali berseri. Pada 1937, perayaan hari raya mulai kembali menunjukkan geliat kemeriahannya.

Surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 8 Desember 1937 melaporkan bahwa dentuman petasan dan pijar kembang api kembali menghiasi langit malam Lebaran. Toko-toko penjual kembang api bahkan diserbu pembeli.

“Setelah bertahun-tahun penduduk asli merayakan Lebaran secara sepi, tahun ini ada sedikit lebih banyak kegembiraan. Terdengar suara ledakan, letupan, dan desisan hebat dari banyaknya kembang api yang dinyalakan pada perayaan Lebaran. Salah satu toko kembang api besar di Pasuketan begitu sibuk menjual mercon dan sebagainya, sehingga tokonya harus ditutup sebagian untuk mencegah risiko kebakaran,” tulis Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië.

Kala itu, peredaran kembang api diawasi ketat oleh kepolisian dan penjualannya dilakukan melalui satu pintu. Selain kembang api, toko-toko Jepang kembali menikmati lonjakan keuntungan.

“Tampaknya hampir semua orang memiliki jaket baru tahun ini. Toko-toko Jepang khususnya telah menikmati banyak pelanggan dalam beberapa hari terakhir,” tulis Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië.

Cirebon tempo duluCirebon tempo dulu Foto: KITLV

Setelah Lebaran, Kejahatan Meningkat

Namun, euforia tersebut tak bertahan lama. Dua tahun kemudian, suasana Lebaran di Cirebon justru dibayangi oleh situasi yang mencekam.

Sejumlah surat kabar melaporkan lonjakan aksi kriminalitas di Cirebon, baik saat hari raya maupun sesudahnya. Kasus pembobolan rumah hingga perampokan dilaporkan terjadi di berbagai sudut kota.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 18 September 1939 mewartakan rentetan kasus pencurian. Salah satu korbannya adalah seorang warga Eropa berinisial AE van der B. Perampok menyelinap ke kamar tidurnya yang tidak terkunci dan menggasak sejumlah harta benda.

Tak hanya itu, penjarahan juga menghantui warga. Barang yang paling diincar oleh para pelaku kejahatan saat itu adalah sepeda.

“Sepeda masih menjadi barang jarahan yang ditunggu-tunggu, tidak kurang dari delapan sepeda dicuri selama beberapa hari terakhir. Sepeda itu langsung diubah agar tidak dikenali (pemiliknya),” tulis Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië.

Aksi kriminalitas bahkan menyasar fasilitas publik seperti Rumah Sakit Pamitran. Seorang dokter berinisial Moh T melaporkan bahwa uang di dalam brankas rumah sakit raib digondol pencuri.

Kasus serupa juga menimpa sebuah perusahaan dagang besar.

“Di perusahaan Geo Wéhry sepuluh peti ikan sarden senilai 118 gulden dibobol pencuri,” tulis Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië.

Rangkaian peristiwa sejarah ini menunjukkan bahwa perayaan Lebaran di Cirebon pada masa Hindia Belanda bersifat fluktuatif. Kondisi ekonomi, dinamika sosial, hingga stabilitas keamanan menjadi faktor penentu bagaimana masyarakat merayakan hari kemenangan dari zaman ke zaman.

Artikel ini pernah tayang dengan judul ‘Lebaran di Cirebon Era Hindia Belanda: Krisis Ekonomi-Marak Kejahatan’. Baca selengkapnya di sini.