Tasikmalaya –
Di pinggiran Jalan Ir. Djuanda, sekitar Kampung Tundagan, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, barisan tabung besi berkelir cerah mulai menyita perhatian pengguna jalan.
Itulah bedug-bedug musiman yang hadir setiap kali Ramadan datang. Kehadiran penjual bedug di daerah ini seolah menjadi ikon Ramadan di Kota Tasikmalaya.
Nanang (55) salah seorang penjual bedug mengaku sudah belasan tahun menekuni bisnis musiman ini. Selain menjual bedug siap pakai, dia juga menjual kulit bedug termasuk jasa pemasangan atau perbaikan.
Bedug buatan Nanang tak lagi menggunakan batang pohon besar yang dipahat manual seperti dulu.
Kini dia memanfaatkan drum besi bekas sebagai rangka utama, kemudian dipasangkan ring besi. Ini menjadi sebuah kompromi agar harga tetap terjangkau namun suaranya tetap nyaring.
“Kalau bedug kayu saya malah nggak bisa memasang atau servisnya, lebih sulit. Hanya melayani bedug bahan drum,” kata Nanang, Selasa (10/3/2026).
Terkait harga jual, Nanang menjelaskan bedug standar diameter 58 cm atau bedug berbahan drum bekas, dia jual seharga Rp 1 juta. Sementara untuk harga kulitnya saja, bervariasi sesuai bahan.
“Kulit sapi Rp 300 ribu, kalau kulit kerbau Rp400 ribu. Untuk bedug uang bagus memang kulit kerbau, lebih tebal dan lebih tahan lama,” kata Nanang.
Terkait omzet usahanya di tahun ini, Nanang mengaku sampai hari ke 20 Ramadan ini penjualan masih landai.
“Paling sehari 1 atau 2 bedug saja yang terjual, bahkan hari ini belum dapat penglaris,” kata Nanang.
Pedagang bedug di Tasikmalaya Foto: Faizal Amiruddin/ |
Tapi Nanang paham betul ritme usahanya. Meski sudah memajang barang dagangan sejak awal Ramadan, ia tak berekspektasi tinggi pada minggu-minggu pertama.
Harapannya tertumpu pada masa ‘lilikuran’ atau sepuluh hari terakhir menjelang Idul Fitri.
“Biasanya di tanggal lilikuran, penjualan meningkat. Mudah-mudahan saja tahun ini juga begitu,” kata Nanang sambil mengusap debu di permukaan kulit bedugnya.
Sunyinya Waktu Sahur dan Pergeseran Budaya
Di balik optimisme bisnisnya, Nanang tak menampik adanya rasa khawatir. Kejayaan bedug perlahan meredup.
Dia mengenang masa di mana suara ngadulag, seni menabuh bedug khas Sunda, masih membahana di setiap gang perkampungan saat waktu sahur tiba. Kini, tradisi mengarak bedug keliling kampung mulai langka, tergeser oleh gaya hidup modern.
“Dulu mah, kalau sahur itu ramai suara bedug di mana-mana. Anak-anak muda semangat keliling kampung. Sekarang mah sunyi, paling cuma suara dari HP atau speaker masjid saja. Sekarang sudah jarang,” kata Nanang.
Seni rampak bedug atau kontes ngadulag juga menurut Nanang sudah jarang dijumpai. Padahal jika event seperti itu marak kembali, Nanang berharap bisnisnya pun akan lebih bagus.
“Mungkin zamannya memang sudah berubah. Kalau dulu bedug itu kan penanda waktu, sekarang sebatas sarana hiburan saja. Jadi sudah beda zamannya,” kata Nanang








