Peta ‘Jalur Tengkorak’ Mudik Lebaran 2026 di Jabar: Cipularang-Nagreg

Posted on

Bandung

Arus mudik dan balik Lebaran 2026 diperkirakan kembali memadati jalan-jalan di Jawa Barat. Di tengah tingginya mobilitas masyarakat, pemerintah telah memetakan sejumlah titik rawan kecelakaan atau jalur ‘tengkorak’ yang perlu diwaspadai para pemudik.

Data dari Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat menunjukkan potensi pergerakan masyarakat pada masa Lebaran tahun ini. Dari total proyeksi penduduk yang mencapai sekitar 50,75 juta jiwa pada 2025, sekitar 25,6 juta orang atau 51 persen diperkirakan melakukan perjalanan selama periode mudik dan balik Lebaran.

Lonjakan mobilitas tersebut membuat jalan-jalan utama di Jawa Barat menjadi jalur penting bagi pemudik dari berbagai daerah, terutama yang melintas dari Jakarta menuju wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kendaraan Pribadi Masih Jadi Pilihan Utama

Moda transportasi yang dipilih masyarakat masih didominasi kendaraan pribadi. Sekitar 16,75 juta orang diperkirakan menggunakan mobil pribadi untuk melakukan perjalanan mudik.

Selain itu, sepeda motor masih menjadi pilihan sekitar 3,91 juta orang. Sementara moda transportasi lain seperti kereta api dipilih sekitar 3,43 juta orang.

Moda transportasi umum lainnya memiliki jumlah yang lebih kecil. Sekitar 780 ribu orang diperkirakan menggunakan bus, 480 ribu orang menggunakan mobil sewa, dan sekitar 250 ribu orang memilih layanan travel.

Besarnya jumlah kendaraan yang melintas di jalur darat membuat pemerintah harus memetakan titik-titik rawan kecelakaan untuk meminimalkan risiko selama arus mudik dan balik.

Titik Rawan Kecelakaan dari Tol hingga Jalur Pegunungan

Sejumlah lokasi di Jawa Barat telah diinventarisasi sebagai daerah rawan kecelakaan selama musim mudik. Di jalur tol, titik yang perlu diwaspadai antara lain KM 70 di ruas Tol Cipularang.

Selain itu, ruas Tol Cipali juga memiliki beberapa titik rawan kecelakaan, yakni di KM 117 wilayah Subang serta KM 159 di wilayah Majalengka.

Di jalur Pantai Utara (Pantura), titik rawan kecelakaan tercatat berada di KM 98 wilayah Indramayu.

Sementara itu, sejumlah jalur non-tol di kawasan selatan dan pegunungan Jawa Barat juga masuk dalam daftar rawan kecelakaan. Di wilayah Bogor, kawasan Cisarua yang berada di jalur menuju Puncak menjadi salah satu titik yang perlu diwaspadai.

Di wilayah Cianjur terdapat dua titik rawan kecelakaan, yakni kawasan Gekbrong dan Ciloto. Sementara di Sukabumi, jalur Cikidang yang terkenal dengan kontur jalan berkelok dan menurun tajam juga masuk dalam peta rawan kecelakaan.

Titik rawan lainnya berada di Kolmas wilayah Bandung Barat, serta kawasan Cicenang dan Cijambe di Subang.

Di jalur Priangan Timur, kawasan Wado di Sumedang serta jalur legendaris Nagreg juga menjadi titik yang perlu diwaspadai karena sering dipadati kendaraan saat musim mudik.

Faktor Kelelahan hingga Kontur Jalan Ekstrem

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dhani Gumelar, mengatakan karakteristik penyebab terjadinya kecelakaan di Jawa Barat berbeda antara jalur utara dan selatan. Di utara kata dia, kecelakaan banyak terjadi karena faktor kelelahan pengemudi.

“Yang perlu diantisipasi adalah rawan kecelakaan, baik di utara maupun selatan. Kalau di utara biasanya rawan kecelakaan karena faktor kelelahan. Makanya kami mengimbau pemudik untuk tidak menggunakan kendaraan roda dua untuk perjalanan yang jauh,” ujarnya.

Sementara di jalur selatan menurut Dhani, memiliki tantangan berbeda karena kondisi geografis yang lebih ekstrem. “Di selatan rawan kecelakaan karena memang dari sisi geografis, kontur dan topografi nya cukup ekstrim,” katanya.

Upaya Pencegahan dan Penanganan

Untuk menekan angka kecelakaan, pemerintah bersama berbagai instansi telah menyiapkan sejumlah langkah pencegahan. Salah satunya adalah meningkatkan sosialisasi keselamatan kepada para pemudik.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pemenuhan berbagai fasilitas keselamatan jalan di titik rawan kecelakaan, seperti pemasangan marka jalan, rambu lalu lintas, penerangan jalan umum, serta guard rail.

Perbaikan jalan di sejumlah titik juga diprioritaskan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang, serta pengelola jalan tol agar kondisi jalan tetap aman dilalui selama musim mudik.

“Pemerintah berharap para pemudik dapat lebih berhati-hati selama perjalanan. Kesadaran pengendara, kondisi kendaraan yang prima, serta istirahat yang cukup menjadi kunci utama agar perjalanan mudik Lebaran 2026 dapat berlangsung aman hingga tiba di kampung halaman,” tutup Dhani.