Cerita-cerita Kelam Percobaan Bunuh Diri di Flyover Pasupati baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Bandung

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Kecamatan Bandung Wetan kini punya tugas krusial yang diinstruksikan langsung Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Mereka diwajibkan patroli demi mencegah orang-orang yang nekat melakukan aksi percobaan bunuh diri di Flyover Mochtar Kusumaatmadja atau Flyover Pasupati.

Setelah upaya ini dilakukan sekitar dua pekan, hasilnya mulai terasa di lapangan. Sejumlah orang berhasil diselamatkan dari percobaan bunuh diri, namun di samping itu memunculkan cerita-cerita kelam yang berurusan dengan masalah kesehatan mental.

Cerita tersebut dituturkan langsung Camat Bandung Wetan Rizka Aryani. Dalam perbincangannya kepada, dia mengaku timnya pernah menyelematkan seorang pemuda yang baru lulus SMA karena berusaha melakukan aksi percobaan bunuh diri di Flyover Pasupati.

“Kemarin itu ada yang satu orang dia baru lulus SMA terus dipaksa orang tuanya untuk ikut kerja di Jepang. Sementara anak itu enggak punya kemampua, tapi dia disuruh ikut,” katanya, Selasa (10/3/2026).

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

“Mungkin orang tuanya terlalu keras ya, jadi komunikasinya juga kurang baik. Anak itu sampai seperti yang kehilangan keinginan hiduplah. Matanya kosong dan dia tidak mau kembali ke rumah orang tuanya. Orang tuanya datang pun dia tidak mau ditemui setelah kita selamatkan,” ucapnya menambahkan.

Penanganan yang Rizka dan jajaran Kecamatan Bandung Wetan lakukan tak hanya sekedar penyelamatan di lapangan. Setelah orang yang mencoba bunuh diri bisa ditenangkan, pihak kecamatan akan membawa yang bersangkutan lalu diberi pemahaman supaya dia tidak melakukan aksi serupa di kemudian harinya.

Termasuk si anak yang baru lulus SMA ini. Bahkan sampai sekarang, kata Rizka, anak tersebut masih berada di rumah salah seorang pejabat di Kota Bandung lantaran yang bersangkutan enggan pulang ke rumahnya setelah melakukan aksi percobaan bunuh diri.

“Jadi setelah dia bisa kita selamatkan, kita koordinasi untuk menunggu penanganan dari dinas terkait. Kita tempatkan di rumah yang aman, sampai dia merasa tenang supaya bisa didampingi konselor dari DP3A. Intinya sampai dia ditanggulangi oleh orang yang tepat supaya jangan sampai dia mengulangi kejadian itu lagi,” ucapnya.

Cerita lainnya pernah terjadi terhadap seorang ibu-ibu yang mencoba melakukan bunuh diri di Flyover Pasupati. Ibu tersebut terindikasi mengidap bipolar dan merasa suaminya kerap melakukan kesalahan.

“Dia merasa suaminya sudah salah terus, enggak pernah benar. Padahal suaminya enggak kenapa-kenapa, itu juga sama. Kita minta bantuan dari pihak-pihak terkait untuk penanganan kejiwaannya,” bebernya.

“Jadi buat kita, kalau yang luar daerah, yang penting mereka ada keluarga yang jemput, sudah kita lepas. Tapi kalau yang Kota Bandung, kita betul-betul kita kontak kecamatan yang bersangkutan, kita kontak dinas terkait sampai mendapat pendampingan,” imbuhnya.

Semenjak mendapat instruksi dari Farhan, Kecamatan Bandung Wetan sudah melakukan sejumlah upaya penanganan di lapangan. Mulai dari rutin menggalar patroli, memasang TOA atau pengeras suara di rooftop Rumah Deret Tamansari, hingga berkoordinasi dengan balai supaya memasang pembatas di Flyover Pasupati demi mencegah aksi bunuh diri.

Rizka tak menampik tugas ini begitu berat dijalankan Kecamatan Bandung Wetan. Namun sebagai bentuk pengabdian, ia mencoba sebisa mungkin menjalankan aksi kemanusiaan ini karena begitu krusial menyangkut kesehatan mental seseorang.

“Karena kayaknya semakin banyak warga yang putus asa ya Kang. Saya berharapnya sih mudah-mudahan ke depannya enggak ada lagi yang berniat bunuh diri. Terus saya juga berharap mudah-mudahan Kementerian PUPR juga segera menindaklanjuti pengamanan untuk mencegah orang yang loncar dari flyover,” katanya.

‘Jadi mungkin ini tuh bukan masalah pengamanan saja sebenarnya, tapi penanganan kemanusiaannya menurut saya ya. Jadi bagaimana kita bisa mengatasi persoalan mental health-nya ini. Warga Itu sekarang sudah yang banyak sekali yang menderita mental, jadi harus harus melibatkan seluruh stakeholder untuk penanganan ini,” pungkasnya.