Kisah Daryono, Mengayuh Harapan Lewat Otok-otok di Jalanan Bandung

Posted on

Bandung

Terik matahari tak menyurutkan kayuhan sepeda Daryono (56), seorang pedagang mainan tradisional yang setiap hari menyusuri jalanan Bandung untuk menjajakan otok-otok. Dengan sepeda sederhana, pria paruh baya itu berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain demi menawarkan mainan kepada anak-anak.

Sebelum menjual otok-otok, Daryono lebih dulu berjualan kelomang di sejumlah sekolah dasar di Bandung pada era 2000-an. Dua lokasi yang menjadi tempat rutinnya berjualan adalah SD Halimun dan SD Badan Perguruan Indonesia (BPI). Saat itu, ia harus pandai mengatur waktu agar dapat menjangkau jam pulang siswa di dua sekolah tersebut.

“Ngejar waktu pas jualan kelomang itu, ngincer jam pulang, jam 12 SD Halimun sudah keluar, terus lanjut SD BPI jam 2,” ujarnya saat ditemui belum lama ini.

Namun, usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Penjualan yang tak menentu membuat modalnya perlahan habis. Apalagi, kelomang yang tidak segera terjual sering kali mati sehingga tak bisa lagi dijual.

“Dulu mah bisa diandelin jualan kelomang, apalagi pas puasa. Terakhir mah susah kejual, kalau kelomang telat kejual jadi sering kebuang, jadi habis sama modal terus,” tambahnya.

Memasuki era 2020-an, Daryono memutar otak agar tetap bisa berdagang. Ia kemudian beralih menjual mainan anak-anak dengan harga terjangkau dan sempat berjualan secara tetap di SD Sukapura selama sekitar satu tahun.

Daryono penjual otok-otok di BandungDaryono penjual otok-otok di Bandung Foto: Fauzan Muhammad/

Seiring waktu, ia akhirnya memilih menjajakan mainan tradisional otok-otok yang dipasok dari kawasan Nyengseret. Berbeda dengan sebelumnya, kini ia harus membeli barang terlebih dahulu sebelum dijual kembali.

“Ini barang harus beli, ga bisa ngambil dulu. Sekarang juga belum nyetok lagi karena ga ada modalnya,” ujar Daryono.

Mainan yang dijualnya dibanderol dengan harga bervariasi. Otok-otok model baling-baling dijual mulai Rp5.000, sedangkan otok-otok dorong berbentuk ayam dibanderol hingga Rp20.000.

Meski demikian, menjual mainan tradisional di tengah perkembangan teknologi bukan hal mudah. Daryono mengakui minat anak-anak terhadap mainan seperti otok-otok kini jauh menurun dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Susah sekarang mah, anak-anak udah beda jamannya ga kaya dulu, lebih ke hp sekarang mah,” ungkapnya.

Daryono juga mengenang masa-masa awalnya berdagang ketika ia harus berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain karena belum memiliki sepeda.

“Dulu belum pakai sepeda buat jualan sebenarnya, ini juga sepeda minjam punya cucu. Jadi kalau jualan itu jalan kaki,” ceritanya.

Saat ini, Daryono tinggal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Parakansaat bersama anak bungsunya. Meski kondisi fisiknya terkadang menurun, ia tetap berusaha berkeliling menjajakan dagangan ke taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sejumlah ruang publik seperti Taman Superhero, Taman Cihapit, dan Taman Cibeunying.

Bagi Daryono, mengayuh sepeda dan menjajakan otok-otok bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga cara bertahan di tengah perubahan zaman yang membuat mainan tradisional semakin jarang diminati.