Sukabumi –
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Kondisi titik awal retakan atau ‘mahkota’ pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi kini menjadi sorotan.
Lokasi retakan yang berada di area perbukitan ini terpantau terus melebar seiring masifnya kerusakan bangunan di permukiman warga yang berada tepat di bawahnya.
Warga setempat, Yusuf membeberkan gambaran visual mengenai posisi retakan terhadap rumah-rumah penduduk yang kini hancur luluh lantak. Menurut pantauannya, retakan di bagian hulu ini berada pada jarak yang sangat dekat dengan zona bencana.
“Itu (jaraknya) sekitar 50 meteran lah, dari lokasi retakan ke permukiman yang sekarang hancur. Posisinya di perbukitan,” ujar Yusuf kepada, Jumat (6/3/2026).
Yusuf menyebut dimensi retakan tersebut terus mengalami perubahan setiap harinya. Ia juga menyinggung kondisi vegetasi di area perbukitan tersebut yang kini nampak gundul.
“Sekarang sudah tambah melebar tiap hari, sudah enggak bisa dihuni. Iya, sudah pada gundul di situ. Ada dugaan dari sebagian orang, peristiwa pergeseran tanah gara-gara (lahan) itu digundulin. Sebelumnya di Kampung Cijambe ini belum pernah ada kejadian rumah amblas begini,” tambah Yusuf.
Sebelumnya, Camat Bantargadung Syarifudin Rahmat mengonfirmasi temuan pola retakan tersebut setelah melakukan pengecekan langsung ke area perbatasan tanah rakyat. Syarifudin mendapati adanya titik mahkota pergerakan tanah di lokasi yang kini minim pepohonan.
“Saya sebetulnya waktu itu sudah ngecek ke atas langsung, ngecek langsung ya, di pas batas tanah perkebunan warga, tanah kebun rakyat ya, belum sampai ke tanah perkebunan yang perusahaan. Nah itu melihat ada pola retakan itu, itu mahkotanya di situ. Tapi di kebun warga juga sendiri gundul pas saya tanjakin gitu,” tutur Syarifudin.
Berdasarkan data administratif, wilayah mahkota retakan tersebut masuk dalam area salah satu perusahaan yang memegang sertifikat Hak Guna Usaha (HGU). Syarifudin menjelaskan saat ini sedang berlangsung proses diversifikasi usaha di lahan perusahaan tersebut.
“Dari awal perkebunan karet, ada usahanya perkebunannya menjadi penanaman duren sama alpukat, ditambah ada peternakan sapi. Ternyata pas itu ada informasi di atas ternyata ada lahan perkebunan karetnya itu sudah ditebangin, ya memang informasinya itu untuk persiapan lokasi peternakan sapi dimaksud,” jelasnya.
Saat ini, lebar retakan di titik mahkota dilaporkan telah mencapai satu meter, naik signifikan dari ukuran awal yang hanya 50 sentimeter. Syarifudin menyebut ada beberapa faktor lingkungan yang saling memengaruhi kondisi tanah di lokasi tersebut.
“Perkiraan kaitan pengaruh terjadinya pergerakan tanah kan biasanya curah hujan tinggi, kekuatan daya tahan tanahnya sendiri, dan faktor yang lain kaitan lingkungan atau vegetasi itu yang terakhir,” pungkas Syarifudin.







