Bandung –
Menjelang berbuka puasa, aktivitas di Masjid Masjid Al-Lathiif, Kota Bandung cukup sibuk. Ada jemaah yang mengikuti kajian di dalam masjid, jemaah yang baca Al-Quran di teras masjid dan ada juga jemaah yang sekedar bersantai, mengobrol dengan rekannya hingga bersandar ke tembok masjid hingga meluruskan kakinya.
Tak hanya itu, volunteer masjid ini juga sedang siap menyiapkan takjil gratis yang disediakan untuk jemaah yang hendak berbuka puasa di masjid itu. Mereka nampak sibuk menata mangkuk dengan rapi di atas sebuah meja.
Dari lorong masjid seorang pria berkemeja kuning juga nampak sibuk dengan tugasnya membersihkan masjid ini. Karena aktivitas di masjid ini cukup padat, pria itu sesekali membersihkan lantai dengan alat pelnya.
Tak hanya itu yang dia lakukan, jika lantai masih terlihat bersih dia mengecek bagian-bagian masjid lainya seperti sampah atau daun yang mengotori jalan yang ada di depan masjid.
berkesempatan berbincang dengan pria itu. Dia adalah Mumuh Muhtar, salah satu marbut di Masjid Al-Lathiif, yang menjadi basis pergerakan pemuda hijrah.
Pria kelahiran Majalengka yang kini berumur 56 tahun itu mengatakan, dia sudah menjadi marbut sejak tahun 2017 lalu.
“Saya kelahiran Majalengka tapi tinggal di Purwakarta. Saya sudah di sini sejak tahun 2017,” kata Mumuh, Senin (2/3).
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
“Tugas utama saya adalah muadzin (azan) setiap lima waktu. Selain itu, saya juga mengepel, menyapu halaman, dan mengurus kebersihan jalan di depan masjid,” tambahnya.
Masjid Al-Lathiif Bandung. Foto: Adi Mukti/ |
Mumuh juga menceritakan bagaimana awal mula dia bisa menjadi marbut di masjid ini. Dalam ceritanya, dulu Mumuh hanya jemaah pada umumnya.
“Awalnya saya jemaah biasa. Lalu ada kenalan, Ustaz Syahid, yang mengajak saya untuk azan di sini. Dulu saya hanya sanggup hari Jumat saja karena hari biasa saya berjualan, tapi akhirnya Ketua DKM meminta saya fokus di sini sepenuhnya,” ungkapnya.
Keluh Kesah
Jauh sebelum menjadi marbut, Mumuh datang ke Bandung pada tahun 80 an untuk berjualan plastik. Namun saat krisis moneter tahun 1998, dia meninggalkan pekerjaanya dan ikut saudaranya untuk mengumpulkan limbah rongsok, dengan tugas di bagian lapangan atau berkeliling mengumpulkan barang bekas
Tidak mudah bagi Mumuh untuk menjadi marbut, apalagi pekerjaanya dulu lebih menguntungkan dan lebih banyak menghasilkan uang. Namun baginya, bekerja sebagai marbut lebih tenang.
“Jauh sekali perbandingannya (penghasilan). Kalau dulu dagang dompet selalu penuh, entah itu uang sendiri atau uang pinjaman. Sekarang di sini penghasilan sekitar Rp2,5 juta, tapi alhamdulillah berkah dan selalu ada saja jemaah yang memberi tambahan,” jelas Mumuh.
Kepada , Mumuh juga mengisahkan pahit manisnya menjadi marbut. Untuk manisnya, hati Mumuh tenang karena selalu dekat dengan sang pencipta.
“Hati terasa tenang dan santai. Saya bisa salat berjemaah tepat waktu terus. Di sini juga banyak relawan anak muda yang membantu, jadi pekerjaan yang banyak pun terasa lebih ringan,” tuturnya.
Karena marbut di masjid ini ada enam orang, dia kerap alami perbedaan paham, meski demikian hal itu bisa diatasi dan diselesaikan dengan kepala dingin.
Keluarga di Purwakarta
Bukan sekarang saja, sejak berjualan plastik hingga pengepul barang bekas, Mumuh meninggalkan istri dan anaknya di Purwakarta. Meski jauh, dia tetap pulang seminggu sekali ke rumahnya.
“Saya pulang seminggu sekali. Biasanya pulang hari Jumat sore dan kembali lagi ke sini hari Senin pagi. Sabtu dan Minggu saya libur di rumah,” ujarnya.
Mumuh menyebut, dia memiliki istri bernama Dede Wiandah (43) dan memiliki tiga anak perempuan di antaranya, Ulfa Nurul Jannah (29), Hilda Khoerunisa (21) dan Tiara Nur Ramadhani (17).
“Anak pertama sudah kerja di Subang dia lulusan STIE Ekuitas, yang kedua baru saja wisuda dari STIA LAN dan yang ketiga masih kelas 3 di SMA 1 Sukatani,” pungkasnya.








