Bandung –
Suasana riuh khas pusat perbelanjaan mulai menggema di jantung Kota Bandung. Menjelang Lebaran, Pasar Baru Trade Center kembali hidup, dipenuhi langkah kaki, suara tawar-menawar, dan tumpukan pakaian baru yang menggoda mata para pemburu baju hari raya.
Pantauan pada Kamis (5/3/2026), sejak pukul 11.00 WIB, lorong-lorong pasar mulai dipadati pengunjung. Aroma kain baru bercampur dengan hiruk-pikuk percakapan para pembeli yang sibuk memilih pakaian terbaik untuk menyambut Idulfitri.
Bagi sebagian orang, menunda belanja hingga mendekati Lebaran adalah keputusan berisiko. Kehabisan model favorit bisa menjadi penyesalan tersendiri. Karena itu, strategi berburu baju jauh-jauh hari menjadi pilihan banyak keluarga.
Hal tersebut juga dilakukan Icha (17), pengunjung asal Majalaya. Bersama ibunya, ia sengaja datang lebih awal ke Pasar Baru demi memastikan baju Lebaran impiannya tidak keburu habis.
“Biasanya sih dari jauh-jauh hari, soalnya kan takut habis gitu modelnya,” ujar Icha kepada, Kamis (5/3/2026).
Baginya, Pasar Baru tetap menjadi tempat favorit untuk berburu baju Lebaran. Ragam pilihan yang melimpah dan harga yang ramah di kantong membuat pasar legendaris ini masih menjadi magnet bagi warga Jawa Barat.
“Soalnya di sini itu banyak pilihannya dan juga bisa murah-murah gitu, kayak nggak terlalu mahal,” tambahnya.
Suasana pasar baru jelang lebaran Foto: Shifa Lupiah Ajijah/ |
Di antara keramaian itu, ada pula Yuyun (66), seorang pengunjung yang datang bersama dua rekannya. Perempuan asal Purwakarta ini bukan sekadar pembeli biasa-ia juga seorang pedagang yang sudah puluhan tahun menjadikan Pasar Baru sebagai tempat kulakan.
Hubungannya dengan pasar ini bahkan telah terjalin sejak 1995.
“Oh, sudah dari tahun 1995 saya belanja ke sini. Sampai tahu, kalau mau nyari baju koko di toko ini, nyari gamis, sarung di toko ini,” tuturnya sambil tersenyum, mengenang perjalanan panjangnya sebagai pelanggan setia.
Sebagai penjual yang bisa datang dua hingga tiga kali dalam sebulan, Yuyun memiliki strategi tersendiri menghadapi lonjakan permintaan menjelang Lebaran. Ia harus cermat menentukan waktu belanja untuk stok dagangan dan kebutuhan pribadi.
“Kalau untuk jualan itu matokin, jadi udah nggak jual nggak beli lagi. Takutnya nanti barang nggak terjual, jadi di rumah numpuk,” kata Yuyun.
Namun untuk keluarganya, ia tak ragu memborong banyak perlengkapan ibadah dan pakaian baru. Baginya, Lebaran adalah momen berkumpul yang layak disambut dengan penuh persiapan.
“Oh banyak, sarung, koko, gamis, celana-celana… ini buat keluarga aja belanjanya banyak,” ujarnya sembari menunjukkan tas-tas belanjaannya yang penuh.
Dalam dunia perdagangan, perbandingan harga adalah hal yang tak terhindarkan. Menurut Yuyun, jika dibandingkan dengan Pasar Tanah Abang di Jakarta, harga di Pasar Baru memang sedikit lebih tinggi. Namun bagi warga Jawa Barat, selisih tersebut seolah terbayar oleh jarak yang lebih dekat.
“Ya bersaing sih ya. Kalau dibanding Tanah Abang agak mahal sedikit, tapi kalau dengan Pasar Andir di sini hampir bersaing harganya,” tutup Yuyun.
Di tengah derap langkah para pembeli dan gemerisik kantong belanja, Pasar Baru kembali menegaskan perannya-bukan sekadar tempat transaksi, tetapi juga ruang tradisi tahunan warga yang menyiapkan diri menyambut hari kemenangan.








