Bandung –
Aroma manis kurma menyambut setiap langkah yang memasuki lorong – lorong Pasar Baru Bandung. Di antara kios pakaian dan oleh – oleh khas kota, tumpukan kurma berwarna cokelat keemasan tersusun rapi di sebuah lapak milik Galih (25). Tangannya sigap menimbang, sesekali menjawab pertanyaan pembeli yang menawar harga.
Galih bukan wajah baru di pasar itu. Sejak awal 2000-an, ia sudah berdagang. Awalnya menjual aneka oleh-oleh biasa. Namun lima tahun terakhir, ia mulai berjualan kurma, buah yang identik dengan Ramadan.
Di lapaknya, pilihan kurma terbilang lengkap. Ada Sukari, Ajwa, Tunisia, Madinah hingga Mesir yang menjadi favorit banyak pelanggan. Bahkan kurma muda pun tersedia bagi pembeli yang mencari sensasi rasa berbeda
Tentang perbedaan penjualan antara Ramadan dan hari biasa, Galih mengakui ada lonjakan, meski tak selalu dihitung pasti.
“Oh tentu, jelas ada perbedaan omzetnya. Tapi kalau dipersenin sih tergantung, kan suka ada yang nawar juga. Jadi ya gimana per harinya juga gak tentu. Tapi rame ya, kalau bulan puasa.” ujar Galih saat berbincang dengan (4/3/2026)
Ramadan memang membawa suasana berbeda. Pembeli datang lebih banyak, stok cepat berkurang. Namun, Galih menyadari betul bahwa berdagang berarti siap menghadapi pasang surut. Bahkan cuaca pun bisa membuat lapaknya menjadi sepi. Saat ditanya jenis kurma yang paling diburu, Galih langsung menyebut dua nama yang paling sering ia timbang setiap harinya.
“Yang paling laris di sini kurma Mesir sama Tunisia, harganya Rp. 70.000 atau Rp. 80.000” jelasnya.
Dari berbagai jenis yang tersedia, kurma Mesir menjadi stok terbanyak. Peminatnya tinggi, harganya relatif terjangkau. Dalam satu musim ramai, ia bisa menyimpan hingga 200kg kurma Mesir. Soal harga termurah, Galih menjelaskan bahwa kualitas selalu menentukan nilai jual
“Yang paling murah Rp. 50.000 sekilo itu kurma Mesir, tapi yang kualitasnya jelek. Tapi di sini kita jual yang bagus.” tegasnya.
Ia menegaskan, kualitas adalah kepercayaan. Untuk menjaga kesegaran, Galih memberikan tips kurma disimpan di dalam freezer. Selama berjualan, ia mengaku hampir tak pernah mengalami kerugian akibat stok tak terjual. Kurma, menurutnya, tetap dicari orang entah untuk cemilan sehat, oleh-oleh atau persiapan ibadah.
Tak jauh dari lapak Galih, Bobon (49) juga menjajakan kurma. Namun berbeda dengan Galih, Bobon hanya membuka lapak kurma saat Ramadan. Di luar bulan puasa, ia jarang berjualan kurma hanya cemilan saja.
Berbicara soal suasana Ramadan, Bobon merasakan perubahan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau di bulan Ramadan mah cepat. Cuman jauh antara puasa dulu sama sekarang. Puasa dulu mah cepat, kalau sekarang kurang. Omzetnya pun jauh.” ungkap Bobon saat ditemui oleh (4/3/2026)
Ia menjual berbagai jenis kurma seperti Sukari, Madinah, Tunis hingga Madu. Yang paling sering dibeli pembeli adalah kurma Madinah dengan harga sekitar Rp. 60.000 per kilogram. Saat menjelaskan variasi harga yang tersedia dilapaknya, Bobon merinci kisarannya.
“Harganya ada yang Rp. 100.000, Rp. 130.000, dan Rp. 80.000.” tambahnya
Kurma yang ia jual merupakan barang kiriman atau titip jual. Ia tak menyimpan stok sendiri dalam jumlah besar. Meski begitu, kiriman yang datang bisa mencapai satu ton meski menurutnya, jumlah itu tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
Pembelian pun beragam. Ada yang membeli dalam jumlah kecil untuk konsumsi keluarga, ada pula yang membeli dalam jumlah besar untuk dibagikan ke mesjid. Sambil menunjukkan beberapa kemasan, Bobon menjelaskan variasi pembelian konsumennya.
“Ada yang seperempat, ada yang setengah, yang sekilo. Yang dus juga ada yang 5 kilo, harganya Rp. 300.000, ada juga yang Rp. 250.000. Kalau setengah ini Rp. 40.000, ada juga Rp. 50.000, gimana jenis kurmanya. Kan beda nama kurmanya, beda produk.” jelasnya panjang lebar
Menjelang akhir perbincangan, ia menambahkan bahwa sebagian pembeli memang membeli untuk berbagi di masjid. “sama ini kan buat ke masjid bagi – bagi, jadi harganya agak murah.” tambahnya
Meski hanya mengandalkan Ramadan untuk berjualan kurma, Bobon mengaku penghasilannya tidak terlalu mempengaruhi kondisi ekonomi keluarganya secara signifikan. Ia menyadari, pola belanja masyarakat berubah, daya beli pun tak selalu sama setiap tahun.







