Misi Sunyi untuk UMKM di Balik Deru Vespa Tua

Posted on

Bandung

Deru mesin tua memecah sunyi sebuah gang sempit di Jatinangor. Malam hampir larut ketika belasan Vespa berhenti di depan warmindo kecil dengan lampu yang remang-remang. Di balik etalase sederhana, sepasang suami istri yang tadinya duduk menunggu pembeli mendadak berdiri kaget, lalu tersenyum haru.

Malam itu, dagangan mereka yang belum laku sama sekali, perlahan habis. Bukan karena viral di media sosial, bukan pula karena promo besar-besaran. Melainkan karena sekelompok pengendara Vespa yang memutuskan untuk berhenti, duduk, dan membeli.

Mereka menamakan diri sebagai The Madness Peeps, sebuah pergerakan berbasis hobi motor klasik yang menjadikan nongkrong sebagai medium berbagi. Bagi mereka, riding bukan sekadar pelarian dari rutinitas, melainkan cara sederhana untuk menjaga usaha kecil tetap menyala.

Bima, salah satu penggagas gerakan ini, mengingat betul bagaimana semuanya bermula. Lima tahun lalu, mereka hanya sekumpulan pekerja-kebanyakan barista-yang sering berkumpul selepas jam kerja sambil mengendarai Vespa. Vespa menjadi kendaraan harian sekaligus alasan untuk berlama-lama di jalan sebelum pulang.

“Awalnya cuma pulang kerja terus motoran. Istirahatnya ya nongkrong bareng,” ujarnya.

Kebiasaan itu perlahan berubah dua tahun terakhir. Dari sekadar kumpul dan ngopi, muncul kesadaran bahwa tongkrongan mereka bisa lebih berarti. Mereka mulai menyambangi coffee shop milik teman, terutama yang baru buka dan masih sepi pengunjung.

Datang ramai-ramai, memesan menu, lalu membuat konten seadanya untuk media sosial. Tanpa bayaran, tanpa rate card*, tanpa proposal kerja sama. Mereka menolak disebut *influencer, meski dampaknya kerap terasa seperti promosi profesional.

“Kalau tempatnya jadi ramai, itu bonus. Kami pure cuma pengen bantu,” kata Bima.

Gerakan itu tak berhenti di coffee shop. Saat riding jarak jauh, mereka kerap berhenti di warung-warung kecil-warung sate, tukang nasi goreng, atau pedagang kaki lima yang terlihat lengang. Bagi mereka, tempat yang tidak viral itulah yang perlu didatangi.

Aul yang merupakan inisiator juga menyebut, momen di warmindo Jatinangor itu menjadi titik balik semangat mereka. Melihat pemilik warung terharu karena dagangannya habis membuat mereka sadar, kehadiran sederhana bisa berarti besar.

Bahkan anggota yang tak ikut riding tetap mengirim uang untuk ikut membeli. ‘Sok ini urang transferin buat beli apa aja anak-anak’, begitu pesan yang sering muncul di grup kecil mereka.

Dari situ, semangat mereka semakin menguat. Targetnya bukan tempat yang sudah viral, melainkan warung yang masih berjuang. Bagi mereka, nongkrong bukan soal gaya hidup, melainkan soal kebermanfaatan. Jika melihat warung sepi saat riding, mereka sengaja berhenti dan memborong dagangan agar pemiliknya bisa pulang lebih cepat.

“Kalau bukan kita yang beli, siapa lagi?” ucap Bima.

The Madness Peeps memang bukan komunitas formal. Tidak ada struktur organisasi, tidak ada kartu anggota. Mereka menyebut diri sebagai movement-pergerakan yang bermula dari niat sederhana membantu sesama.

Jumlah penggagas awalnya tujuh orang dengan latar belakang berbeda, dari barista, pekerja interior, hingga sipil. Meski identik dengan Vespa, mereka tak membatasi jenis kendaraan. Siapa pun bisa ikut.

Vespa hanya menjadi benang merah karena sebagian besar sudah menggunakannya sejak masa kuliah. Bima sendiri mulai memakai Vespa sejak 2010, bukan karena gaya, melainkan karena itu yang mampu ia beli saat itu.

Namun motor klasik itu justru memberi lebih dari sekadar alat transportasi. Ia menjadi medium silaturahmi dengan rasa yang berbeda dari kendaraan lain. Setuju dengan hal itu, Aul merasakannya saat bekerja di Sukabumi. Dari satu Vespa di parkiran coffee shop, percakapan mengalir, pertemanan terjalin, dan jaringan meluas di mana pun dia berada.

Fenomena naiknya pamor motor klasik di kalangan anak muda pun mereka sambut positif. Bagi Bima, tren itu menghidupkan kembali bengkel-bengkel lama dan pedagang suku cadang yang sempat redup.

“Kalau makin banyak yang pakai motor klasik, makin banyak juga yang terbantu,” katanya.

Bagi The Madness Peeps, mesin tua hanyalah pengantar. Nilai utamanya tetap pada kepedulian. Mereka percaya perubahan tak selalu harus menunggu kebijakan besar.

Membeli lima gorengan, me-repost jualan teman, atau memilih nongkrong di warung sepi bisa menjadi bentuk dukungan nyata. *Healing, bagi mereka, bukan tentang menghabiskan uang demi gengsi, tetapi tentang memastikan orang lain bisa pulang dengan dagangan habis.

Halaman 2 dari 2