Sukabumi –
Bunyi denting ompreng yang beradu terdengar nyaring di salah satu sudut Dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Tonjong, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.
Di balik kepulan uap nasi yang membubung, seorang pria tampak begitu telaten. Tangannya lincah menyeka sisa makanan, memastikan tiap wadah kembali kinclong.
Ia adalah Muhammad Ramzi (25). Bagi pria asal Cikadu ini, urusan cuci-mencuci bukan sekadar rutinitas mencari nafkah. Ada prinsip kesucian yang ia bawa langsung dari teras masjid ke bak pencucian dapur gizi.
Ramzi bukan pekerja biasa. Ia adalah seorang marbot masjid yang kini melakoni peran ganda sebagai kru divisi pencucian dan operator oven di SPPG. Lima bulan sudah ia berjibaku di sini.
Sebagai lulusan SMP, Ramzi tak menampik bahwa mencari kerja di zaman sekarang bak mencari jarum dalam jerami. Dulu, hari-harinya ia habiskan untuk merawat rumah Tuhan dan mengajar anak-anak mengeja huruf hijaiyah.
“Memang saya kesulitan sebelum kerja ke MBG (Makan Bergizi). Sehari-harinya saya menjadi marbot masjid, serta mengajar anak-anak mengaji,” tutur Ramzi dengan suara rendah saat berbincang dengan, Minggu (1/3/2026).
Baginya, hadirnya program Makan Bergizi (MBG) ini adalah jawaban atas doa-doa yang ia langitkan di sepertiga malam. Ekonomi yang dulunya pas-pasan, kini mulai menemui titik terang.
“Kata istri alhamdulillah, semenjak kerja di MBG, segala kebutuhan sudah tercukupi. Semuanya, terutama ekonomi, alhamdulillah berkah,” ungkapnya penuh syukur.
Sosok Ramzi, sang marbot yang kini menjemput berkah di dapur gizi Foto: Syahdan Alamsyah/ |
Meski kini harus berkutat dengan ribuan ompreng dari pukul 14.00 hingga menjelang Maghrib, Ramzi tak lantas menanggalkan pengabdiannya di masjid. Ia hanya menggeser waktu, bukan meninggalkan tanggung jawab.
“Kalau sebelumnya mengajar mengaji siang hari, sekarang dipindahkan ke bakda Isya. Jadi masih rutin,” jelasnya.
Ketulusan Ramzi ini pun memikat hati Ucup Junansyah, pengelola Yayasan Peduli Lingkungan Bermanfaat yang mengelola dapur tersebut. Di mata Ucup, Ramzi adalah potret nyata bagaimana program gizi bisa mengubah nasib warga lokal.
Ucup bercerita, dapur SPPG Tonjong memang dirancang untuk merangkul orang-orang seperti Ramzi. Sekitar 90 persen tenaga kerja di sana adalah warga setempat.
“Kami ingin merasakan rezeki ini agar mereka juga merasakannya. Alhamdulillah kami bersyukur, dengan adanya dapur di SPPG Tonjong ini, semua warga bisa merasakan manfaatnya,” kata Ucup.
Sosok Ramzi, sang marbot yang kini menjemput berkah di dapur gizi Foto: Syahdan Alamsyah/ |
Khusus untuk Ramzi, Ucup punya kekaguman tersendiri. Meski hanya lulusan SMP, Ucup menganggap etos kerja sang marbot melampaui ekspektasi. Kedisiplinan menjaga kebersihan masjid ternyata berimbas pada kualitas kerjanya di dapur gizi.
“Dia membawa kebiasaan menjaga kesucian masjid ke tempat pencucian ompreng ini. Dia memastikan semuanya benar-benar bersih seolah itu bagian dari ibadahnya,” puji Ucup.
Kisah Ramzi adalah salah satu potret bagaimana sebuah program kebijakan mampu menyentuh sisi kemanusiaan terdalam.
Dari masjid ke dapur, dari doa ke kerja nyata, Ramzi membuktikan bahwa berkah bisa dijemput dari mana saja bahkan dari sela-sela tumpukan ompreng.









