Keterbatasan Tubuh Tak Halangi Jafar Mengejar Mimpi dari Jalanan

Posted on

Indramayu

Sebuah rumah sederhana berdiri di Desa Tegalurung, Blok Kibuyut Gaplok, Kecamatan Balongan. Rumah itu tidak besar, namun dari sanalah semangat besar tumbuh setiap hari.

Di rumah itulah Muhammad Jafar Sodik (16) tinggal, seorang difabel yang menderita kelumpuhan di kedua kakinya. Jafar adalah putra sulung dari empat bersaudara. Ayahnya, Mu’min (58), sejak kecil mengalami kelumpuhan juga. Namun keterbatasan fisik tidak membuatnya menyerah pada keadaan.

Untuk menafkahi keluarga, Mu’min berjualan di depan depan sekolah dasar di dekat rumahnya. Dari tempat sederhana itulah roda kehidupan keluarga berputar. Semangat itu rupanya menurun kepada Jafar.

Kini, Jafar tercatat sebagai siswa kelas 2 di salah satu SMK swasta yang ada di Indramayu. Setiap pagi, sang ayah setia mengantarnya ke sekolah.

Namun perjuangan Jafar tidak berhenti di ruang kelas. Sepulang dari sekolah, Jafar berubah peran menjadi pedagang keliling. Dengan sepeda buatan tukang las yang khusus dirancang untuk dirinya, ia mengayuh sepedanya menggunakan tangan, ia menempuh puluhan kilometer jalan menyusuri beberapa wilayah di Indramayu seperti Sindang, dan Indramayu kota (Kecamatan Indramayu).

“Sindang, Indramayu kota, Karangsong. Iya, pakai tangan, jawabnya singkat ketika ditanya tentang aktivitasnya sebagai pedagang keliling, saat ditemui di kediamannya, Kamis (26/2/2026).

Sapu lidi dan sapu ijuk ia susun rapi, menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga. Dalam sehari, hasil jualannya bisa mencapai Rp300 ribu. Kadang hanya sekitar Rp200 ribu. Namun bagi Jafar, angka bukanlah segalanya.

“Satunya itu harganya Rp10 ribu. Sapu lidi dan sapu ijuk Rp10 ribuan semua,” katanya.

Ada kisah-kisah kecil yang membuat perjalanannya terasa hangat. Pernah pembeli memberinya uang lebih dan menyuruh kembaliannya untuknya saja. Pernah juga ada yang membeli sapu lalu memintanya meletakkan sapu itu di masjid.

“Biasanya saya taruh di Masjid Agung atau Masjid An-Nur (di dekat Sport Center Indramayu), ada juga yang emang niat pengen ngasih saja sesuai harga sapu, nanti sapunya terserah saya mau dikasih ke siapa, tapi biasanya saya kasih ke masjid,” tuturnya.

Muhammad Jafar Sodik (16), seorang difabel yang tidak pernah patah semangat mengayuh sepedanya berdagang keliling, Kamis (26/2/2026).Muhammad Jafar Sodik (16), seorang difabel yang tidak pernah patah semangat mengayuh sepedanya berdagang keliling, Kamis (26/2/2026). Foto: Burhannudin/

Semangat berdagang Jafar sudah tumbuh sejak SMP. Saat itu, ia menjual kipas bambu atau orang Indramayu menyebutnya “ilir” seharga lima ribu rupiah. Kipas itu dibuat oleh ayahnya.

“Yang bikin bapak. Nah, bedanya kalau sapu ijuk dan sapu lidi itu dari orang terus saya jualin, sekarang juga bapak masih bikin kipas tapi hanya terima pesanan saja,” katanya bangga.

Kebutuhan pasar membuatnya beradaptasi. Orang tidak selalu membutuhkan kipas. Maka Jafar beralih menjual sapu, barang yang hampir selalu dibutuhkan setiap rumah.

Menariknya, keputusan untuk berjualan bukan datang dari orang tua. “Orang tua tidak pernah menyuruh. Saya inisiatif sendiri saja, Mas,” ujarnya.

Awalnya tidak mudah. Jafar mengakui sempat merasa malu. “Takut ketemu teman,” katanya pelan.

Bayangan bertemu teman sekolah saat sedang berjualan membuatnya canggung. Namun realitas mengajarkannya keteguhan.

“Sekarang sudah biasa. Saling menyapa dan saya tidak peduli mau diomongin apa sama orang,” kata Jafar.

Muhammad Jafar Sodik (16), seorang difabel yang tidak pernah patah semangat mengayuh sepedanya berdagang keliling, Kamis (26/2/2026).Muhammad Jafar Sodik (16), seorang difabel yang tidak pernah patah semangat mengayuh sepedanya berdagang keliling, Kamis (26/2/2026). Foto: Burhannudin/

Tidak ada lagi rasa rendah diri. Baginya, yang ada hanyalah keyakinan bahwa membantu orang tua adalah kebanggaan, bukan aib.

Jafar berangkat berjualan sekitar pukul dua siang setiap harinya. Dengan tangan yang sama yang ia gunakan untuk menulis di sekolah, ia mengayuh sepedanya.

Satu harapan Jafar sangatlah sederhana di masa mendatang, ia hanya ingin menjadi seorang pendakwah yang sukses. Setidaknya, ia ingin bermanfaat bagi sesama manusia, dan sebagai seorang hamba Allah SWT ia ingin mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

“Pengen jadi ustaz atau orang yang mengajak ke jalan Allah,” ucapnya dengan nada lirih.