Bandung Barat –
Kesibukan relawan dan tim SAR tak lagi nampak dari lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Operasi pencarian sudah dihentikan sepekan lalu.
Di tengah duka yang masih tersisa serta upaya memulihkan trauma gegara bencana, lokasi longsor yang membentang sepanjang 2,5 kilometer justru mendadak jadi spot wisata bahkan ngabuburit menanti waktu berbuka.
Tanah yang berantakan oleh reruntuhan bangunan, batu-batu raksasa yang berserakan, serta aliran sungai dadakan yang muncul di tengah lokasi longsor justru menarik rasa penasaran ‘wisatawan’ untuk melancong.
“Iya, sekarang malahan jadi tempat ngabuburit. Banyak dari orang luar, soalnya saya enggak kenal wajahnya,” kata seorang warga penyintas longsor Cisarua, Iman Rahmat saat ditemui, Rabu (25/2/2026).
Ia dan warga lainnya yang terdampak longsor dari Gunung Burangrang tentunya jengah. ‘Wisatawan bencana’ datang seenaknya kemudian membuat konten demi keuntungan pribadi. Hal itulah yang dikeluhkan Iman.
“Dari awal juga banyak media, tapi kan beda. Sekarang malah banyak yang datang terus buat konten, mereka dapat uang sementara kita korban dapat apa? Padahal kita kan berduka karena keluarga jadi korban, terus rumah tinggal enggak ada,” kata Iman.
Buntutnya, warga dan pemerintah desa lalu memasang spanduk di Kampung Pasir Kuda yang juga porak-poranda. Diikatkan ke dua batang pohon, terpampang jelas tulisannya ‘BUKAN TEMPAT WISATA, JAGA ADAB’. Tulisan yang jelas merepresentasikan tatkala lokasi bencana dieksploitasi jadi komoditas konten untuk media sosial.
Hamparan material longsor dengan lebar kurang lebih 40 meter yang sudah mengering kini mulai bisa dilintasi warga. Di atasnya, banyak bertebaran mahkota-mahkota bunga berwarna-warni. Bahkan ada nisan yang sengaja dipasang warga bertuliskan nama anggota keluarga yang belum ditemukan.
“Iya itu kan dipasang sama warga, banyak yang datang ke sini buat berdoa. Kalau pencarian kayaknya sudah enggak ada, cuma mendoakan semoga sewaktu-waktu bisa ditemukan jasadnya,” kata Iman.
Berdasarkan data yang disampaikan SAR Mission Coordinator (SMC) di akhir operasi pencarian korban longsor pada 14 Februari lalu, ada sekitar 20 korban lagi yang belum ditemukan. Namun batas waktu yang sudah ditentukan sebelumnya, mengharuskan mereka menyudahi upaya kemanusian menemukan jasad korban.
Keluarga yang ditinggalkan tak bisa protes. Mereka ikhlas, namun tetap menjaga asa tubuh keluarga yang diyakini sudah tak lagi utuh tetap bisa ditemukan demi dikebumikan secara layak.







