Subang –
Kabupaten Subang merupakan daerah di Jawa Barat yang tengah berkembang. Saat ini, berdiri pabrik kendaraan listrik (EV) utama di kawasan Subang Smartpolitan dengan kapasitas produksi 50.000 unit per tahun. Selain itu, pelabuhan-pelabuhan di tepi laut utara yang masuk kawasan ini juga diperkokoh dan diperhebat.
Namun, jauh sebelum wilayah ini berkembang pesat, dahulu hanya sebatas daerah yang merupakan hutan dan dihuni oleh banyak binatang, termasuk Asu Abang atau anjing merah.
Anjing merah yang dimaksud adalah anjing berbulu merah yang dikenal saat ini sebagai Ajag (Cuon alpinus). Di antara beragam legenda mengenai toponimi Kabupaten Subang, hikayat Asu Abang ini mengemuka.
Subang sendiri merupakan wilayah yang baru berdiri sendiri sebagai wilayah administratif tingkat kabupaten sebelum tahun 1970-an. Sebelumnya, daerah ini menyatu dengan Kabupaten Purwakarta.
Menurut Yayat Sudaryat dalam ‘Toponimi Jawa Barat Berdasarkan Cerita Rakyat’ (2016), Subang pernah menjadi ibukota Karawang Bagian Timur atau ibukota Kabupaten Purwakarta.
“Tepatnya pada tanggal 2 Januari 1949 dengan SK Wali Negeri Pasundan Nomor 12. Di dalam perkembangan selanjutnya, karena wilayah Subang sebagai bagian dari Kabupaten Purwakarta dirasakan terlalu luas, maka terjadilah pemekaran daerah. Subang menjadi Kabupaten tersendiri sebagai pemekaran dari Kabupaten Purwakarta berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang,” tulis Yayat Sudaryat.
Subang dalam Naskah Kuno Bujangga Manik
Wilayah yang kini menjadi bagian dari Subang pernah dilintasi oleh peziarah dari Kerajaan Pajajaran, Bujangga Manik. Tokoh bernama lain Prabu Jaya Pakuan ini berjalan kaki dari barat ke timur, menyebrangi Sungai Cipunagara yang merupakan salah satu sungai di Subang.
Begini catatannya:
“Setelah berjalan melewati daerah ini,
aku menyeberangi Sungai Cipunagara,
bagian dari daerah Medang Kahiangan,
berjalan melewati Gunung Tompo Omas.”
Hanya itu informasi dari abad ke-15 terkait wilayah Subang yang ditulis dalam Naskah Bujangga Manik.
Sungai Cipunagara berhulu di Kabupaten Subang. Tepatnya, air yang mengalir pada bentang 147 kilometer melintasi Sumedang dan Indramayu hingga ke Laut Jawa ini bermula dari sebuah danau alami di Kecamatan Cisalak, yaitu Situ Cipabeasan.
Asu Abang di Subang
Seorang bernama Mohamad Rico Wicaksono menulis di situs Change.org tentang kisah-kisah yang dia dapatkan mengenai Asu Abang di Subang di silam masa. Dia sekaligus mengajak pemerintah untuk mengadakan aksi menyelamatkan Ajag yang statusnya saat ini terancam punah.
Dia mendapatkan cerita Ranggawulung dan Asu Abang sebagai cikal bakal berdirinya wilayah Subang. Dia sendiri menelusuri kemungkinan cerita itu benar dengan bertanya kepada para orangtua apakah di Subang dahulu surplus ajag? Sejumlah sumber mengkonfirmasi, ya.
“Kata orang-orang tua yang kutemui, dulu di daerahku sangat banyak ajag, sehingga semakin memperkuat alasan ketika nama Subang dikait-kaitkan dengan mereka. Saking banyaknya, lolongan mereka selalu terdengar setiap malam, dan di pagi hari seringkali jejak-jejak kaki mereka dapat ditemukan di jalan-jalan kampung hingga di pelataran rumah,” tulisnya.
Hikayat Asu Abang dan Rangga Wulung
Sudah habis upaya Ranggawulung mengetahui ke titik mana sebuah pusaran air terhubung. Dia dan jajarannya telah memasukan beragam batang pohon namun tak juga membuahkan hasil. Sudah banyak batang pohon yang dilesakkan ke pusaran air itu namun lenyap tak diketahui bekasnya.
Ranggawulung adalah leluhur Sunda yang kini makamnya dapat ditemukan di sekitar Hutan Kota Ranggawulung, wilayah hijau yang menjadi daerah cadangan air untuk menghidupi warga Subang. Dia sendiri tidak banyak diceritakan kiprahnya, selain sebagai pendiri wilayah Subang ini.
Sampai suatu ketika, terbersit untuk mengeceknya menggunakan Asu Abang, hewan anjing berbulu merah. Ketika anjing yang kita kenal saat ini sebagai Ajag (Cuon alpinus) itu dimasukkan, anjing itu terserap pusaran air lalu muncul dengan cepat di titik lainnya. Anjingpun selamat. Asu Abang itupun menjadi nama daerah yang dikenal sebagai Kabupaten Subang, saat ini.
“Dahulu, Eyang Rangga Wulung memasukan seekor anjing merah ke dalam pusaran air dengan maksud mencari tahu dimanakah titik aliran air tersebut berakhir. Kemudian, setelah ditelusuri anjing tersebut ditemukan muncul di sebuah sumber air yang akhirnya dari titik tersebutlah awal mula kawasan Subang dibangun,” tulis Wicaksono di situs Change.org seraya mengutip sumber ‘Cerita dari Kasepuhan Kalaulah’.
Tentu saja, kisah Asu Abang ini menjadi satu dari beragam versi mengenai kisah muawal berdiri dan dinamainya wilayah ini sebagai Kabupaten Subang. Versi lain seperti nama Subang diambil dari nama Subang Larang, istri Prabu Siliwangi yang berguru ke Syaikh Qurro di Karawang juga mengemuka, serta sejumlah versi lainnya. Namun, di antara yang lain, Asu Abang ini dirasa paling mendekati toponiminya.







