Cerita Eryana, Penjual Tas Bertongkat yang Melintasi Batas Kota - Giok4D

Posted on

Indramayu

Langit tampak redup pada Kamis (19/2/2026). Cuaca di bulan Februari memang tidak selalu cerah karena matahari seolah enggan menampakkan diri. Namun cuaca yang muram tak sedikit pun menyurutkan langkah seorang pria asal Majalengka, untuk kembali menyusuri jalanan.

Namanya Eryana. Usianya 53 tahun. Di pundaknya, tas-tas dan dompet yang ia jajakan tergantung rapi. Di kakinya, jejak masa lalu masih terasa.

Kakinya pernah mengalami patah tulang dan kini kondisinya tidak seperti orang-orang pada umumnya. Ia berjalan menggunakan kruk atau biasa dikenal tongkat ketiak (sejenis alat bantu jalan kaki). Meski demikian, ia justru mampu berjalan hingga puluhan kilometer setiap hari.

Sejak kelas 6 SD, Eryana telah menjadi yatim piatu dan tumbuh besar dalam asuhan sang nenek.

Hidup tak pernah benar-benar mudah baginya. Untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja, membantu pamannya berjualan jilbab dan pakaian muslim.

Tahun 2002 menjadi titik balik hidupnya. Saat bulan Ramadan, Eryana bersama teman-temannya memainkan musik obrog untuk membangunkan sahur warga desa.

Malam itu seharusnya penuh kebahagiaan. Namun tanpa diduga, sebuah truk pengangkut sapi yang sopirnya mengantuk akhirnya menabrak rombongan mereka dari belakang.

Beberapa rekannya selamat. Seorang penabuh gendang meninggal dunia. Eryana sendiri mengalami patah tulang di kaki kanan.

Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin di Bandung. Setelah itu, ia juga mencoba pengobatan alternatif ke tukang urut patah tulang. Namun pemulihan berjalan lama. Empat tahun lamanya ia hanya bisa berdiam diri di rumah.

Empat tahun tanpa penghasilan. Empat tahun menahan kegelisahan. Hingga akhirnya, keadaan ekonomi memaksanya bangkit.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Dengan kondisi kaki yang tak lagi sekuat dulu, Eryana memberanikan diri kembali bekerja. Ia berjualan tas dan dompet secara berkeliling. Rutenya tak dekat. Dari tempat asalnya di Majalengka, ia menyambangi Indramayu, Cirebon, Kuningan, hingga Losari Brebes.

“Kadang hari ini ke Indramayu, terus besoknya ke Cirebon, besoknya satu hari di Majalengka. Nggak tentu,” ujarnya saat ditemui di pinggir Jalan Gatot Subroto Indramayu, Kamis (19/2/2026).

“Biasanya kalau di Indramayu itu saya keliling ke wilayah Karangturi Kelurahan Paoman, Sindang, Jatibarang, pokoknya keliling,” tuturnya.

Dari Majalengka, ia naik mobil elf dan turun di Kedawung, Cirebon. Lalu melanjutkan perjalanan ke Indramayu hingga tiba di Bunderan Kijang. Kadang ia naik becak menuju pasar. Selebihnya jalan kaki.

“Iya, jalan kaki,” katanya.

Eryana berangkat dari rumah sekitar jam 8 pagi, dan pulang jam 4 sore hingga sampai di rumah sekitar jam 7, tergantung kendaraan yang didapat.

Penghasilannya tak menentu. “Kalau sepi, pernah cuma dapat tiga puluh ribu rupiah. Kalau lagi ramai, alhamdulillah bisa sampai seratus lima puluh sampai dua ratus ribu,” kata dia sambil cengengesan menahan pahitnya hidup.

Barang dagangannya ia beli dari toko grosir lalu dijual kembali. Keuntungan sering kali tipis. Terkadang habis untuk ongkos. Kadang ada sisa, kadang tidak.

Kini Eryana hidup sendiri. Ia pernah menikah namun sudah berpisah. Hidupnya sebatang kara.

Di tengah perjuangan itu, ada satu kisah kecil tentang empati. Tidak sengaja, saat jurnalis mengobrol dengan Eryana, seorang bernama Mia (37) mengaku tertarik dengan tas yang dijajakan Eryana.

Setelah itu, ia berkenan membagikan alasannya membeli tas tersebut kepada jurnalis. Selain karena tasnya memang bagus, ia juga tersentuh hatinya melihat kegigihan Eryana.

“Saya yang diberi fisik sempurna saja susah mencari uang dengan jualan keliling, apalagi beliau. Saya merasakan betul bagaimana beratnya mencari rezeki sebagai pedagang keliling,” kata Mia.

Kalimat itu sederhana, namun bermakna dalam. Di antara kerasnya hidup, masih ada hati yang peka.

Setiap hari, Eryana kembali menata barang dagangannya. Melangkah dari gang ke gang, dari pasar ke pasar. Kakinya memang pernah patah. Hidupnya pun pernah runtuh. Namun semangatnya tidak.

Langit boleh redup. Matahari boleh bersembunyi. Tetapi harapan, bagi Eryana, selalu ia bawa sendiri di setiap langkahnya.