Polda Jabar Musnahkan 28,9 Kg Sabu dan Ribuan Knalpot Brong

Posted on

Bandung

Puluhan kilogram narkoba jenis sabu dimusnahkan Polda Jabar menjelang bulan Ramadan. Pemusnahan barang haram ini dilakukan dengan cara dibakar menggunakan mesin insinerator di halaman belakang Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung.

Tak hanya itu, narkoba jenis ganja hingga obat-obatan terlarang juga ikut dihancurkan. Selain itu, puluhan ribu botol minuman keras (miras) digilas menggunakan alat berat jenis stoomwalls.

Pemusnahan ini dipimpin langsung Kapolda Jabar Irjen Pol Rudi Setiawan, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, dan unsur Forkopimda Jabar.

“Kita melakukan pemusnahan barang-barang yang merugikan atau berdampak bahaya terhadap masyarakat Jawa Barat. Di antaranya adalah kita memusnahkan 28,9 kilo sabu, dan ada 160 ribu butir obat-obatan kemudian miras ada 69 ribu lebih,” kata Rudi usai pemusnahan, Rabu (18/2/2026).

“Ini kita lakukan sebagai wujud pelayanan wujud lindungi Polda Jabar dan jajaran kepada masyarakat Jawa Barat,” tambahnya.

Rudi mengungkapkan, dampak psikotropika, sabu, dan obat-obatan cukup meresahkan serta sangat membahayakan generasi muda Jawa Barat.

“Akibat dari pada mengkonsumsi pil obat berbahaya dan terlarang yang dengan harga murah tetapi daya rusaknya itu luar biasa,” ungkapnya.

Tidak hanya merusak fisik pengonsumsi, dampak narkoba menurut Rudi juga menyasar pada perubahan perilaku. Mulai dari kekerasan, perkelahian, pengeroyokan, pelecehan, hingga berakibat fatal atau meninggal dunia.

“Ini konflik-konflik sosial, masalah-masalah sosial yang timbul dari mengkonsumsi narkoba, minum-minuman keras dan pencurian kendaraan motor. Dan satu lagi tadi kita ikut kita musnahkan adalah 4.500-an knalpot yang tidak sesuai,” ujar Rudi.

Apresiasi Gubernur untuk Polda Jabar

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengucapkan terima kasih kepada Kapolda Jabar. Selama hampir setahun memimpin Jawa Barat, Dedi menilai terjadi perubahan besar dalam perilaku publik serta kecepatan penindakan terhadap berbagai kasus kriminal.

“Kasus pembunuhan terungkap dalam waktu 1 hari, kadang. Kemudian premanisme dalam waktu sekejap ditahan, geng motor ditangani dengan baik, dan itu saya biasa WA-an dengan Pak Kapolda, Bapak Maung Lodaya. Saya ucapkan terima kasih,” kata Dedi.

Dedi mengisahkan, membangun jalan, sekolah, atau infrastruktur lainnya adalah perkara mudah selama anggarannya tersedia.

“Tetapi berulang-ulang saya sampaikan yang terberat di Jawa Barat itu adalah mengubah perilaku hidup masyarakat yang orang Jawa Barat itu satu sangat terbuka. Disebut sangat terbuka itu orang Jawa Barat itu mudah menerima informasi, mudah menelan informasi, dan mudah bereaksi atas sebuah informasi. Karena masyarakatnya masyarakat terbuka. Warna ideologinya orang Jawa Barat itu tidak begitu nampak seperti di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Pluralismenya sudah sangat kuat. Kemudian yang berikutnya adalah tingkat hedonisnya juga agak lumayan,” jelas Dedi.

Kemudian prinsip hidup masyarakat menurut Dedi, ‘Kajieun Teuing Tekor Akal Asal Sohor,’ juga menjadi perhatian.

“Nah, perilaku sosial ini kalau pemimpinnya tidak keras melakukan upaya pembatasan-pembatasan terhadap perilaku sosial yang menimbulkan kerugian bagi orang lain, maka saya mengatakan 20 tahun ke depan Jawa Barat bablas. Bablas apa? Rakyat kehilangan tanahnya, rakyat kehilangan rumahnya, rakyat akan banyak utangnya, dan rakyat akan kehilangan dengan kesempatan kerjanya,” terangnya.

Halaman 2 dari 2