Bandung –
Paparan radikalisme di kalangan remaja dan anak sekolah menjadi perhatian serius di Jawa Barat. Fenomena ini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan kerap beririsan dengan persoalan lain seperti bullying, pengaruh ruang digital, hingga kondisi psikologis anak yang rentan.
Isu tersebut menjadi salah satu fokus utama yang dibahas dalam Forum Perangkat Daerah yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Barat. Kepala Bakesbangpol Jabar, Wahyu Mijaya, menegaskan bahwa penyusunan program kerja lembaganya memang berangkat dari dinamika persoalan yang berkembang di masyarakat.
“Kita melaksanakan forum perangkat daerah bidang kesatuan bangsa dan politik. Kita mengundang dari seluruh perangkat daerah tingkat provinsi dan 27 kabupaten/kota, juga dengan mitra Kesbangpol seperti PKUB, forum anak dan sebagainya,” ujar Wahyu, Rabu (18/2/2026).
Forum itu sekaligus memaparkan rencana program dan kegiatan 2027 yang merujuk pada kebijakan pusat dan provinsi. Dalam menyusun langkah, Bakesbangpol berpegang pada tiga indikator utama.
“Rujukan kita ada indikator yang menjadi pengukuran untuk Kesbangpol, ada 3 yaitu indeks kerukunan umat beragama, indeks demokrasi dan indeks ketahanan masyarakat,” jelasnya.
Dari berbagai isu itu, radikalisme di kalangan pelajar menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan. Untuk 2026, program penanganan bahkan sudah diformulasikan lebih konkret.
“Masih sama, tapi untuk 2026 kan sudah menjadi program dan kegiatan. Ada sekolah kebangsaan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, ada indikasi anak-anak SMP, SMA, SMK yang terpapar radikalisme misalnya,” ujarnya.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat umum, tetapi juga personal dengan melibatkan tenaga profesional hingga kerja sama lintas lembaga dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah yang dianggap rawan.
“Kemudian kita akan coba lebih banyak menghadirkan psikolog dan lebih kepada pendekatan per individu. Sekolah kebangsaan juga untuk berbagai persoalan di Jabar. Sekolah kebangsaan juga kerjasama dengan densus 88, ada lagi terkait narkoba kita kerjasama dengan BNN,” katanya.
“Jadi kerjasama kita lakukan antisipasi misalnya gimana sih kabupaten kota yang banyak terpapar, kita hadirkan di sekolah mereka antisipasi dan sebagainya. Jadi kita hadir berdasarkan isu dan permasalahan di masyarakat,” sambungnya.
Wahyu mengakui, paparan radikalisme di Jawa Barat cukup menyebar. Meski tidak menyebut angka spesifik, kawasan Bandung Raya menjadi salah satu yang menonjol.
“Radikalisme memang cukup menyebar. Untuk daerah paling tinggi itu seperti Bandung Raya cukup besar, beberapa kabupaten kota lain juga, karena memang tersebar dan itu jadi perhatian kita,” ujarnya.
Dipicu Bullying
Menurut Wahyu, pola paparan terhadap anak-anak kini juga berubah. Tidak selalu berawal dari afiliasi ideologis tertentu, tetapi bisa dipicu persoalan sosial di sekolah.
“Anak-anak ini ada pola baru, seperti SMAN 72 Jakarta, itu bukan soal terafiliasi ke salah satu (jaringan), tapi dia melakukan itu karena diawali bullying. Di Jabar ternyata banyak ditemukan kasusnya diawali bullying dan akhirnya mereka sendiri, kemudian ada keinginan untuk balas dendam,” katanya.
Yang lebih mengkhawatirkan, muncul persepsi menyimpang di kalangan remaja terkait aksi ekstrem. Penanganan pun dibedakan antara yang sudah terindikasi dan yang belum.
“Itu yang sudah terindikasi, kami hadirkan sekolah kebangsaan, yang belum terindikasi kami komunikasikan langsung dengan anak-anak dengan sosialisasi. Jadi kehadiran Densus 88, dan komunitas lain untuk menyampaikan,” ujarnya.
Sasar Ruang Digital
Selain faktor pergaulan dan bullying, ruang digital juga menjadi perhatian. Menurutnya, konten kekerasan dapat dengan mudah diakses dan mempengaruhi pola pikir anak.
“Karena di dunia digital sekarang game saja itu bisa mempengaruhi kekerasan. Di Roblox misal, dia memberikan ruang untuk menuangkan keinginan, inspirasinya tanpa batas, bisa jadi kekerasan di situ dan terbaca oleh AI, kalau sukanya kekerasan ya yang masuk semakin banyak soal kekerasan,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa pengaruh negatif tidak hanya datang dari dunia maya, tetapi juga dari lingkungan konvensional. Karena itu, kehadiran ahli dan pendekatan komprehensif dinilai penting agar potensi paparan bisa ditekan sejak dini.
“Makanya kami hadir dengan ahli yang ada supaya anak-anak antisipasi supaya kita bisa terus menjaga kondusifitas di Jabar,” pungkasnya.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.







