Bandung –
Setiap kali kalender lunar mendekati pergantian Tahun Baru China, warna merah menyala dan aksen emas berkilauan mendominasi berbagai tempat, mulai dari toko, kelenteng, hingga pusat perbelanjaan.
Namun, pernahkah terlintas mengapa dua warna ini begitu dominan dan seolah menjadi warna wajib dalam tradisi Tahun Baru Imlek?
Berikut rangkuman mengenai asal-usul penggunaan warna merah dan emas dalam perayaan Imlek, serta maknanya bagi masyarakat Tionghoa.
Sejarah Monster Nian dan Asal-usul Warna Merah
Awal penggunaan warna merah dalam Imlek berakar dari mitologi kuno tentang makhluk mengerikan bernama Nian. Dalam legenda budaya Tiongkok, Nian digambarkan sebagai monster pemangsa ternak dan manusia yang muncul setiap akhir musim dingin.
Masyarakat kuno kemudian menemukan kelemahan Nian. Makhluk tersebut dipercaya sangat takut pada kebisingan dan warna merah yang terang.
Sejak saat itu, tradisi memasang duilian (puisi pada kertas merah), menggantung lampion merah, serta menyalakan petasan mulai dilakukan. Semua simbol tersebut bertujuan mengusir bala dan kesialan yang direpresentasikan oleh sosok Nian.
Secara historis, penggunaan warna merah juga diperkuat pada masa Dinasti Han (206 SM – 220 M). Pada periode ini, merah ditetapkan sebagai warna yang melambangkan keberuntungan sekaligus status sosial tinggi.
Makna Warna Merah bagi Masyarakat Tionghoa
Dalam tradisi Tionghoa, terdapat konsep Wu Xing atau Lima Elemen, yakni Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air. Warna merah dikaitkan dengan elemen Api.
Elemen api melambangkan kebahagiaan, vitalitas, dan gairah hidup. Merah juga dipercaya memiliki energi Yang yang kuat, yang berfungsi menyeimbangkan hawa dingin musim dingin (Yin) sekaligus membawa kehangatan serta kehidupan baru menjelang musim semi.
Karena itu, pemberian angpao berwarna merah bukan sekadar pemberian uang. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol transfer energi positif dan perlindungan dari generasi tua kepada generasi muda agar terhindar dari kesialan, penyakit, dan roh jahat sepanjang tahun.
Makna Warna Emas dalam Perayaan Imlek
Jika merah berperan sebagai pelindung, maka emas dipandang sebagai magnet kemakmuran.
Dalam sejarah Tiongkok, warna kuning keemasan merupakan warna kekaisaran. Pada masa Dinasti Qing, hanya anggota keluarga kerajaan yang diizinkan mengenakan pakaian berwarna kuning emas.
Secara filosofis, emas merepresentasikan elemen Tanah. Elemen ini melambangkan stabilitas, akar yang kuat, serta hasil panen yang melimpah.
Dalam konteks Imlek, warna emas kerap muncul pada huruf Fu (keberuntungan) dan Cai (kekayaan) yang ditulis di atas kertas merah. Kombinasi keduanya dipercaya memperkuat doa akan rezeki dan kesejahteraan.
Simbol Harapan di Balik Merah dan Emas
Merah dan emas bukan sekadar dekorasi musiman. Keduanya merupakan representasi optimisme manusia dalam menghadapi masa depan.
Merah melambangkan keberanian untuk mengusir ketakutan dan kesialan. Sementara emas merepresentasikan harapan akan kemakmuran dan kehidupan yang lebih baik.
Tak heran jika dua warna ini selalu hadir dan menjadi identitas visual yang tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek di berbagai belahan dunia.







