Tasikmalaya –
Menyambut datangnya bulan Ramadan, aktivitas dan mobilitas masyarakat Tasikmalaya mulai menunjukkan peningkatan. Tradisi munggahan rupanya masih melekat di masyarakat sebagai ekspresi kegembiraan menyambut datangnya Ramadan.
Terlebih masa munggahan kali ini berbarengan dengan libur panjang atau cuti bersama Imlek, sehingga tak heran jika sejumlah tempat mulai ramai dikunjungi warga.
Salah satu tempat wisata yang diserbu masyarakat adalah objek wisata Situgede di Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya. Pantauan pada Senin (16/2/2026) siang, kawasan wisata danau Situgede ini ramai dikunjungi. Antrean kendaraan di gerbang masuk serta keramaian di warung-warung makan, menjadi penanda peningkatan jumlah pengunjung ke Situgede.
Salah satu menu khas wisata Situgede adalah ikan bakar. Racikan ikan nila bakar di warung makan sekitar Situgede sudah terkenal kelezatannya.
Kelezatan ikan bakar ini berasal dari bumbu yang kaya serta kualitas ikan yang masih segar dan diolah dadakan. Ramainya pengunjung membuat kepulan asap pembakaran ikan acap kali tercium kuat dan menggugah selera.
Di titik lain, kumpulan warga juga terlihat menggelar tikar di pinggiran danau dan membuka bekal makan dari rumah. Mereka menggelar botram sambil menikmati suasana asri danau Situgede.
“Ya munggahan dong, kan kita harus bergembira menyambut Ramadan, kita ekspresikan dengan makan bersama keluarga,” kata Yusep Holis (50), warga Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya.
Munggahan di tepi danau Situgede, Tasikmalaya Foto: Faizal Amiruddin/ |
Dia yang datang bersama rombongan keluarga, mengaku memilih munggahan ke Situgede karena relatif dekat dan murah meriah.
“Sabondoroyot (satu keluarga besar), 15 orang. Alhamdulillah nikmat, makan bersama keluarga. Bawa bekal sebagian dari rumah, ikan bakarnya beli sebagian. Murah meriah,” kata Yusep.
Dia mengaku terkesan dengan kondisi Situgede yang cukup tertata dan ramai pengunjung. Jasa penyewaan perahu juga menurut dia semakin tertib. Hanya saja dia memberi catatan pada kondisi akses jalan yang masih banyak kerusakan.
“Sayangnya akses jalan dari dulu selalu rusak, mungkin itu masukannya,” kata Yusep.
Agus Kamil, salah seorang pegawai pengelola objek wisata Situgede mengatakan sejak akhir pekan lalu lonjakan jumlah pengunjung mulai terjadi.
“Pengunjung mulai berdatangan dari berbagai daerah, meningkat hampir 60 persen,” kata Agus. Ia menambahkan, tiket masuk wisata Situgede adalah Rp5 ribu per orang.
Dia berharap prediksi H-1 Ramadan, pengunjung bisa semakin banyak. “Mudah-mudahan cuaca mendukung, kalau hujan memang berpengaruh, pengunjung sepi,” kata Agus.
Dia membenarkan Situgede jadi destinasi favorit untuk munggahan karena suasananya cocok untuk kegiatan makan bersama dan bercengkerama. “Nyaman untuk makan bersama, lingkungan sejuk, danau luas, angin sepoi-sepoi. Pasti betah berlama-lama di sini,” kata Agus.
Dia mengatakan sejak beberapa bulan lalu pihaknya sudah melarang penggunaan klakson telolet bagi penyedia jasa perahu. Kebijakan ini bertujuan untuk mendukung suasana tenang kawasan danau. Selain itu kebisingan telolet juga ditengarai memberi efek negatif bagi ekosistem. Suara klakson berirama itu diduga bisa membuat burung-burung kabur.
“Memang di satu sisi telolet di perahu menjadi daya tarik, tetapi di sisi lain ada efek negatif. Setelah berembuk, akhirnya kami sepakat meniadakan telolet di perahu,” kata Agus.
Pasar dan TPU Mulai Ramai
Selain objek wisata, peningkatan pengunjung juga terjadi di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya. Kepadatan terpantau di pasar induk ini pada Sabtu pagi. Warga tampak ramai, terutama di blok ikan dan daging. Di tengah kondisi becek, pengunjung terlihat hilir mudik.
“Jika besok takut penuh, lebih baik sekarang membeli dagingnya,” kata Euis Mardiani (70) yang terlihat membawa daging ayam. Dia mengaku mendapatkan daging ayam broiler itu seharga Rp42 ribu. “Mulai naik, ayam biasa Rp39 ribu atau Rp40 ribu, sekarang Rp42 ribu sekilo. Kalau daging sapi Rp140 ribu sekilo, tapi beli sedikit saja, hanya untuk membuat sayur sop,” kata Euis.
Sementara itu di TPU Cieunteung dan TPU Cinehel, para pedagang bunga mulai bermunculan. Mereka bersiap menyambut para peziarah yang biasanya ramai menjelang Ramadan.
“Sejak Jumat kemarin sudah mulai ramai, saya juga dagang sejak Jumat,” kata Atik, pedagang bunga musiman di TPU Cinehel.
Potongan kelopak aneka bunga, daun pandan, serta sebotol air untuk ditabur di atas pusara, dijual seharga Rp10 ribu. “Mau beli Rp5 ribu juga bisa,” kata Atik.
“








