Bandung –
Menjelang pergantian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, Vihara Dharma Ramsi yang menjadi salah satu ikon di Kota Bandung mulai bersolek. Rangkaian persiapan khidmat digelar untuk menyambut umat serta pengunjung yang diprediksi datang dari berbagai penjuru daerah.
Meski kesibukan mulai meningkat, pihak pengelola memastikan perayaan tetap mengedepankan kesederhanaan ritual, selaras dengan tradisi tahun-tahun sebelumnya.
“Untuk besok kita persiapan sih tidak ada yang spesial untuk tahun ini. Kita seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Chandra Hartono (52), seorang relawan di Vihara Dharma Ramsi saat berbincang dengan, Minggu (15/2/2026).
Langkah awal menyambut tahun baru dimulai dengan pembersihan rupang atau patung dewa. Bagi umat, ritual ini bukan sekadar aktivitas fisik membersihkan debu, melainkan simbolisasi penyucian hati dan jiwa sebelum melangkah ke tahun yang baru.
“Kita sewaktu tanggal 12 kemarin kita udah bersih-bersih rupang. Rupang ini patung dewa,” ucap Chandra.
Setelah area altar dipastikan bersih, fokus beralih pada instalasi penerangan utama. “Kita udah bersihin semua lalu persiapan pasang lilin di depan,” tambahnya.
Pada malam perayaan nanti, Vihara Dharma Ramsi akan menyuguhkan momen refleksi melalui cahaya lilin. Puncak acara dijadwalkan mulai menjelang tengah malam dengan prosesi yang dramatis namun penuh kedamaian.
“Besok malam kita jam 11 malam ada nyala lilin. Lalu setelah itu kita ada kayak suasana candlelight,” tutur Chandra.
Keunikan ritual ini terletak pada pemadaman seluruh cahaya lampu utama di vihara. “Kurang lebih 5 sampai 10 menit. Jadi setelah dinyalakan jam 11 malam kita padamin semua lampu. Jadi cuma nyala dari lilin yang di depan,” pungkasnya.
Selain ritual ibadah, Vihara Dharma Ramsi tetap teguh mempertahankan adat kuliner warisan leluhur. Sajian wajib berupa bubur kacang hijau dan ketan hitam disiapkan sebagai simbol doa dan harapan bagi setiap pengunjung.
“Kebudayaan kita setiap malam Imlek itu ada kacang hijau dan ketan hitam. Nah itu tuh ada filosofinya jadi waktu dari zaman dulu di sini tuh adatnya begitu setiap malam Imlek harus ada itu,” ungkap Chandra.
Menurutnya, menu sederhana ini membawa pesan moral yang mendalam tentang keharmonisan. “Pesan dari leluhur kita, artinya itu kebersamaan lalu manis-manis gitu loh,” jelasnya.
Sebagai cerminan keterbukaan warga Bandung, vihara ini tidak hanya eksklusif bagi umat yang beribadah. Masyarakat umum pun dipersilakan hadir untuk merasakan langsung atmosfer tahun baru China.
“Kita sangat terbuka untuk malam Imlek. Jadi seperti open house. Siapapun boleh datang,” tegas Chandra.
Ia mengungkapkan, antusiasme masyarakat cukup tinggi, terbukti dari banyaknya rombongan luar kota yang telah mengonfirmasi kedatangan. “Sudah ada beberapa surat yang masuk. Ini dari cerita dia mau 30 orang datang ke sini, lalu ada dari Jakarta grup 70 orang,” tambahnya.
Guna menyambut para tamu, pihak vihara menyediakan jamuan gratis sepanjang malam sebagai bentuk pelayanan. “Jangan takut enggak ada makanan. Kita di sini kopi free flow di depan. Pokoknya ada mie juga, ada gorengan juga, kita free flow deh untuk makanan,” kata Chandra.
Bagi warga Bandung maupun wisatawan yang berencana hadir, Chandra memberikan panduan agar kunjungan tetap nyaman. Mengingat kepadatan yang kerap terjadi, pengunjung disarankan menyesuaikan waktu kedatangan.
“Kita mulai load biasa sekitar jam 07.00 tapi puncaknya itu jam 11.00 sampai jam 01.00,” jelasnya mengenai jam operasional puncak. Pengelola pun menegaskan tidak ada pembatasan kuota bagi pengunjung. “Enggak ada (kuota). Kita sih free pokoknya mau datang berapapun,” imbuh Chandra.
Mengingat lokasi vihara berada di kawasan padat, pengaturan kendaraan menjadi perhatian serius para relawan. Chandra memberikan panduan khusus mengenai kantong parkir guna menghindari kemacetan di sekitar lokasi.
“Untuk parkir kalau mobil biasa di Cibadak, kalau motor kita masuk ke lapangan sebelah, sebelum belok ke kiri maju sedikit ada lapangan sebelah kiri. Nah, itu kita sudah siapkan untuk kantong parkir di situ dan di SD,” terangnya.







