Indramayu –
Di tengah gempuran jajanan kekinian yang terus bermunculan, blengep cotot tetap bertahan sebagai kudapan manis khas Indramayu yang setia menemani lidah penikmatnya. Makanan tradisional berbahan dasar singkong dengan isian gula merah ini masih memiliki tempat tersendiri, meski keberadaan penjualnya kini kian jarang.
Di Desa Muntur, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, hanya segelintir orang yang masih setia menjajakan blengep cotot. Salah satunya adalah Tiwen (45), perempuan dengan tiga anak yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari kudapan tradisional tersebut.
Saat ditemui belum lama ini, Tiwen tampak sibuk melayani pembeli di pertigaan jalan desa. Ia mulai berjualan sejak siang hingga sore hari. Pada hari-hari tertentu, seperti saat ada pasar desa, ia memilih mangkal. Sementara di hari biasa, ia berkeliling dari satu kampung ke kampung lain.
“Hari ini lagi ada pasar makanya saya berjualan di sini, kalau hari biasa saya keliling desa,” ucapnya.
Dari berjualan blengep cotot dan kudapan singkong lainnya, Tiwen bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp200 ribu per hari. Angka itu bisa meningkat jika ia mendapat pesanan untuk acara tertentu.
“Saya berjualan dari siang sampai habis. Lumayan untuk sehari-hari. Kalau lagi rezekinya mah, saya dapat pesanan untuk acara Rajaban dan lain-lain, lumayan satu pesanan bisa Rp200 ribu,” kata dia.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Blengep Cotot Jajanan Lawas di Indramayu Foto: Burhannudin/ |
Tiwen menjual satu porsi blengep cotot seharga Rp5 ribu. Dalam satu porsi tersebut, pembeli sudah mendapatkan empat buah blengep cotot. Selain itu, ia juga menjajakan geblog kocar-kacir, kudapan tradisional Indramayu lain yang sama-sama berbahan dasar singkong.
Siang itu, pembeli silih berganti datang. Salah satunya Sawiyan (53), warga setempat yang tampak antusias membeli satu porsi blengep cotot dan satu porsi geblog kocar-kacir.
“Lagi pengin jajan yang manis-manis, kebetulan saya habis makan siang,” ujar Sawiyan sembari tersenyum.
Baginya, rasa manis gula Jawa yang lumer di dalam blengep cotot menjadi daya tarik utama yang membuatnya ketagihan.
Tak lama kemudian, pembeli lain berdatangan. Watinih (32), warga desa setempat, turut mengantre untuk membeli blengep cotot buatan Tiwen. Berbeda dengan Sawiyan, Watinih memiliki alasan tersendiri.
Ia mengaku tengah menjalani program diet dan menghindari konsumsi nasi di siang hari. Blengep cotot menjadi alternatif camilan yang mengenyangkan.
“Saya kalau siang lagi nggak makan nasi, biasanya makan blengep karena bikin kenyang,” katanya.
Watinih yang sudah berkali-kali menikmati kudapan ini menyebut, kelezatan blengep cotot justru tersembunyi di balik tampilannya yang sederhana.
“Dari luar kelihatannya biasa saja, warnanya putih kecoklatan. Tapi ternyata di dalamnya ada gula Jawa yang lumer. Itu enak banget,” ungkap Watinih dengan antusias.
Asal-usul Nama Blengep Cotot
Di balik rasanya yang manis dan teksturnya yang legit, blengep cotot menyimpan keunikan tersendiri dari sisi penamaannya. Nama kudapan ini ternyata lahir dari pengalaman saat menyantapnya.
Tiwen menjelaskan, blengep cotot berasal dari tiga kata, yakni bleng, lep, dan cotot. Ketiganya menggambarkan proses saat makanan tersebut disantap.
“Kalau kata orang tua sih, ‘bleng’ tuh dilempar ke mulut, ‘lep’ berarti mulut menutup/melahap, dan cotot itu gula Jawa lumer keluar dari dalam makanan saat digigit dan membasahi lidah, seperti muncrat,” jelas Tiwen.
Blengep Cotot Jajanan Lawas di Indramayu Foto: Burhannudin/ |
Seiring waktu, istilah tersebut menyebar dari mulut ke mulut hingga dikenal luas di berbagai pelosok Bumi Wiralodra. Sejak saat itu, nama blengep cotot pun melekat dan menjadi sebutan khas untuk kudapan tradisional ini.
Di tangan Tiwen dan para penjual yang tersisa, blengep cotot bukan sekadar jajanan, melainkan jejak rasa, cerita, dan tradisi yang terus dijaga agar tak hilang ditelan zaman.









