Duh! Sampah Berjejer di Jalur Wisata Pantai Cipatuguran Sukabumi

Posted on

Sukabumi

Persoalan sampah di jalur wisata Pantai Cipatuguran, Jalan Pelita, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kian pelik.

Pada Kamis (12/2/2024), tumpukan limbah rumah tangga di akses utama menuju PLTU Jabar 2 tersebut terlihat semakin tidak terkendali. Sampah memanjang hingga memenuhi bahu jalan, tepat di sisi pagar pembatas pantai.

Kondisi kumuh ini sangat kontras dengan pemandangan laut lepas di sebelahnya. Zakaria Dinata, warga Kampung Rawakalong, Cipatuguran, menyebut kondisi saat ini jauh lebih parah dibandingkan sebelumnya.

Saking panjangnya, ia mengumpamakan tumpukan sampah tersebut layaknya rangkaian gerbong kereta api.

“Kondisinya sekarang lebih panjang, jadi mirip kereta (jurusan) Sukabumi-Bogor,” ungkap Zakaria saat ditemui di lokasi.

Tak hanya merusak estetika, aroma busuk yang menyengat kian menyiksa warga dan pengguna jalan, terutama saat cuaca berubah drastis dari hujan ke panas.

Zakaria mengaku beban mental yang dirasakannya bukan sekadar bau, melainkan rasa malu karena jalur tersebut merupakan akses utama yang ramai dilintasi wisatawan.

“Ini kan jalur wisata, warga banyak mengeluh, wisatawan juga. Melihatnya dan mendengar komentar mereka, saya jadi malu,” tuturnya.

Kekhawatiran kian bertambah karena sampah mulai meluber melewati pembatas dan jatuh ke bibir pantai. Zakaria mengaku kerap turun tangan memunguti sampah agar tidak terseret ombak ke tengah laut.

Sampah berjejer di jalur wisata Pantai Cipatuguran, Sukabumi.Sampah berjejer di jalur wisata Pantai Cipatuguran, Sukabumi. (Foto: Syahdan Alamsyah/)

Penjelasan DLH Kabupaten Sukabumi

Merespons keluhan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi angkat bicara. Sekretaris DLH Kabupaten Sukabumi, Nuryamin, tidak menampik kondisi penumpukan sampah di Cipatuguran tersebut.

Nuryamin menjelaskan, akar masalah dari tumpukan sampah yang ‘mengular’ itu adalah krisis armada pengangkut. Jumlah truk sampah yang dimiliki DLH saat ini dinilai sangat jauh dari kata ideal untuk melayani wilayah Kabupaten Sukabumi yang begitu luas.

“Kami armada terbatas. Hitungan kami, kebutuhan ideal armada se-Kabupaten itu 250 unit. Saat ini kami hanya punya 54 unit, itu pun 7 unit dalam kondisi rusak,” ujar Nuryamin kepada, Kamis.

Akibat minimnya armada, DLH terpaksa menerapkan sistem rotasi jadwal pengangkutan. Hal inilah yang menyebabkan sampah di titik Cipatuguran tidak bisa diangkut setiap hari secara rutin, sehingga menumpuk di jeda waktu pengangkutan.

“Karena keterbatasan tadi, jadwalnya jadi berputar (rotasi), tidak bisa standby tiap hari rutin di satu titik. Itu barangkali yang menyebabkan sampah menumpuk,” jelasnya.

Keterbatasan Layanan

Nuryamin menambahkan, keterbatasan ini membuat cakupan layanan kebersihan belum merata. Dari 47 kecamatan yang ada, baru 36 kecamatan yang dapat terlayani.

Bahkan di Palabuhanratu yang berstatus sebagai ibu kota kabupaten, belum semua jalur protokol dapat terjangkau sepenuhnya.

“Di Palabuhanratu saja belum semua terlayani. Namun, di tengah keterbatasan itu, kami tetap berupaya mengoptimalkan fungsi layanan dan tidak menyerah,” tegasnya.

Selain kendala armada, Nuryamin juga menekankan pentingnya keberadaan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) resmi serta kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan di bahu jalan.