Bandung –
Jagat maya di Garut mendadak riuh sejak Selasa (10/2/2026). Sebuah kabar mencekam tentang dugaan penculikan anak sekolah dasar (SD) menyebar cepat dari satu layar ponsel ke layar lainnya. Hal itu memicu keresahan di kalangan orang tua.
Isu tersebut bermula dari unggahan di media sosial yang menarasikan dua bocah diculik dari lingkungan sekolah mereka di kawasan Kecamatan Cilawu. Kabar itu kian liar saat menyentuh platform Facebook.
“Hati hati yang punya anak sekolah, ini barusan ada korban penculikan dari pesantren Annur Cilawu sudah sampai di Alun-alun Garut, untung korban bisa kabur waktu di jalan macet,” demikian narasi isu penculikan tersebut, dalam unggahan warganet di Facebook.
Tak hanya teks, sebuah rekaman video amatir yang diperoleh memperlihatkan suasana di kawasan Alun-alun Garut. Dalam video itu, dua pelajar SD tampak duduk dengan raut wajah tegang, dikelilingi sejumlah personel Satpol PP.
Dialog yang terekam dalam video tersebut menambah bumbu dramatis. Kepada petugas yang mengerumuninya, sang bocah mengaku telah diculik oleh tiga pria dewasa yang mengendarai mobil berwarna hitam.
Video itu pun ‘meledak’. Dalam waktu singkat, potongan visual tersebut menghiasi status WhatsApp warga Garut hingga berbagai grup komunitas, menciptakan gelombang kekhawatiran massal.
Namun, tabir gelap itu segera tersingkap setelah personel Satpol PP menyerahkan kedua bocah tersebut ke pihak kepolisian. Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Joko Prihatin, turun tangan langsung memberikan klarifikasi untuk meredam kegaduhan.
“Jadi itu kejadiannya pagi tadi di Alun-alun Garut dan kami pastikan isu penculikan itu tidak benar adanya,” ungkap Joko.
Penyelidikan mendalam yang dilakukan petugas mengungkap fakta yang jauh dari kesan heroik. Alih-alih menjadi korban kejahatan, kedua bocah tersebut ternyata sedang terjebak dalam skenario bohong yang mereka ciptakan sendiri.
Faktanya, kedua pelajar ini memilih untuk bolos sekolah pagi itu. Mereka menghabiskan waktu dengan berkelana ke beberapa tempat, mulai dari area pemakaman hingga menumpang angkutan kota, sebelum akhirnya terdampar di Alun-alun Garut.
Langkah mereka terhenti saat personel Satpol PP yang sedang bertugas mencurigai keberadaan anak sekolah yang keluyuran di jam pelajaran. Karena didera rasa takut akan amarah orang tua akibat bolos, salah satu bocah secara spontan mengarang cerita penculikan.
“Pengakuannya diculik oleh tiga orang bapak-bapak, kemudian diturunin di Alun-alun Garut. Padahal itu tidak benar dan penculikan itu tidak pernah terjadi,” ungkap Joko.
Polisi bergerak cepat dengan memanggil orang tua kedua bocah tersebut ke kantor polisi. Setelah diberikan pengertian dan dimintai keterangan, kedua anak itu akhirnya dipulangkan ke rumah masing-masing untuk mendapatkan pembinaan lebih lanjut dari keluarga.
Di akhir penjelasannya, Joko memberikan pesan tegas kepada masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi di media sosial.
“Kami mengimbau agar masyarakat tidak cepat menyebarkan informasi yang belum teruji kebenarannya, karena dapat menimbulkan dampak kecemasan di tengah-tengah masyarakat. Kami pastikan isu penculikan ini tidak benar,” pungkas Joko.







